Opini, Wartarepublik.com - ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis partisipasi masyarakat Desa Gorua, Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara dalam pendidikan tinggi, dengan fokus pada tiga aspek utama: hambatan struktural, motivasi individu, dan perspektif gender. Kajian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif berbasis analisis pustaka dan wawancara konseptual fiktif untuk menggambarkan kondisi sosial masyarakat pedesaan di wilayah timur Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya tingkat partisipasi masyarakat terhadap pendidikan tinggi dipengaruhi oleh keterbatasan akses infrastruktur pendidikan, kondisi ekonomi keluarga, serta rendahnya dukungan kebijakan pendidikan di tingkat lokal. Faktor motivasi individu, seperti keinginan meningkatkan status sosial dan mobilitas ekonomi, menjadi pendorong penting bagi sebagian kecil warga yang berhasil menempuh pendidikan tinggi. Dari perspektif gender, perempuan masih menghadapi hambatan sosial berupa ekspektasi domestik dan ketimpangan kesempatan belajar. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan partisipasi pendidikan tinggi di wilayah pedesaan memerlukan kebijakan yang integratif dan sensitif gender, dengan menitikberatkan pada pemerataan akses, pemberian beasiswa, serta kampanye sosial yang menumbuhkan kesadaran pendidikan sebagai modal pembangunan berkelanjutan.
Kata kunci: partisipasi pendidikan tinggi, Desa Gorua, hambatan struktural, motivasi individu, perspektif gender
Pendahuluan:
1.1 Latar Belakang.
Pendidikan tinggi merupakan salah satu indikator penting dalam pembangunan sumber daya manusia. Namun, kesenjangan akses antara wilayah perkotaan dan pedesaan masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Desa Gorua, yang terletak di Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, mencerminkan realitas tersebut: jumlah lulusan yang melanjutkan ke perguruan tinggi masih sangat rendah dibandingkan rata-rata nasional. Faktor geografis, sosial, ekonomi, dan budaya berperan penting dalam membentuk pola partisipasi pendidikan di wilayah ini.
Selain hambatan struktural seperti keterbatasan fasilitas dan biaya pendidikan, faktor motivasi individu serta pandangan gender terhadap pendidikan turut memengaruhi keputusan seseorang untuk melanjutkan studi. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya menganalisis keterkaitan antara ketiga dimensi tersebut dalam konteks masyarakat pedesaan.
1.2 Rumusan Masalah.
1. Apa saja hambatan struktural yang memengaruhi partisipasi masyarakat Desa Gorua dalam pendidikan tinggi?
2. Bagaimana motivasi individu berperan dalam keputusan melanjutkan pendidikan tinggi?
3. Bagaimana perspektif gender memengaruhi partisipasi pendidikan tinggi di Desa Gorua?
1.3 Tujuan Penelitian.
1. Mengidentifikasi dan menganalisis hambatan struktural dalam partisipasi pendidikan tinggi.
2. Mendeskripsikan faktor motivasi individu terhadap pendidikan tinggi.
3. Menganalisis pengaruh perspektif gender terhadap partisipasi pendidikan tinggi.
1.4 Manfaat Penelitian.
1. Teoretis: memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian sosial dan pendidikan berbasis gender di wilayah pedesaan.
2. Praktis: menjadi dasar bagi pemerintah daerah dan lembaga pendidikan dalam merancang kebijakan peningkatan akses pendidikan tinggi di daerah terti
Tinjaun Pustaka:
2.1 Partisipasi Pendidikan Tinggi
Menurut Tilak (2015), partisipasi pendidikan tinggi berkaitan dengan akses, kesiapan sosial-ekonomi, dan motivasi akademik masyarakat. Di daerah pedesaan, partisipasi sering kali terhambat oleh faktor eksternal seperti jarak dan fasilitas pendidikan (Huisman & Smolentseva, 2018).
2.2 Hambatan Struktural.
Hambatan struktural mencakup kondisi sosial-ekonomi, kebijakan publik, serta infrastruktur yang memengaruhi kesempatan belajar (Bourdieu, 1986). Dalam konteks pedesaan, ketiadaan transportasi, biaya pendidikan tinggi, dan lemahnya dukungan kebijakan lokal menjadi tantangan utama.
2.3 Motivasi Individu.
Motivasi individu merupakan faktor psikologis yang menentukan keputusan seseorang dalam mengejar pendidikan (Deci & Ryan, 2000). Dalam masyarakat tradisional, motivasi sering kali berkaitan dengan keinginan memperbaiki status sosial dan peluang kerja.
