Menabuh Genderang Perlawanan Terhadap Aktivis, Pemerintahan FAM-SAH di Tengah Alang-Alang Kering -->

Header Menu

Menabuh Genderang Perlawanan Terhadap Aktivis, Pemerintahan FAM-SAH di Tengah Alang-Alang Kering

Admin Global
Friday, 5 June 2026

Oleh : Gahral Umasugi, S.IP

WARTAREPUBLIK.COM - Kekuasaan di Kabupaten Kepulauan Sula tampaknya mulai kehilangan arah dan nalar sehatnya. Ketika kritik objektif dibalas dengan represi, dan ruang demokrasi disumbat oleh arogansi, penguasa lokal sejatinya sedang mengumumkan permusuhan terbuka terhadap rakyatnya sendiri. 

Tindakan membungkam gerak kritis Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kepulauan Sula bukan lagi sekadar dinamika politik biasa. Ini adalah kepongahan nyata yang membunyikan genderang perlawanan terhadap akal sehat dan keadilan.

Upaya mengajak perang terhadap gerakan mahasiswa di tanah Sula adalah kesalahan fatal rezim. Mereka lupa bahwa penindasan tidak akan pernah melahirkan ketakutan, melainkan memadatkan solidaritas. 

Di tengah momentum hari jadi daerah, ketika penguasa sibuk bersolek dengan kemegahan seremonial, jeritan ketimpangan justru sengaja disembunyikan di balik karpet merah kekuasaan. Langkah represif aparat dan intimidasi struktural ini sejatinya sedang memantik percikan api perlawanan di tengah alang-alang kering di padang tandus. Sula yang kini dirundung dahaga akan transparansi adalah hamparan yang siap berkobar. 

Sedikit saja kesewenang-wenangan digoreskan pada kader IMM, maka percikan itu akan meluas menjadi gelombang kemarahan massa yang membakar habis benteng keangkuhan rezim.

Ketegasan IMM Sula dalam mengawal kasus hukum seperti desakan penuntasan kasus korupsi Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) pada Belanja Tidak Terduga (BTT) Tahun 2019 adalah bukti bahwa nalar kritis tidak bisa dibeli atau ditakut-takuti. 

Alih-alih memberikan jawaban konkret dan pembersihan birokrasi, elite kekuasaan justru mempertontonkan watak anti-kritik. Teriakan kebenaran kader IMM dari atas Benteng De Verwachting di tengah upacara daerah adalah simbol bahwa kebenaran akan selalu mencari jalannya sendiri untuk mengguncang singgasana yang nyaman.

IMM Kepulauan Sula, sebagai benteng intelektual kaum mustad'afin (kaum tertindas), tidak akan mundur selangkah pun. Tekanan dari penguasa justru menjadi bahan bakar yang mematangkan mental juang para kader.

Di tengah padang tandus keadilan di daerah ini, api perlawanan mahasiswa adalah oase terakhir bagi harapan rakyat Kabupaten Kepulauan Sula. 

Ini adalah peringatan keras bagi para pemangku kebijakan di Kepulauan Sula jangan pernah menantang badai jika hanya berbekal ilusi kekuasaan yang fana, karena gelombang perubahan tidak akan pernah bisa dibendung oleh tembok kekuasaan yang rapuh.