Oleh: Riski Ikra, Ketua Umum PK IMM FAPERTA UMMUTernate, WartaRepublik.Com - Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) tidak hanya dikenal sebagai organisasi yang lahir dari Persyarikatan Muhammadiyah, tetapi juga merupakan tempat untuk membentuk kader yang memiliki tujuan mulia: menghasilkan mahasiswa yang beriman, berpengetahuan, dan beramal dalam kehidupan sehari-hari. IMM lebih dari sekadar wadah organisasi yang fokus pada rapat, diskusi, dan kegiatan administratif; ini adalah komunitas yang menyatukan jiwa-jiwa muda sehingga mereka dapat belajar, berkembang, dan berjuang bersama. IMM muncul karena kesadaran bahwa mahasiswa memiliki peran sebagai agen perubahan dan bukan hanya sebagai penonton dalam pergerakan bangsa. IMM membawa citra Islam yang terintegrasi dengan gerakan intelektual dan sosial.
Dalam perjalanan panjang IMM, satu hal yang sangat penting adalah keberadaan "Immawati," yaitu perempuan-perempuan kuat yang menjadi jiwa organisasi. Keberadaan Immawati bukan hanya pelengkap atau hiasan dalam dinamika IMM; organisasi ini dibangun atas prinsip kesetaraan, keadilan, dan perjuangan bersama. Di balik pencapaian IMM yang kita rasakan hari ini, terdapat kontribusi Immawati yang sering terabaikan. Mereka hadir bukan hanya sebagai peserta dalam rapat atau pelaksana kegiatan, tetapi sebagai penggerak yang memastikan IMM tetap hidup, dinamis, dan terhubung dengan nilai-nilai Muhammadiyah.
Sering kita mendengar ungkapan, “IMM ada di hati karena ada Immawati. ” Kalimat ini, meskipun tampak sederhana, menyimpan makna mendalam. Immawati adalah simbol kelembutan dan keteguhan dalam organisasi. Mereka adalah sosok yang dapat menggabungkan rasionalitas gerakan mahasiswa dengan sentuhan keikhlasan yang hanya dapat dirasakan melalui hati. Ketika mahasiswa baru bertanya, “Mengapa saya harus bergabung dengan IMM? Apa yang membuat IMM berbeda dari organisasi lain? ” jawaban yang muncul tidak terlepas dari peran Immawati yang menjadi contoh nilai-nilai luhur, keikhlasan dalam pengabdian, dan keteguhan dalam menjaga martabat organisasi.
Namun, di balik semua itu, terdapat dinamika yang harus kita renungkan. Banyak kasus dalam organisasi mahasiswa, termasuk IMM, menunjukkan bagaimana Immawati sering kali menjadi korban prasangka gender atau bahkan penindasan yang tersembunyi. Dengan alasan “belajar” atau “proses organisasi,” ada perempuan yang seringkali terpinggirkan, suara mereka tidak didengar, atau diperlakukan sebagai simbol tanpa mendapatkan kesempatan yang setara dalam kepemimpinan. Padahal, sejarah Muhammadiyah menunjukkan bahwa peran perempuan sangat penting. Kita mengenal Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan, yang dalam sejarah bukan hanya sekadar pendamping, tetapi juga sebagai pejuang yang memperjuangkan nilai-nilai Islam dan mencerahkan umat. IMM seharusnya merefleksikan warisan tersebut dan menjadikan Immawati sebagai mitra sejajar dalam perjuangan, bukan hanya sebagai pengikut yang berada di belakang layar.
Fenomena lain yang sering terjadi adalah bagaimana hubungan pribadi, terutama dalam pacaran, dalam suatu organisasi terkadang dapat menghasilkan efek yang merugikan. Seharusnya, organisasi berfungsi sebagai tempat belajar, mengembangkan pemikiran, dan melatih kemampuan kepemimpinan. Namun, ketika hubungan pribadi antar anggota, khususnya antara Immawan dan immawati, melewati batas, organisasi seringkali kehilangan jati dirinya. Ada kalanya kita mendengar cerita tentang immawati yang tiba-tiba menghilang dari lingkungan organisasi hanya karena konflik pribadi dengan pasangan. Hal ini tentunya sangat disayangkan. Sebab, organisasi yang semestinya menjadi arena pengembangan diri justru berubah menjadi tempat konflik emosional. Ini tidak berarti kita menolak adanya cinta di antara para kader, karena cinta adalah kodrat, namun IMM harus dapat memberikan batasan yang jelas: organisasi harus dicintai terlebih dahulu sebelum individu di dalamnya.
