Opini! Perempuan Dalam Kontrol Kapitalisme -->

Header Menu

Opini! Perempuan Dalam Kontrol Kapitalisme

Admin Redaksi
Sunday, 21 December 2025

Oleh: El Dinoh, komite politik kota Ternate


Wartarepublik.com - Pertanyaan yang di ajukan di sini bukan apa itu penindasan perempuan melainkan bagaimana penindasan itu terjadi, pertayaan ini telah di jelaskan oleh Friedrich Engles melalui antropologi sejarah dalam karyanya yang berjudul The origin of the family, Private property and the State Tesis engles tentang hak milik pribadi dan keluarga dalam sejarah perkembangan corak produksi masyarakat. Ketika sebagian orang dalam masyarakat memiliki kemampuan produksi yang dapat mengakumulasi kapital kepada anak “ milik bapak’’ hal ini kemudian mengikatkan perempuan pada tali perkawinan monogomi/poligini sebagai isteri dan ibu dalam rumah tangga yang dipimpin oleh suami(‘’bapak’’). Perempuan atau istri lantas menjadi hak milik pribadi suami guna melangsungkan proses reproduksi sosial, maka dari itu perempuan tersebut kehilangan kondisi kemanusianya yang merdeka. Jadi jelaslah bahwa penindasan perempuan bukanlah sesuatu yang alamiah, melainkan terjadi di dalam kondisi sosial ketika diri perempuan berubah menjadi hak milik pribadi ( private property) ayah atau suaminya.

Apa yang penting dari penjelasan Engles tersebut? Pertama, bahwa penindasan perempuan merupakan peristiwa sejarah. Yakni peristiwa terbentuknya hak milik pribadi dan keluarga yang menjadi basis sosial akumulasi kapital. Kedua, peristiwa itu bukan terjadi karena adanya pembagian kerja secarah seksual (gender) dalam rumah tangga. Tetapi pembagian kerja secarah seksual berdimensi penindasan perempuan ketika akumulasi kapital dan kebetuhan pewarisan menggubah perempuan menjadi tidak setara. Ketiga, peristiwa yang menjadikan perempuan sebagai hak milik pribadi itu berlangsung mengikuti perkembangan corak produksi masyarakat. Artinya, perempuan sebagai hak milik pribadi pada masa corak produksi asiatik (contohnya) adalah menjadi tenaga produksi (dan reproduksi) pertanian keluarga dalam pertalian perkawinan poliginis. 

Dalam masyarakat kapitalis yang masi berlansung sampai saat ini, tesis engels ini menjadi dasar pijakan ( standpoint) bagi femenisme Klasik, seperti Clara Zetkin, Rosa Luxemburg, Alexandra kollontai, dan V.I. Lenin. Mereka meneguhkan bahwa kapitalisme telah menggunakan sturktur patriarkhal untuk mempertahankan tenaga kerja murah atau gratis denggan membagi kelas pekerja berdasarkan jenis kelamin ( laki-laki dan perempuan). 

Di bawa kapitalisme, terjadi pemisahan yang jelas antara rumah tangga keluarga dan produksi komoditas. Hal ini berimplikasi pada meluasnya dimensi persoalan perempuan dalam posisinya yang beragam sebagai tenaga kerja domestik, sebagai ibu dan sebagai anggota keluarga yang subordinat di bawah hak milik pribadi suami/ayah.

Jika di lihat lebih jau lagi kapitalisme kini telah masuk kedalam setiap sendi-sendi kehidupan masyarakat dan juga telah merubah paradikma masyarakat, seperti tulisan dede mulyanto dalam bukunya geneologi kapitalisme, kapitalisme bukan sekedar ideologi, kapitalisme juga bangunan kemasyarakatan yang tersusun atas relasi-relasi sosial. 

Maka setiap pertimbangan terhadap penindasan perempuan membawa pemikiran kepada sebuah variasi dari venomena psikologi, ekonomi, sosial, dan politik yang memengaruhi kehidupan perempuan. Dari mulai perkosaan, incest , kekerasan dalam rumah tangga, dan pelecehan seksual, stereotip sosial, upah yang rendah dan segregasi pekerjaan berdasarkan gender, diskriminasi dalam pendidikan dan institusi-institusi pekerjaan, pembagian kerja secarah seksual, kerja domistik dan kontradiksi antara penentuan nasib sendiri (self determination) untuk reproduksi, kurang keterwakilanya perempuan dalam politik formal dan peran kepemimpinan publik serta, tak dapat dipungkiri, patriarki. Situasi perempuan saat ini tidak terlepas dari sistem kapitalisme sendiri, yang mana dalam sistem kapitilisme melihat perempuan sebagai objek konsumsi atau alat untuk memperoleh keuntungan dalam istila ekonomi di sebut surplus value, dan persoalan perempuan terus terjadi selama sistem kapitalisme itu masi ada. 

Situasi ketertindas perempuan hari ini suda harus di lihat dalam prespektif yang lebih maju di karenakan semua yang terjadi itu tidak semerta-merta terjadi tetapi dia memilki hukum kausalitas atau hukum sebab akibat maka, dari itu penidasan perempuan hari ini bukan takdir tuhan tapi dia adalah bagian dari pada sistem kapitalisme sendiri. 

