Balik Keteguhan Perempuan: Antara Pilihan dan Risiko -->

Header Menu

Balik Keteguhan Perempuan: Antara Pilihan dan Risiko

Admin Redaksi
Sunday, 11 January 2026

Oleh: Nursafitri Hi Ahmad


Opini, Wartarepublik.com - Keteguhan perempuan kerap dipahami secara sederhana: ia dilekatkan sebagai sifat bawaan, sebagai watak alami yang seolah tumbuh tanpa sebab. Dalam banyak narasi sosial, perempuan digambarkan sebagai sosok yang tabah, sabar, dan kuat menghadapi penderitaan. Gambaran ini beredar luas dalam pepatah, cerita rakyat, wacana keagamaan, hingga media populer. Namun, cara pandang tersebut sering kali justru menutup kenyataan yang lebih kompleks dan problematis. Keteguhan perempuan bukanlah sesuatu yang lahir begitu saja, melainkan hasil dari proses panjang yang sarat dengan tekanan struktural, tuntutan sosial, pilihan-pilihan sulit, serta risiko yang harus dihadapi secara terus-menerus.

Di balik setiap keteguhan, terdapat pergulatan batin yang tidak selalu terlihat dan jarang diakui. Perempuan belajar bertahan sejak dini belajar memahami batas, menyesuaikan diri, dan menahan keinginan pribadi demi menjaga keseimbangan sosial. Keteguhan menjadi bahasa sunyi yang diwariskan lintas generasi: ia tidak selalu diucapkan, tetapi dijalani sebagai kewajiban moral. Dalam banyak kasus, perempuan bahkan tidak diberi ruang untuk mempertanyakan mengapa mereka harus selalu kuat.

 Opini atau pandang ini, berangkat dari kesadaran bahwa keteguhan perempuan perlu dibaca secara kritis, bukan semata dirayakan. Keteguhan yang terus dipuji tanpa dibongkar justru berpotensi menjadi alat legitimasi atas ketidakadilan. Oleh karena itu, tulisan ini berupaya menelusuri apa yang tersembunyi di balik keteguhan perempuan: bagaimana ia dibentuk, pilihan apa saja yang harus diambil, serta risiko sosial, psikologis, dan kultural yang mengiringinya.

Keteguhan perempuan juga tidak bisa dilepaskan dari struktur sosial yang melingkupinya. Norma budaya, sistem ekonomi, relasi kuasa dalam keluarga, hingga kebijakan publik berkelindan membentuk ruang hidup perempuan. Dalam situasi seperti ini, setiap keputusan bahkan yang tampak personal sering kali memiliki konsekuensi sosial yang besar. Membicarakan keteguhan perempuan berarti membicarakan relasi antara individu dan sistem, antara kehendak personal dan tekanan struktural yang sering kali tidak adil.

Keteguhan sebagai Konstruksi Sosial:

Keteguhan perempuan tidak hadir dalam ruang hampa. Ia dibentuk, diarahkan, dan dipelihara oleh konstruksi sosial yang bekerja sejak masa kanak-kanak. Anak perempuan kerap diajarkan untuk tidak banyak mengeluh, untuk memahami perasaan orang lain, dan untuk mendahulukan kepentingan bersama. Nilai-nilai ini sering dibungkus sebagai ajaran moral yang luhur, tetapi dalam praktiknya membentuk pola bahwa perempuan harus selalu kuat, bahkan ketika mereka terluka. Seiring waktu, keteguhan berubah menjadi tuntutan sosial yang melekat pada identitas perempuan. Ketika perempuan gagal memenuhi standar keteguhan tersebut misalnya dengan mengekspresikan kemarahan, kelelahan, atau penolakan mereka dianggap lemah, tidak dewasa, atau tidak tahu diri. Dalam konteks ini, keteguhan bukan lagi pilihan sadar, melainkan kewajiban yang harus dipenuhi demi pengakuan sosial.

