Kritik: Retorika Murahan & Playing Victim Terhadap Nilai -->

Header Menu

Kritik: Retorika Murahan & Playing Victim Terhadap Nilai

Admin Redaksi
Friday, 3 October 2025

Oleh: Sahib Munawar.S.Pd,I.M.,Pd

OPINI, Wartarepublik.com - Sebuah tulisan yang mencoba untuk mendekontruksi pesan pesan yang disampaikan lewat seorang mahasiswa pascasarjana dengan Judul "Kritik atas kritik: Retorika Gaduh dan Pseudo Tata Bahasa" 

Yang pertama: soal Illat dan plagiatisasi terhadap Imam Al-Ghazali sampai Ibnu Rusyd kepada masalah filosofis dan teologis. Ia berusaha menghindar dari kritik dan balik membantah dengan retorika murahan" bahwa saya gagal memahami mantiqul IsIam serta jatuh pada simplifikasi. 

Dalam hal ini saya perlu sampaikan dengan bahasa sederhana bahwa ia berada dijalan "Tardivus ( Tardus ) Atau istilah Dante purgatorio hingga membuatnya bergerak lambat untuk maju, hal-hal yang ia sampaikan lewat retorika murahan, bagi saya sudah ketinggalan jauh, karena sebelumnya saya sudah mendahuluinya dimasa masa study 15 tahun silam, saya hanya Merepetisi kembali ilmu pengetahuan agar tidak mengalami kezumudan, maka dengan menghidupkan kembali dengan dialektika. 

Kedua: Gagal memahami maksud kejahatan intelektual dengan klaim sebagai pelecehan simbolik akal, lalu ia menyambungkan dengan tradisi filsafat IsIam, bagi saya tidak inheren dengan yang saya maksud ( Kejahatan intelektual ) justru ia mendegradasi popularitas retorika yang ia bangun lewat parah filsuf. 

Ia tidak hanya mengetahui tapi gagal memahami yang saya maksud" kejahatan intelektual" saya pernah sampaikan lewat tulisan" Kritik terhadap kerancuan analogy dan arogansi " Kalau dijelaskan ulang nantinya menjadi mubazir!

Ketiga: Kritik gaya penulisan dan bahasa, ia mengejek gaya dan metodologi penulisan saya yang dianggap compang-camping dan gagal dalam bobot akademik, ia layaknya seorang pakar dan tergesa-gesa untuk klaim kebenaran, padahal sejatinya, ia telah mendahului yang namanya esensi dari teknik penulisan ilmiah, sistematika yang ilmiah dan pada pendekatan kualitatif untuk mengali makna, selain itu ia juga mengejek gaya penulisan dengan kesalahan mengetik ( typo) tanpa mengetahui apa yang saya gunakan dengan alat untuk menulis, apakah mengunakan Laptop atau hanya berpegang pada HP android, sehingga gaya penulisannya masih belum sempurna, padahal ini masalah teknisnya dan bukan pada kesalahan argumentasi, ia mungkin menulis mengunakan laptop HP Spectre 360 dengan harga di atas tiga sampai lima jutaan yang tidak sebanding dengan HP android (Vivo) yang saya gunakan sebagai alat menulis.

Gaya dan metodologi penulisan karya ilmiah, jauh sebelumnya sudah saya lewati masa-masa study, karya ilmiah berupa Skripsi serta Tesis dan bahkan sudah pernah menulis karya ilmiah Disertasi ( Doktoral S.3) yang diminta teman, selain itu tulisan berupa opini termuat di media sosial dan media cetak, dan apa yang anda ragukan, falsifikasikan karya ilmiah dengan hipotesis yang di maksud, hanya karena menilai dari gaya dan typo sementara Anda sendiri terjebak pada freming lewat di dinding Facebook. Maka dalam hal ini saya meminjam apa yang dikatakan Karl Popper bahwa masalah yang terpenting dalam sebuah pengetahuan ( Epestemik) harus melalui pengetahuan induksi dan demarkasi sebuah ilmu pengetahuan untuk membedakan ilmu pengetahuan sejati dan pseudo sains (Ilmu palsu). 

Keempat: Merasa dirinya paling hebat dan klaim kebenaran. Setiap argumennya penuh dengan ambisi sebagai pengiat dan filsuf, merasa dirinya hebat tanpa sadar diri ia terjebak pada kalimat " Playing Victim" Sangat manipulatif dan membela diri , padahal ia adalah pelaku kejahatan, dengan melacurkan intlektualnya demi mencari simpatisan di khalayak publik agar, agar dibilang cerdas, padahal culas diblakang layar, ia pintar membuat drama dan freming untuk memanipulasi kecerdasannya sebagai seorang intelektual dan pengiat. Maka Michael Foucault bilang dimana ada relasi disitulah ada kekuasaan dan ketidaksadaran dalam hal tersebut akan muncul pada tindakan yang bersifat menindas. Ia seolah mengadministrasikan tubuh dan pikiran untuk mengatur kehidupan seseorang. Ia terlalu ego dalam segala hal termasuk ego pengetahuan yang dangkal" Maka benar apa yang dibilang oleh Schopenhauer bahwa" sifat ego adalah bagian dari kehendak buta yang menyebalkan dan menyebabkan penderitaan. 

Sebagai catatan kaki:

 1. Perlu lebih giat dalam menelaah tentang tata bahasa atau ( Hermeneutik) linguistik. 

2.Lebih jujur dalam menulis karya ilmiah, agar terhindar dari plagiarisme sebagai pemula mahasiswa pascasarjana. 

3. Jangan merasa hebat dan pongah dalam epestemik nanti terjerumus dalam ketololan. 

Kata Aristoteles " Kebodohan adalah ketika seseorang merasa tahu segalanya" Ketidakmampuan untuk menyadari keterbatasan diri sendiri adalah merasa tahu segalanya" Sekian tiada gading yang tak retak semoga bermanfaat ( Sahib Munawar.S.Pd,I.M.,Pd)