Euforia Kalender Global dan Sunyinya Kesadaran Hijriah -->

Header Menu

Euforia Kalender Global dan Sunyinya Kesadaran Hijriah

Admin Redaksi
Friday, 2 January 2026

Oleh: M. Tamhier Tamrin


Opini, Wartarepublik.com - Penanggalan bukan sekadar alat untuk menghitung waktu. Kalender lahir dari kebutuhan manusia mengatur kehidupan sosial, politik, dan keagamaan. Setiap kalender memiliki latar sejarah, konteks peradaban, dan kepentingan tertentu. Karena itu, cara suatu masyarakat memperlakukan kalender mencerminkan bagaimana mereka memandang sejarah dan identitasnya sendiri.

Kalender Masehi yang hari ini digunakan secara global tidak muncul begitu saja. Akar kalender ini berasal dari penanggalan Romawi kuno. Pada masa Julius Caesar, sekitar tahun 46 sebelum Masehi, dilakukan reformasi besar terhadap sistem kalender Romawi yang kemudian dikenal sebagai kalender Julian. Reformasi ini bertujuan menertibkan perhitungan waktu agar sesuai dengan peredaran matahari dan memudahkan administrasi kekaisaran Romawi.

Berabad kemudian, kalender Julian dinilai memiliki selisih perhitungan waktu. Pada tahun 1582, Paus Gregorius XIII melakukan koreksi dan menetapkan kalender Gregorian. Kalender inilah yang kemudian dikenal sebagai kalender Masehi. Penetapan awal tahun yang dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus memperlihatkan bahwa kalender ini memiliki latar religius Kristen, meskipun dalam perkembangannya ia diposisikan sebagai kalender sipil dan administratif.

Melalui kolonialisme dan dominasi politik Eropa, kalender Masehi menyebar ke seluruh dunia. Ia kemudian diterima sebagai standar internasional dalam pemerintahan, perdagangan, pendidikan, dan hubungan antarnegara. Pada titik ini, kalender Masehi tidak lagi dipandang sebagai produk sejarah Barat, melainkan sebagai sistem waktu global yang dianggap netral dan praktis.

Di sisi lain, umat Islam memiliki sistem penanggalan sendiri, yaitu kalender Hijriah. Kalender ini lahir dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Penetapan kalender Hijriah dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab, bukan untuk kepentingan ritual semata, tetapi sebagai sistem administrasi negara Islam yang saat itu mulai berkembang.

Hijrah dipilih sebagai titik awal kalender Islam karena dianggap sebagai peristiwa paling menentukan dalam sejarah Islam. Hijrah menandai perubahan besar, dari kondisi tertindas menuju terbentuknya masyarakat Islam yang berdaulat. Kalender Hijriah berbasis peredaran bulan dan menjadi penanda waktu bagi kehidupan keagamaan, sosial, dan politik umat Islam.

Namun dalam perjalanan sejarah modern, kalender Hijriah semakin tersisih dari kehidupan sosial umat Islam. Ia lebih banyak digunakan dalam konteks ibadah, sementara urusan sosial dan administratif sepenuhnya dikuasai kalender Masehi. Dari sinilah persoalan kesadaran itu mulai muncul.

Dominasi Kalender Global dalam Kehidupan Umat:

Hari ini, hampir seluruh aktivitas umat Islam diatur oleh kalender Masehi. Jadwal pendidikan, pekerjaan, anggaran negara, hingga agenda pribadi merujuk pada sistem ini. Akibatnya, pergantian tahun Masehi dipahami sebagai momentum penting yang menandai berakhirnya satu fase kehidupan.

Tidak mengherankan jika umat Islam ikut larut dalam euforia tahun baru Masehi. Fenomena ini melibatkan siapa saja, terjadi setiap tahun, dan berlangsung di hampir semua ruang sosial. Tahun baru Masehi diperlakukan sebagai momen refleksi dan awal yang baru.

Tahun Baru Hijriah yang Kehilangan Makna Sosial:

Sebaliknya, tahun baru Hijriah tidak memiliki posisi yang sama dalam kehidupan sosial. Satu Muharram sering datang tanpa disadari. Banyak umat Islam tidak mengetahui kapan tahun Hijriah berganti. Momentum ini tidak dijadikan ruang refleksi bersama, baik di tingkat individu maupun di kelompok sosial umat Islam itu sendiri.

Padahal, kalender Hijriah lahir dari peristiwa hijrah yang sarat makna perubahan, perjuangan, dan tanggung jawab moral. Ketika tahun baru Hijriah diabaikan, yang hilang bukan hanya peringatannya, tetapi juga nilai hijrah sebagai konsep perubahan dalam kehidupan umat Islam.

Pengaruh Budaya Global dan Lemahnya Kesadaran Sejarah:

Ketimpangan sikap ini tidak lepas dari pengaruh budaya global yang diterima tanpa sikap kritis. Tahun baru Masehi dipromosikan secara masif melalui media dan budaya populer. Sebaliknya, tahun baru Hijriah jarang diangkat dalam diskursus publik dengan pendekatan yang relevan dan kontekstual.

Umat Islam akhirnya lebih akrab dengan momentum global dibandingkan momentum sejarahnya sendiri. Ini bukan soal merayakan atau tidak merayakan, tetapi soal kesadaran sejarah dan keberpihakan nilai.

Dampak terhadap Identitas dan Generasi Muda:

Jika kondisi ini terus berlangsung, dampaknya akan terasa pada generasi muda islam. Mereka tumbuh dengan kesadaran kalender Masehi, tetapi minim pemahaman tentang kalender Hijriah dan makna hijrah. Islam dipahami sebatas ritual, bukan sebagai sistem nilai yang hidup dan membentuk arah kehidupan.

Kesimpulan:

Antusiasme umat Islam terhadap tahun baru Masehi dan sikap abai terhadap tahun baru Hijriah mencerminkan ketimpangan kesadaran sejarah dan identitas. Kalender Masehi memang telah menjadi sistem global, tetapi kalender Hijriah adalah bagian dari fondasi peradaban Islam.

Tahun baru Hijriah seharusnya dijadikan momentum refleksi dan perubahan, sebagaimana makna hijrah itu sendiri. Tanpa upaya menghidupkan kembali kesadaran ini, umat Islam akan terus merayakan momentum global dengan penuh semangat, sementara momentum sejarahnya sendiri dibiarkan sunyi dan kehilangan makna.