Dalam hal ini, ada sebuah pesan dari seorang immawati hebat di IMM Kota Ternate, Nadia Narto, yang sangat relevan untuk dipikirkan. Ia pernah mengatakan, “Cintailah organisasi terlebih dahulu, baru orangnya. ” Pesan sederhana ini sebenarnya menyiratkan filosofi perjuangan yang mendalam. Organisasi adalah rumah bersama. Jika rumah tersebut runtuh karena kepentingan pribadi, maka semua yang ada di dalamnya akan hancur. Namun, jika rumah itu dirawat, diperkuat, dan dicintai, maka setiap yang ada di dalamnya akan menemukan tempat berkembang yang sehat. IMM tidak boleh runtuh hanya karena konflik pribadi di antara kader, apalagi masalah cinta. IMM harus tetap kokoh sebagai wadah pembelajaran, dan immawati harus berperan aktif dalam menjaga kekokohan rumah besar bernama organisasi IMM ini.
Dalam sejarah Islam, kita mengenal sosok perempuan yang sangat kuat, bahkan lebih kuat daripada banyak laki-laki pada zamannya. Khadijah binti Khuwailid, misalnya, merupakan penyokong utama dakwah Nabi Muhammad SAW. Siti Aisyah menjadi sumber pengetahuan, meriwayatkan ribuan hadis dan menjadi guru bagi generasi selanjutnya. Dalam konteks Muhammadiyah, kita melihat Nyai Ahmad Dahlan yang tidak hanya mendampingi Ahmad Dahlan, tetapi juga melahirkan gerakan ‘Aisyiyah yang hingga kini menjadi tonggak penting perjuangan perempuan dalam Islam. Immawati IMM hari ini adalah penerus dari semua jejak tersebut. Mereka tidak hanya sekadar mahasiswa yang hadir dalam rapat-rapat organisasi, tetapi bagian dari rangkaian panjang sejarah perjuangan Islam dalam Muhammadiyah. Oleh karena itu, menempatkan immawati pada posisi yang setara bukan hanya tanggung jawab moral, tetapi juga tuntutan sejarah.
IMM harus dimaknai sebagai ruang untuk membentuk diri, bukan hanya sebagai tempat mencari pasangan hidup. IMM adalah wadah untuk melatih diri menjadi individu yang berilmu dan beramal, bukan sekadar tempat untuk meluapkan emosi pribadi. Oleh karena itu, keberadaan immawati di dalamnya harus dijaga kehormatannya. Mereka adalah simbol bahwa organisasi ini bukan hanya milik Immawan, tetapi milik semua yang berkomitmen untuk memperjuangkan Islam yang maju. Jika immawati ditekan, diperkecil, atau dijadikan korban dalam relasi kekuasaan di organisasi, yang akan hancur bukan hanya individu, tetapi juga IMM sebagai gerakan itu sendiri.
Mahasiswa baru tahun 2025, khususnya di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU), yang nantinya akan bergabung dengan IMM, perlu menyadari bahwa mereka telah masuk ke dalam sebuah organisasi yang memiliki sejarah panjang, nilai-nilai yang mulia, dan tujuan yang besar. Penting bagi mereka untuk menyadari bahwa IMM adalah sebuah organisasi yang mengembangkan kader, bukan sekadar organisasi yang tidak serius. IMM merupakan tempat perjuangan yang dibangun di atas dasar ilmu pengetahuan, iman, dan ketulusan. Di dalam organisasi ini, terdapat kesempatan untuk mempelajari retorika, memperdalam pemikiran, mengembangkan kepemimpinan, dan bertumbuh menjadi pribadi yang utuh. Namun, semua itu hanya dapat terwujud jika martabat IMM dijaga, dan salah satu cara untuk melindunginya adalah dengan menempatkan immawati di posisi yang terhormat.
Dalam konteks ini, terdapat sebuah pesan yang sangat berarti dari seorang immawati yang luar biasa di IMM Kota Ternate, bernama Nadia Narto, yang penting untuk dipikirkan. Ia pernah menyatakan, “Cintailah organisasi terlebih dahulu sebelum mencintai orangnya. ” Ungkapan singkat ini sebenarnya menyimpan makna perjuangan yang dalam. Organisasi adalah rumah bagi kita semua. Apabila rumah itu rusak karena kepentingan individu, maka semua yang terdapat di dalamnya akan ikut terdampak. Namun, jika rumah tersebut dirawat, diperkuat, dan dicintai, maka semua orang yang ada di sana akan mendapatkan kesempatan untuk berkembang dengan baik. IMM tidak seharusnya goyah hanya karena adanya perselisihan pribadi antar kader, terlebih lagi jika menyangkut masalah percintaan. IMM harus tetap kokoh sebagai tempat untuk belajar, dan immawati harus berperan aktif dalam menjaga kekokohan rumah besar yang disebut organisasi IMM ini.
