Oleh: Sahib Munawar.S.Pd,I.M.,Pd. Akademisi, Pegiat Filsafat dan Literasi Maluku Utara
Opini, Wartarepublik.com - Dalam menjelang Natal dan Tahun baru, bagi umat non muslim adalah perayaan kebatinan terhadap Tuhan yang diajarkan dalam firman.
Bagaimana dengan sikap kita sebagai Muslim sejati dalam memandang atas perayaan natal dan tahun baru.! Sebagai muslim sejati harusnya bersikap toleran untuk menghargai dengan mengucapkan selamat, semoga membawa kedamaian dalam semangat persaudaraan sebagai manusia.
Gus Dur memandang bahwa: ucapan "Selamat Natal dan Tahun Baru" sebagai manifestasi nyata dari toleransi dan kemanusiaan yang berakar pada prinsip Islam sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam). Menurutnya, tindakan tersebut adalah bentuk penghormatan atas hak asasi manusia dan bagian dari kehidupan berbangsa di Indonesia yang majemuk.
Ucapan Selamat Hari Natal” kepada umat non muslim tidaklah berarti mengakui agamanya, tetapi justru sebuah ungkapan hormat terhadap sesama umat manusia yang juga berhak merayakan hari besar agamanya.
Pandangan ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk hidup berdampingan dengan damai, saling menghargai, dan mempererat tali persaudaraan tanpa mengorbankan keyakinan agama masing-masing.
Toleransi adalah Perintah Agama: Gus Dur misalnya berargumen bahwa: Toleransi, sebagai sikap menghargai perayaan agama lain, adalah perintah Al-Qur'an, merujuk pada Surah Al-Mumtahanah ayat 8 yang membolehkan umat Islam berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi mereka karena agama.
Gus Dur membedakan antara keyakinan (akidah) dan interaksi sosial (muamalah). Mengucapkan selamat hari raya adalah bagian dari interaksi sosial dan menjaga kerukunan, bukan berarti mengakui keyakinan teologis agama lain.
Gus Dur tidak hanya mengajarkan toleransi, ia menghidupkannya. Baginya, toleransi bukanlah sekadar sikap pasif membiarkan orang lain beribadah, melainkan sebuah aksi aktif berupa penghargaan, pengakuan, dan pembelaan terhadap hak-hak kelompok minoritas. Frasa populernya, "Tuhan Tidak Perlu Dibela" Karena Tuhan Dia sudah maha segalanya. Belalah mereka yang diperlakukan tidak adil" frasa ini menjadi kunci utama pemikirannya.
Gus Dur mengajarkan bahwa tugas manusia adalah memanusiakan manusia lain, bukan menjadi "satpam" sebagai penjaga keyakinan Tuhan. Ketika manusia sibuk membela Tuhan, mereka sering lupa bahwa yang perlu dibela adalah sesama manusia yang hak-haknya terancam. Bagi Gus Dur, solidaritas lintas iman adalah keniscayaan. Ia tidak ragu hadir di Gereja dan merayakan keberagaman sebagai kekayaan, bukan ancaman.
Aksi ini mengirimkan pesan kuat: Kerukunan beragama bukan hanya tanggung jawab umat beragama yang bersangkutan, tetapi tanggung jawab seluruh anak bangsa.
Gus Dur mengajarkan sesuatu yang lebih tinggi: Toleransi adalah kewajiban etis, terlepas dari apakah pihak lain membalasnya atau tidak. Kita menghormati hak beribadah orang lain karena kita menghormati kemanusiaan, bukan karena berharap imbalan. Maka, perdebatan tentang ucapan Natal, yang sering kali menghabiskan energi kita setiap tahun, seharusnya bergeser. Fokusnya bukan pada boleh tidaknya mengucapkan, melainkan pada etika dasar kemanusiaan untuk berbagi kebahagiaan dengan tetangga yang merayakan.
Keimanan yang kokoh tidak akan goyah hanya karena sebuah ucapan selamat. Sebaliknya, keimanan yang matang justru mendorong pelakunya untuk berbagi kebahagiaan dan merangkul perbedaan. Refleksi kebinekaan dalam konteks Gus Dur ini ialah menerima keberagaman sebagai takdir atau sunnatullah.
Indonesia yang beragam suku, agama, dan budaya adalah desain ilahi yang harus dirawat, bukan ditolak atau diseragamkan. Ketika kita melihat keberagaman di sekitar kita, mulai dari tetangga yang menghias pohon Natal, hingga hiruk pikuk pusat perbelanjaan yang dipenuhi dekorasi akhir tahun, kita seharusnya melihatnya sebagai cerminan kesuksesan bangsa ini dalam menjaga rumah besar bernama Indonesia. Pandangan pemikiran Gus Dur ini harus menjadikan refleksi bagi diri kita unutuk Berani menjadi Minoritas di Tengah Mayoritas, Berani membela kelompok yang lemah dan terpinggirkan, meskipun kita berada di kelompok mayoritas. Mengutamakan etika Kemanusiaan, meletakkan nilai-nilai kemanusiaan di atas klaim kebenaran sepihak.