Konstruksi ini diperkuat melalui bahasa, simbol, dan representasi budaya. Perempuan yang diam dipuji sebagai bijaksana, sementara perempuan yang bersuara keras dicap emosional. Bahasa semacam ini menanamkan pesan bahwa keteguhan identik dengan kepatuhan. Padahal, keteguhan sejati sering kali justru lahir dari keberanian untuk mempertanyakan dan menantang ketidakadilan yang telah dinormalisasi. Ketika keteguhan dipahami sebagai konstruksi sosial, kita dapat melihat bahwa ia bukan sekadar kekuatan personal, tetapi juga mekanisme kontrol. Dengan menuntut perempuan untuk selalu tegar, masyarakat mengalihkan tanggung jawab perubahan dari sistem kepada individu. Perempuan diminta menyesuaikan diri, bukan sistem yang diperbaiki.

Pilihan Hidup dalam Ruang yang Terbatas:

Setiap manusia memiliki pilihan, tetapi tidak semua pilihan tersedia secara setara. Bagi perempuan, pilihan hidup sering kali hadir dalam ruang yang sempit dan penuh syarat. Sejak awal kehidupan, pilihan perempuan sudah diarahkan oleh ekspektasi sosial mengenai peran, perilaku, dan masa depan yang dianggap pantas. Memilih pendidikan tinggi, misalnya, dapat dipersepsikan sebagai ancaman terhadap peran domestik. Memilih berkarier sering dibenturkan dengan tuntutan untuk tetap menjadi pengelola utama rumah tangga. Bahkan pilihan paling personal—seperti menentukan pasangan hidup, waktu menikah, atau keputusan atas tubuh sendiri—kerap diintervensi oleh norma budaya dan tekanan keluarga.

Pilihan-pilihan ini jarang netral. Setiap keputusan membawa risiko sosial yang harus ditanggung perempuan secara individual. Keteguhan dalam konteks ini berarti kemampuan untuk bertahan di tengah konsekuensi pilihan, meskipun dukungan sering kali minim. Banyak perempuan akhirnya memilih jalan yang dianggap paling aman, bukan karena itu yang paling diinginkan, melainkan karena risiko alternatif terlalu besar. Ironisnya, pilihan yang diambil perempuan sering kali dipersepsikan sebagai kehendak bebas, padahal sesungguhnya merupakan respons atas keterbatasan struktural. Keteguhan kemudian tampil sebagai strategi bertahan hidup—cara untuk tetap eksis dalam sistem yang tidak sepenuhnya berpihak.

Risiko Sosial dan Budaya:

Risiko sosial merupakan konsekuensi paling nyata dari pilihan-pilihan perempuan. Masyarakat memiliki mekanisme kontrol yang halus namun efektif melalui norma, adat, dan opini publik. Perempuan yang menyimpang dari peran tradisional sering kali diposisikan sebagai ancaman terhadap tatanan sosial yang mapan. Stigma bekerja sebagai alat pendisiplinan. Ia hadir dalam bentuk gosip, penghakiman moral, dan pelabelan negatif. Dalam banyak komunitas, reputasi perempuan tidak sepenuhnya menjadi milik pribadi, melainkan milik kolektif. Setiap tindakan personal dapat ditafsirkan sebagai cerminan moral keluarga atau kelompok sosialnya. Budaya juga kerap meromantisasi penderitaan perempuan. Ungkapan tentang kesabaran dan pengorbanan sering digunakan untuk membenarkan ketimpangan. Dalam konteks ini, keteguhan berisiko direduksi menjadi alat legitimasi atas ketidakadilan struktural. Perempuan dipuji karena mampu bertahan, bukan karena berhak hidup tanpa penindasan.

Risiko Psikologis: Ketika Keteguhan Menjadi Beban:

Di balik wajah yang tampak tegar, banyak perempuan menyimpan kelelahan emosional yang mendalam. Keteguhan yang dituntut secara terus-menerus dapat berujung pada stres kronis, kecemasan, bahkan depresi. Namun kesehatan mental perempuan sering kali diabaikan atau diremehkan. Perempuan terbiasa memendam emosi demi menjaga harmoni. Mereka belajar menunda kebutuhan diri sendiri dan memprioritaskan orang lain. Dalam jangka panjang, pola ini menciptakan beban psikologis yang berat. Keteguhan berubah menjadi tekanan internal yang menggerogoti rasa berharga.