Dalam sejarah Islam, kita mengenal perempuan-perempuan tangguh, bahkan lebih kuat daripada banyak laki-laki di masa mereka. Contohnya, Khadijah binti Khuwailid menjadi penopang utama dalam dakwah Nabi Muhammad SAW. Siti Aisyah dikenal sebagai sumber ilmu pengetahuan, meriwayatkan ribuan hadis, dan menjadi pengajar bagi generasi setelahnya. Dalam konteks Muhammadiyah, kita melihat Nyai Ahmad Dahlan yang tidak hanya mendampingi suaminya, tetapi juga mendirikan gerakan ‘Aisyiyah, yang hingga kini menjadi tonggak penting dalam perjuangan perempuan di Islam. Immawati IMM saat ini adalah penerus dari semua jejak sejarah tersebut. Mereka bukan hanya mahasiswa yang hadir dalam rapat organisasi, tetapi bagian dari rangkaian panjang perjuangan Islam dalam Muhammadiyah. Oleh karena itu, memberikan posisi setara kepada immawati bukan hanya merupakan tanggung jawab moral, melainkan juga perintah dari sejarah.
IMM harus dimaknai sebagai ruang untuk mengembangkan diri, bukan hanya tempat mencari pasangan hidup. IMM adalah lokasi untuk melatih diri menjadi individu yang berpengetahuan dan beramal, bukan sekadar arena untuk meluapkan emosi pribadi. Oleh karena itu, keberadaan immawati di dalam organisasi ini harus dijaga dengan baik. Mereka adalah simbol bahwa organisasi ini bukan hanya milik Immawan, tetapi juga milik semua yang berkomitmen untuk memperjuangkan Islam yang berkemajuan. Jika immawati mengalami penindasan, dipandang rendah, atau menjadi korban dari hubungan kuasa di dalam organisasi, maka yang rusak tidak hanya individu itu, tetapi juga IMM sebagai gerakan.
Mahasiswa baru di tahun 2025, terutama yang berada di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU), yang akan bergabung dengan IMM, perlu memahami bahwa mereka masuk ke dalam organisasi yang kaya sejarah, nilai-nilai yang mulia, dan cita-cita besar. Mereka harus menyadari bahwa IMM adalah organisasi kader, bukan sekadar organisasi biasa. IMM adalah rumah perjuangan yang dibangun atas dasar keilmuan, keimanan, dan ketulusan. Di dalamnya terdapat ruang untuk mempelajari retorika, mendalami pemikiran, mengasah kepemimpinan, dan berproses menjadi manusia yang utuh. Namun, semua itu hanya bisa terwujud jika IMM dijaga martabatnya, dan salah satu cara untuk menjaganya adalah dengan memberikan posisi terhormat kepada immawati.
Seiring dengan perubahan zaman, tantangan yang dihadapi oleh IMM semakin sulit. Globalisasi, kemajuan teknologi, dan perubahan budaya di kalangan mahasiswa menuntut agar IMM bisa beradaptasi. Namun, proses adaptasi tersebut tidak boleh membuat IMM kehilangan identitasnya. IMM harus tetap berpegang pada prinsip-prinsip Islam, menjadikan dakwah dan intelektualitas sebagai inti, serta memelihara kebersamaan antara Immawan dan immawati sebagai dasar yang kuat. Organisasi ini tidak seharusnya runtuh karena masalah sepele seperti konflik pribadi. IMM harus tetap berdiri kokoh karena ia bukan hanya sekadar organisasi di kampus, tetapi juga bagian dari gerakan besar Muhammadiyah yang telah berusia lebih dari seratus tahun.
Immawati di IMM bukan sekadar wanita biasa. Mereka adalah generasi penerus Siti Walidah, yang diharapkan dapat menyebarkan semangat Islam yang progresif di masyarakat. Mereka membuktikan bahwa IMM bukanlah organisasi yang hanya untuk pria, melainkan lembaga yang menghargai kesetaraan. Untuk itu, ungkapan “IMM ada di hati karena ada immawati” sangat berarti. Kalimat tersebut menyiratkan bahwa tanpa immawati, IMM akan menjadi pincang. Kehilangan immawati berarti kehilangan salah satu kekuatan utama dalam perjuangannya. Tanpa mereka, IMM akan kekurangan kelembutan, kepedulian sosial, dan prinsip moral yang kuat.
Pada akhirnya, IMM harus memperkuat nilai-nilai Muhammadiyah sesuai dengan warisan yang ditinggalkan oleh Ahmad Dahlan dan Siti Walidah. IMM tidak hanya sebatas tempat diskusi intelektual, tetapi juga area untuk menegakkan keadilan, membela kaum yang tertindas, serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Immawati berada pada posisi krusial dalam semua aspek tersebut. Mereka bukan hanya sebagai anggota, tetapi juga penentu arah perjuangan. Mereka adalah pilar yang menjaga keberlangsungan rumah IMM. Oleh karena itu, mahasiswa baru yang bergabung dengan IMM perlu memahami: ketika mereka mencintai organisasi ini, mereka sebenarnya sedang merawat rumah besar yang diwariskan oleh para pendahulu, rumah yang tidak boleh runtuh hanya karena masalah pribadi.
Ilmu Amaliah Amal ilmiah, ayo bergabung dengan IMM.
Penulis: Riski Ikra
Reporter: Asrul
.png)