Penerapan Islam Rahmatan lil Alamin:
Konsep Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam menjadi dasar pemikirannya. Ucapan Natal adalah wujud nyata dari sikap menebarkan kasih sayang dan kedamaian kepada sesama manusia tanpa memandang agama atau suku.
Hal ini senada dengan Qs: Al Hujurat ayat 13.
Yang artinya".
Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.( Qs: Al Hujurat ayat 13)
Maka di momen Natal dan Tahun Baru 2025 ini, mari kita tebarkan kasih sayang dan kedamaian kepada sesama, sebagai wujud nyata sikap toleransi yang rahmatan lil alamin."
Tidak beriman diantara kamu jika tidak mengimani salah satu nabi dari 25 nabi dan rasul dan sebagaimana tertera dalam rukun iman ke empat (4) dalam Islam.
Ada klaim dari kalangan ulama dan ustadz tentang hukum mengucapkan selamat hari natal dan tahun baru, dengan stikma haram, karena sama saja kita meyakini bahwa Allah Swt mempunyai anak, Isa (Yesus), yang lahir pada bulan Desember, dan meyakini bahwa Isa (Yesus) mati di tiang salib.
Hal ini seolah menjadi lampu terang bagi masyarakat mengenai boleh tidaknya umat Islam mengucapkan selamat Natal.
Padahal mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristen tidaklah mengganggu akidah seorang Muslim, karena hal itu bagian dari bentuk penghargaan atas kegembiraan umat Kristen/Katholik pada hari rayanya.
Sikap saling menghargai antar penganut agama yang berbeda sangatlah penting untuk diterapkan. Bahkan hal ini adalah bagian dari pengamalan ajaran Islam itu sendiri, apalagi dalam keragaman agama seperti di Indonesia yang begitu majemuk.
Soal pengucapan selamat natal dan tahun baru menjadi polemik dikalahkan konservatif, terlebih nya sebagian ulama dan ustadz yang tidak diperbolehkan dan ada juga ulama dan ustadz yang memperbolehkan untuk mengucapkan , hal ini sebagai tandingan dengan berbagai macam dalil, qiyas yang mereka temukan. Yang tidak memperbolehkan adalah keberatan bagi mereka, karena terlalu sempit dalam memahami sebuah teks tanpa mengkontekskannya, hal semacam itu akan menimbulkan bibit bibit radikalisme dalam beragama.
Mereka lebih banyak memprovokasi dari kelompok mereka dan sengaja dikontroversialkan oleh pihak tertentu supaya memanas, dan bisa jadi upaya hubungan antar agama tidak menjadi indah.
Penulis meminjam pernyataan Bung Karno bahwa:
Kalau jadi Islam jangan jadi orang Arab, kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi Kristen jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan Adat Budaya Nusantara kita yang Kaya Raya ini". Pesan ini menegaskan semangat "Agama yang berkebudayaan", di mana agama harus menyatu dengan kebudayaan lokal Indonesia, bukan menolak atau menghilangkan kebudayaan Nusantara demi budaya luar, mendorong kebanggaan sebagai bangsa Indonesia yang kaya budaya.
KH Hasyim Asy'ari, menegaskan bahwa: Manusia adalah makhluk yang senantiasa berinteraksi antara satu dengan yang lain. Karenanya, dalam relasi sosial tersebut diperlukan sikap-sikap yang beradab dan toleran.Sikap tersebut ditunjukkan dengan saling menghargai dan menghormati di antara sesama anak bangsa yang berbeda-beda latar belakang.
Sikap yang menjunjung tinggi moderatisme beragama, menghindari segala bentuk rigiditas dan ekstrimisme dalam mengimplementasikan ajaran-ajaran agama, dan berlaku adil dan lurus di tengah-tengah kehidupan bersama dan ini yang disebut dengan istilah Tawassuth ( Moderat) dan toleransi terhadap perbedaan, baik dalam masalah keagamaan, terutama hal-hal yang bersifat furu’iyah, atau masalah khilafiyah.
Selain itu, juga dalam masalah kemasyarakatan dan kebudayaan dan hal ini disebut dengan istilah Tasamuh atau toleransi beragama dan berbudaya.
Terakhir sebelum saya menutup tulisan indah dan penuh kediaman ini sengaja saya ngutip sebuah ayat yaitu:
Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku"( QS: Al Kafirun: Ayat:6)
Sebuah pelangi tidak akan kelihatan indah, jika hanya memiliki satu warna, maka diperlukan keberagaman warna , agar menjadi indah.
.png)