Hal ini terus membuat posisi perempuan semakin cukup rumit, perempuan sendiri menghadapi situasi yang cukup komploks dan multidimensi di erah kapitalisme hari ini, seperti Eksploitasi ekonomi, perempuan seringkali terjebak dalam pekerjaan denggan upah rendah dan kondisi kerja yang buruk. Sistem kapitalisme yang berbasis profit dapat memperburuk kesenjangan ekonomi antara laki dan perempuan, seperti yang sejau lalu yang telah di jelaskan marx bahwa perempuan adalah perkakas, jika di perjelas lagi bahwa kapitalisme memandang perempuan sebagai profit semata.

Tidak cukup sampai di situ saja dalam sistem kapitalisme hari ini, perempuan juga mengalami beban kerja ganda, yaitu bekerja di luar rumah dan mengurus pekerjaan domestik. Hal ini dapat menyebabkan stres dan kelelahan yang berlebihan. Dan Bukan hanya itu saja di tengah arus kapitilisme global, perempuan seringkali dianggap menjadi figur utama yang terlibat lansung dalam rantai produksi konsumsi.

Peran mereka begitu signifikan, yaitu menjadi buruh pabrik di negara-negara berkembang hingga konsumen yang menjadi target utama pemasaran. Namun pertayaan sering luput dari pembahasan adalah, sejauh mana perempuan benar-benar memegang kendali dalam struktur ekonomi politik global yang sangat maskulin ini.

Dalam konteks ekonomi politik global, kapitalisme menciptakan struktur kekuasaan yang cenderung memperkuat dominasi laki-laki. Posisi perempuan dalam pengambilan keputusan strategis di perusahaan multansional, lembaga keuangan internasional, politik ekonomi global masi sangat terbatas. Padahal, perempuan tidak hanya menjadi pemain penting dalam rantai pasok global, tetapi juga merupakan kontributor yang signifikan dalam perekonomian domestik melalui pekerjaan yang sering kali tidak dihargai, seperti mengelola rumah tangga dan mengasuh anak. 

Di atas kita dapat melihat bahwa penempatan perempuan pada posisi kelas dua dalam masyaraakat berawal dari tergesernya peranan perempuan dalam lapangan produksi. Dan pada gilirannya, tergesernya peran ini adalah akibat dari tingkatan teknologi masa itu yang tidak memungkinkan kaum perempuan untuk memasuki lapangan produksi.

Kondisi ini sesuguhnya yang di inginkan kapitalisme. Kapitalisme, yang mengandalkan mesin sebegai alat produksinya yang utama, telah memungkinkan kaum perempuan untuk kembali berkarya di bidang produksi kebutuhan masyarakat. Bahkan, sekarang ini, jika kita lihat di kota-kota besar, suda jarang sekali ada kaum perempuan yang tidak memberikan sumbangan perolehan kebutuhan hidup keluaraganya. 

Lagipula, kapitalisme telah membuat sistem produksi menjadi semakin lama semakin kolektif. Sepasang sepatu NIKE, misalnya, adalah buah karya ratusan, bahkan ribuan, orang dari berbagai negeri. Hampir tiap barang yang kita pergunakan untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari merupakan hasil kerja ratusan bahkan ribuan orang. Ini semua adalah pertanda bahwa sistem produksi komunal semakin hari semakin berjaya kembali. 

Dapatlah kita lihat bahwa perkembangan kondisi objektif ini telah menghasilkan ruang yang sangat terbuka bagi perempuan. Gerakan emansipasi perempuan telah berkembang bersamaan dengan masuknya perempuan-perempuan kedalam pabrik. Kini perempuan telah berhak turut serta dalam berbagai bidang pekerjaan. Kebanyak perempuan juga telah bebas untuk memilih jalan hidupnya sendiri, termasuk memilih pasangan hidup.
Namun demikian, kondisi objektif ini tidak dapat berkembang menjadi pembebasan perempuan yang sepenuh-penuhnya karena sistem nilai yang ada di tengah masyarakat masi merupakan sistem nilai yang mendukung adanya peminggiran terhadap peran perempuan.

Disinilah kita dapat menarik satu kesimpulan, bahwa perjuangan pembebasan perempuan akan berhasil dengan sempurna jika ia di satukan denggan perjuangan untuk mencapai sosialisme. Dan sebaliknya, perjuangan sosialisme akan juga berhasil dengan sempurna jika perjuangan ini menempatkan pembebasan perempuan sebagai salah satu tujuan utamanya. Kedua perjuangan ini tidak boleh dipisahkan, atau yang satu didahului daripada yang lain. Keduanya hrus berjalan bersamaan dan saling mengisi. 

Seperti kutipan clara zetkin bahwa pembebasan perempuan hanya dapat dicapai melalui sosialisme, karena kapitalisme secarah inheren menindas dan mengeksploitasi perempuan. Ia menekan bahwa perjuangan perempuan harus berakar pada kelas pekerja, menyatukan perempuan harus berakar pada proletar untuk melawan kapitalisme demi kemenangan sosialime. 

Kita mengamini bahwa hanya sosialisme lah yang mampu memberikan ruang kepada perempuan maka tidak ada sosialisme tampa ada pembebasan perempuan.