Ironisnya, ketika perempuan menunjukkan tanda-tanda kelelahan, respons sosial sering menyalahkan individu, bukan sistem yang menekan. Keteguhan lalu menjadi pedang bermata dua: ia membantu bertahan, tetapi juga dapat menghancurkan secara perlahan bila tidak disertai ruang pemulihan.

Keteguhan dalam Relasi Keluarga:

Keluarga sering dipahami sebagai ruang aman, namun bagi banyak perempuan, keluarga juga menjadi arena utama ujian keteguhan. Peran sebagai anak, istri, atau ibu membawa ekspektasi yang besar dan sering kali tidak seimbang. Perempuan dituntut menjadi penjaga harmoni, penyangga emosional, sekaligus pengelola konflik. Pilihan perempuan dalam keluarga seperti bekerja, melanjutkan pendidikan, atau menentukan arah hidup sering dinegosiasikan dalam relasi kuasa yang timpang. Keteguhan di sini berarti kemampuan untuk mempertahankan suara diri tanpa merusak relasi, sebuah tugas emosional yang berat dan berisiko. Keteguhan perempuan dalam keluarga sering tidak terlihat karena dianggap sebagai kewajaran. Namun justru di ruang inilah banyak perempuan mengorbankan diri demi keberlangsungan relasi. Keteguhan menjadi bentuk cinta yang tidak selalu mendapat pengakuan.

Keteguhan di Ruang Publik dan Dunia Kerja:

Di ruang publik dan dunia kerja, perempuan menghadapi tantangan yang berbeda namun tidak kalah berat. Bias gender, ketimpangan upah, dan pelecehan masih menjadi realitas yang dihadapi banyak perempuan. Keteguhan diuji melalui tuntutan profesionalitas di tengah perlakuan yang tidak adil. Perempuan sering berada dalam dilema: bersuara berisiko pada karier dan reputasi, sementara diam berisiko pada kesehatan mental dan harga diri. Dalam situasi ini, keteguhan bukan hanya soal bertahan, tetapi juga soal menjaga martabat. Keteguhan perempuan di ruang publik sering kali tidak dirayakan. Ia dianggap sebagai bagian dari kewajiban profesional. Padahal, di baliknya terdapat perjuangan harian yang kompleks dan melelahkan.
Keteguhan sebagai Bentuk Perlawanan Sunyi:

Tidak semua perlawanan dilakukan dengan suara keras. Banyak perempuan melakukan perlawanan melalui keteguhan sunyi: terus belajar, terus bekerja, terus merawat, meski ruangnya sempit. Perlawanan ini sering tidak tercatat dalam sejarah resmi, namun menjadi fondasi perubahan sosial. Keteguhan sunyi menunjukkan bahwa bertahan juga bisa menjadi bentuk perlawanan. Ia adalah cara perempuan menjaga eksistensi dan martabat dalam situasi yang tidak adil, sambil terus berharap pada perubahan. Dari Keteguhan Individual ke Solidaritas Kolektif

Keteguhan perempuan menemukan makna yang lebih luas ketika terhubung dengan solidaritas. Ketika perempuan berbagi cerita, pengalaman, dan luka, beban yang semula ditanggung sendiri menjadi lebih ringan. Solidaritas mengubah keteguhan individual menjadi kekuatan kolektif. Dalam ruang solidaritas, perempuan belajar bahwa kerentanan bukanlah kegagalan, melainkan sumber empati dan kekuatan bersama. Di sinilah keteguhan bertransformasi menjadi daya ubah sosial.

Menuju Keteguhan yang Memerdekakan yang Memerdekakan:

Keteguhan yang memerdekakan adalah keteguhan yang memberi ruang bagi pilihan sadar dan pemulihan. Ia menuntut perubahan struktural agar risiko tidak terus-menerus dibebankan pada perempuan. Masyarakat perlu berhenti meromantisasi penderitaan dan mulai menciptakan sistem yang adil. Keteguhan semacam ini menghargai keberanian perempuan untuk berkata cukup, untuk beristirahat, dan untuk hidup secara utuh.


Penulis: Nursafitri Hi Ahmad
Editor: Asrul Madra