Opini, Wartarepublik.com - Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam cara manusia berkomunikasi. Media sosial seperti WhatsApp, Instagram, X (Twitter), dan TikTok kini menjadi ruang utama terjadinya komunikasi interpersonal. Interaksi yang sebelumnya berlangsung secara tatap muka kini bergeser ke layar gawai. Perubahan ini menghadirkan berbagai peluang, namun juga menimbulkan tantangan yang tidak dapat diabaikan.
Media sosial memberikan kemudahan dalam membangun dan menjaga hubungan interpersonal. Jarak dan waktu tidak lagi menjadi penghalang dalam berkomunikasi. Seseorang dapat tetap terhubung dengan keluarga, sahabat, maupun rekan kerja kapan saja dan di mana saja.
Selain itu, media sosial memungkinkan individu untuk mengekspresikan diri secara lebih terbuka melalui teks, gambar, maupun video. Bagi sebagian orang, terutama yang cenderung pemalu, media sosial justru menjadi sarana efektif untuk membangun kepercayaan diri dalam berkomunikasi.
Saya juga menilai, di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan serius dalam kualitas komunikasi interpersonal. Minimnya isyarat nonverbal seperti ekspresi wajah, intonasi suara, dan bahasa tubuh sering kali menimbulkan kesalahpahaman. Pesan yang disampaikan melalui teks dapat ditafsirkan secara berbeda oleh penerima, sehingga berpotensi memicu konflik. Selain itu, komunikasi di media sosial cenderung bersifat singkat dan cepat, yang dapat mengurangi kedalaman makna serta empati dalam interaksi antarindividu.
Ada juga Tantangan lainnya adalah munculnya kecenderungan komunikasi yang kurang autentik. Media sosial sering kali mendorong individu untuk menampilkan citra diri yang ideal, bukan kondisi yang sebenarnya. Akibatnya, hubungan interpersonal yang terjalin bisa menjadi dangkal dan tidak mencerminkan kedekatan emosional yang sesungguhnya.
Ketergantungan berlebihan pada media sosial juga berpotensi mengurangi kemampuan komunikasi tatap muka, yang sejatinya tetap penting dalam membangun hubungan sosial yang sehat.
Meski demikian, peluang yang ditawarkan media sosial tetap besar jika dimanfaatkan secara bijak. Media sosial dapat menjadi sarana untuk memperluas jejaring sosial, membangun komunitas, serta meningkatkan literasi komunikasi digital. Dengan kesadaran etika berkomunikasi, empati, dan kemampuan berpikir kritis, komunikasi interpersonal di media sosial dapat berlangsung secara positif dan bermakna.
Pada akhirnya, media sosial hanyalah alat. Kualitas komunikasi interpersonal tetap bergantung pada cara individu menggunakannya. Tantangan yang ada seharusnya menjadi refleksi untuk meningkatkan kesadaran dalam berkomunikasi, bukan alasan untuk menjauh dari teknologi. Dengan keseimbangan antara komunikasi digital dan tatap muka, media sosial dapat menjadi peluang besar dalam memperkuat hubungan interpersonal di era digital.
.png)