16 Orang Dipukuli satu Kader IMM, Oleh Oknum Kepolisian Saat Demonstrasi IMM Desak Copot AKBP. Anita Ratna Yulianto dari Jabatan Kaporles Kota Ternate -->

Header Menu

16 Orang Dipukuli satu Kader IMM, Oleh Oknum Kepolisian Saat Demonstrasi IMM Desak Copot AKBP. Anita Ratna Yulianto dari Jabatan Kaporles Kota Ternate

Admin Redaksi
Wednesday, 3 September 2025

Ternate, WartaRepublik.Com - Dalam demonstrasi yang berlangsung pada Senin, (1/9/2025) lalu, di depan kantor DPRD, di mana aparat kepolisian Kota Ternate menangkap 16 orang dan melakukan tindakan represif terhadap mereka. Salah satu yang ditangkap adalah anggota IMM Kota Ternate.


Ketua umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiya cabang Ternate, Fatahillah Duwila, menyatakan tindakan ini jelas melanggar SOP penanganan demonstrasi yang diatur dalam Perkapolri No. 7 Tahun 2012. Kekerasan yang dilakukan oleh pihak kepolisian tidak hanya terjadi pada demonstrasi 1 September saja.

Kejadian ini sudah menjadi hal yang biasa dilakukan oleh beberapa oknum saat menangani situasi demonstrasi. Tentu saja, ini menjadi catatan buruk bagi kepolisian resor Ternate di bawah kepemimpinan AKBP. Anita Ratna Yulianto sebagai Kapolres gagal dalam menjaga keamanan di saat menghadapi Demontrasi di depan kantor DPRD kota Ternate," ujar ketum IMM. Rabu, (3/9/25)

Perlakuan kekerasan terhadap para demonstran bukanlah masalah sepele dan seharusnya tidak menjadi kebiasaan dalam lembaga kepolisian. Tindakan tersebut sangat bertentangan dengan hak asasi manusia untuk menyuarakan pendapat sebagaimana tercantum dalam Pasal 28E Ayat 3 UUD 1945.

Lebih lanjut, dalam menanggapi hal ini, Pimpinan Cabang IMM Kota Ternate meminta agar oknum-oknum tertentu segera ditindak sesuai dengan peraturan yang berlaku. Kami juga menilai bawah AKBP. Anita Ratna Yulianto tidak menjalankan tugasnya dengan baik sebagai Kapolres," tuturnya

Kemarin, 16 orang masa aksi ditangkap dan mengalami perlakuan sewenang-wenang oleh petugas. Siapa lagi yang akan menjadi korban dalam berpendapat ke depannya? Jika polisi bersikap seperti preman, lebih baik mereka jadi preman saja agar tidak merusak citra Institusi Kepolisian Republik Indonesia.