Oleh: Bung Hirun
Opini, Wartarepublik.com - Di tengah derasnya arus informasi digital,di kalangan masyarakat sering kali dihadapkan pada kondisi di mana batasan antara fakta dan opini menjadi kabur. Era seperti ini banyak disebut oleh parah ahli dan para-pemikir sebagai Era post-truth—sebuah masa ketika emosi dan narasi sensasional lebih mudah dipercaya daripada data yang objektif. Situasi ini menimbulkan tantangan serius bagi kehidupan sosial, politik, maupun pergerakan mahasiswa. Karena itu, ajakan Kader GMNI Cabang Ternate untuk kembali menggunakan akal sehat menjadi sangat relevan dan penting.
GMNI, sebagai organisasi yang berwatak kerakyatan dan berlandaskan pemikiran kritis, memahami bahwa akal sehat adalah benteng terakhir ketika informasi semakin sulit dipertanggungjawabkan. Menghadapi post-truth, akal sehat berfungsi bukan hanya sebagai alat berpikir, tetapi sebagai kompas moral dan ideologis yang menjaga kita tetap berada pada jalur kebenaran.
Akal sehat membantu kita bisah membedakan fakta dari manipulasi. Di era ketika berita bohong, propaganda politik, dan opini yang sengaja dibelokkan bertebaran di ruang digital, Masyarakat terutama generasi muda dituntut untuk berpikir kritis. Maka dari itu Kader GMNI cabang ternate menekankan bahwasanya setiap informasi harus diuji,dianalisis, dan dipertibangkan sebelum diterima atau disebarkan. Ini bukan hanya sekedar persoalan intelektual, Akan tetapi juga ini bagian dari tanggung jawab etis kepada publik.
Penggunaan akal sehat mencegah mahasiswa dan masyarakat dari polarisasi emosional. Post-truth sering menciptakan situasi di mana orang mudah marah, terpecah, atau saling curiga tanpa dasar. Dengan akal sehat, setiap perbedaan pandangan bisa dihadapi secara dewasa dengan dialog, pemahaman, dan argumentasi yang rasional. Kader GMNI Cabang Ternate menegaskan bahwa perbedaan bukan alasan untuk konflik, tetapi ruang untuk saling belajar.
Akal sehat menjadi alat untuk menjaga marwah gerakan mahasiswa. GMNI percaya bahwa perjuangan sejati bukan sekadar teriakan di jalan, tetapi keberanian untuk menyuarakan kebenaran meski tidak populer. Di era post-truth, keberanian itu harus dibarengi dengan nalar yang jernih, data yang valid, dan kesadaran ideologis yang kuat. Gerakan tanpa akal sehat akan mudah dimasuki kepentingan yang merusak.
Akal sehat adalah dasar untuk membangun masa depan yang lebih baik. Mahasiswa tidak hanya dipanggil untuk mengkritik, tetapi juga menawarkan solusi yang berpijak pada realitas. Akal sehat adalah fondasi dari kreativitas, inovasi, dan keberpihakan terhadap rakyat—nilai yang menjadi jantung dari perjuangan GMNI. Ajakan Kader GMNI Cabang Ternate untuk menggunakan akal sehat bukanlah seruan biasa. Ini adalah panggilan untuk merawat kesadaran kritis, menjaga ruang publik tetap sehat, dan menjadikan kebenaran sebagai pilar perjuangan. Di tengah badai post-truth, akal sehat adalah obor yang menuntun mahasiswa dan masyarakat menuju peradaban yang lebih maju, adil, dan manusiawi.
.png)