Oleh: Abd Rifai Mahasiswa IPA Unutara
Opini, Wartarepublik.com - Kota Ternate yang indah akan kekayaan alamnya, dan keindahan ekosistemnya itu sendiri, namun keindahan tersebut di cemari dengan bertebaran sampah di mana di jalan, saluran air, dan lain-lain
Tanah Tinggi, mangga dua, toboko dan hampir semua kelurahan. di mana saluran air sudah menjadi kebiasaan masyarakat untuk pembuangan sampah sehingga menumpuk dan membusuk di lingkungan tersebut, dengan alasan air akan bawa ketika hujan deras. Di sini menjadi masalah di mana kerusakan ekosistem itu sendiri yang membua sampah di saluran air dan ketika air membawanya ke laut akan merusak ekosistem yang ada di laut, laut tercemar, karang laut rusak, sehingga ikan-ikan di laut kehilangan habitatnya atau mati akibat pencemaran tersebut.
Bukan hanya kerusakan pada habitat yang ada di laut tetapi juga lingkungan di sekitar ikut tercemar akibat sampah tersebut, dikarenakan sampah itu membusuk, ketika hujan got-got tersumbat singgah air itu meluap dan membawa sampah itu ke mana sja. Ini apakah kekurangan tempat pembuangan sampah? atau kurangnya kesadaran masyarakat yang ada di lingkungan tersebut?
Penulis sangat perihatin karenakan sampah ada di mana-mana ketika sesudah hujan. Sdh sangat betul sampah itu di kumpul satu tempat akan tetapi akhir pembuangan tersebut hanyalah saluran air.
Apakah saluran air menjadi solusi agar sampah itu tidak kelihatan? Apakah betul ketika hujan air akan bawa sampah tersebut?
Sampah organik dan plastik menghambat drainase, menyebabkan genangan air yang berkepanjangan dan pendangkalan sungai. Hal ini memperburuk pencemaran udara serta tanah akibat limbah yang membusuk.
Tumpukan sampah menjadi sarang nyamuk, lalat, dan tikus yang membawa penyakit seperti demam berdarah, diare, kolera, serta infeksi kulit. Air tercemar juga memicu gangguan pernapasan dari asap pembakaran sampah ilegal
Di Kota Palu, penumpukan sampah di got Jalan Ponegoro menyebabkan banjir berulang setiap hujan, mengganggu aktivitas warga. Serupa di Pekanbaru, sampah rumah tangga menyumbat drainase utama saat musim hujan
Presiden Joko WidodoJokowi berulang kali menyebut kebiasaan membuang sampah sembarangan ke selokan dan drainase sebagai penyebab utama banjir di Jakarta dan Jabodetabek. Ia menyoroti bahwa 30% sampah menghambat aliran air di saluran kecil, serta meminta pemda fokus pada kebersihan drainase.
Gary Bencheghib Aktivis lingkungan asal Prancis ini, pendiri Sungai Watch, aktif mengkampanyekan perlindungan saluran air dari sampah plastik di Indonesia, termasuk Citarum. Ia menekankan air bersih sebagai hak asasi manusia dan memasang penghalang sampah di ratusan sungai Bali untuk cegah polusi ke laut
Pejabat Lokal Kepala Dinas PUPR Pekanbaru, Indra Pomi Nasution, menyatakan sampah menyumbat drainase sehingga air menggenang saat hujan, dan rutin membersihkannya dengan pasukan kuning. Camat Balikpapan Selatan, Muhammad Hakim, juga imbau warga hentikan buang sampah ke saluran air untuk kurangi banjir.
.png)