Aliansi Pemuda. Pelajar dan Mahasiswa Desa Sagawele, Gelar Aksi Unjuk Rasa di SMPN 57 Halsel, Menuntut Kepsek Segera Mundur Dari Jabatan -->

Header Menu

Aliansi Pemuda. Pelajar dan Mahasiswa Desa Sagawele, Gelar Aksi Unjuk Rasa di SMPN 57 Halsel, Menuntut Kepsek Segera Mundur Dari Jabatan

Admin Redaksi
Tuesday, 2 September 2025



Halmahera Selatan, WartaRepublik.Com - Aliansi Pemuda pelajar dan Mahasiswa Sagawele, Menggelar aksi unjuk rasa di sekolah SMPN 57 Halmahera Selatan, mereka menuntut permohonan maaf dari Kepala Sekolah SMPN 57 Halsel dan segera mengundurkan diri dari jabatan, dikarenakan dugaan adanya kebijakan yang merugikan hak siswa-siswi untuk berpartisipasi dalam pengembangan desa Sagawele di Kayoa Selatan.

Udi, salah seorang pengunjuk rasa, mengungkapkan rasa kekecewaannya terhadap kepala sekolah yang tidak memfasilitasi tujuan pendidikan. “Sangat disayangkan, kepala sekolah tidak melibatkan siswa-siswi dalam kegiatan desa. Kebijakan tersebut berpotensi membuat mentalitas siswa-siswi SMPN 57 Halsel menurun,” tuturnya dengan nada frustrasi pada Senin, (1/9/2025)

Ia juga mengungkapkan harapan sebagai pemuda desa Sagawele agar kebijakan kepala sekolah seharusnya mendukung kemampuan siswa-siswi, sebab ini merupakan inti dari pendidikan yang sesungguhnya," tambah Udi (Ketua Pemuda). Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Niko (pemuda), yang menduga adanya kebijakan kepala sekolah yang tidak sejalan dengan tujuan pendidikan di negara ini. Terutama, siswa-siswi tidak diizinkan untuk menyambut rombongan dari PKK Halsel dengan adat ronggeng, padahal sudah ada surat dari desa yang mengharapkan partisipasi mereka, ungkapnya.

Aksi massa berlangsung dengan damai hingga pukul 09. 00 WIT.

Sementara itu, Koordinator lapangan Ariyadi Risto menyatakan bahwa aksi yang dilakukan hari ini merupakan langkah awal dari perjuangan Aliansi pemuda, pelajar, dan mahasiswa Sagawele. Aksi ini sama sekali tidak berkaitan dengan politik atau kepentingan pribadi. Kami merasa sangat sedih karena siswa-siswi SMPN 57 Halsel dilarang mengekspresikan bakat dan pengetahuan mereka. 

Lebih lanjut, kepala sekolah justru menghalangi siswa-siswi dalam kemajuan desa Sagawele. Oleh karena itu, kami akan terus menyerukan untuk melawan. Tuntutan kami sederhana; pertama, kepala sekolah harus meminta maaf dan mundur dari jabatannya, dan kedua, kepala dinas pendidikan Halsel harus segera mengunjungi dan mengevaluasi kepala sekolah SMPN 57 Halsel. Jika tuntutan ini tidak dipenuhi, kami, pemuda, pelajar, dan mahasiswa Sagawele dari aliansi ini akan mengkonsolidasi lebih banyak masyarakat untuk aksi yang lebih besar,” ungkap Ariyadi Risto.

Ia juga menambahkan bahwa dirinya merasa sangat marah karena kepala sekolah tidak hadir di sekolah, meskipun mungkin sudah mengetahui tentang aksi unjuk rasa di depan SMPN 57 Halsel. Walaupun kepala sekolah tidak ada, massa aksi dipertemukan dengan guru-guru SMPN 57 Halsel oleh polisi Kayoa di kantor sekolah untuk memastikan bahwa tuntutan aksi disampaikan kepada kepala sekolah.

Pendidikan seharusnya melepaskan pikiran dan tindakan untuk kemajuan, bukan mengurungnya.




Reporter: ul