2.4 Perspektif Gender.
Menurut Kabeer (1999), ketimpangan gender dalam pendidikan merupakan hasil konstruksi sosial yang menempatkan perempuan dalam peran domestik. Di daerah pedesaan, hal ini menyebabkan rendahnya aspirasi pendidikan perempuan dibanding laki-laki.
2.5 Penelitian Terdahulu.
Beberapa penelitian relevan menunjukkan pola serupa: Suryadi (2019) menemukan bahwa faktor ekonomi menjadi penentu utama rendahnya partisipasi pendidikan tinggi di Indonesia bagian timur; Nuraeni (2020) menyoroti pengaruh peran keluarga dan budaya patriarki terhadap keputusan pendidikan anak perempuan.
2.6 Kerangka Pemikiran.
Penelitian ini menggunakan pendekatan struktural-fungsional dengan asumsi bahwa pendidikan merupakan sistem sosial yang dipengaruhi oleh interaksi antara faktor struktural, individu, dan kultural.
Metode Penelitian:
3.1 Jenis dan Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Pendekatan ini dipilih karena permasalahan yang diteliti bersifat kompleks, kontekstual, dan berhubungan erat dengan pengalaman sosial masyarakat Desa Gorua. Menurut Creswell (2014), penelitian kualitatif bertujuan memahami makna yang diberikan individu terhadap fenomena sosial yang mereka alami.
Pendekatan deskriptif digunakan untuk menggambarkan secara mendalam faktor-faktor yang memengaruhi partisipasi pendidikan tinggi—khususnya hambatan struktural, motivasi individu, dan perspektif gender—tanpa melakukan manipulasi variabel atau pengujian hipotesis kuantitatif.
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian.
Penelitian dilakukan di Desa Gorua, Kecamatan Bere Bere Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada kondisi sosial yang masih menunjukkan tingkat partisipasi pendidikan tinggi yang rendah dibandingkan wilayah lain di Maluku Utara. Kegiatan penelitian dilaksanakan secara konseptual (fiktif ilmiah), dengan simulasi data berbasis kondisi empiris yang relevan dari penelitian terdahulu dan sumber resmi seperti Badan Pusat Statistik (BPS) Maluku Utara.
3.3. Subjek dan Informan Penelitian.
Subjek penelitian terdiri atas anggota masyarakat Desa Gorua yang secara sosial memiliki keterkaitan dengan proses pendidikan, yaitu:
1. Tokoh masyarakat dan aparat desa.
2. Orang tua yang memiliki anak usia sekolah menengah.
3. Mahasiswa asal Desa Gorua yang sedang menempuh pendidikan tinggi di luar daerah.
4. Guru dan tenaga pendidik tingkat menengah.
Pemilihan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan subjek berdasarkan kriteria tertentu yang dianggap paling memahami permasalahan penelitian (Miles, Huberman, & Saldaña, 2014). Jumlah informan konseptual yang digunakan sebanyak 10 orang, yang mewakili berbagai latar sosial, ekonomi, dan gender.
3.3 Sumber Data.
Penelitian ini menggunakan dua jenis sumber data:
1. Data primer (simulatif): berupa hasil wawancara fiktif yang menggambarkan persepsi, pengalaman, dan pandangan informan terhadap hambatan pendidikan tinggi.
2. Data sekunder: diperoleh dari kajian literatur,
laporan statistik pendidikan, jurnal ilmiah, dan dokumen pemerintah daerah terkait kebijakan pendidikan di Maluku Utara.
Sumber data sekunder digunakan untuk memperkuat validitas konseptual hasil penelitian.
3.4 Teknik Pengumpulan Data.
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan tiga cara:
1. Wawancara mendalam (in-depth interview)
Digunakan untuk menggali pemahaman mendalam mengenai pengalaman dan pandangan masyarakat terkait pendidikan tinggi. Pedoman wawancara berfokus pada tiga aspek utama: hambatan struktural, motivasi individu, dan peran gender.
Meskipun bersifat fiktif, pengamatan dilakukan secara konseptual terhadap dinamika sosial yang biasanya terjadi di desa pesisir seperti Gorua, misalnya interaksi antar keluarga, kegiatan pendidikan, dan pola kerja masyarakat.
3. Studi dokumentasi. Meliputi analisis data sekunder seperti laporan statistik pendidikan, hasil penelitian terdahulu, dan dokumen kebijakan pendidikan daerah.
3.5 Teknik Analisis Data.
Analisis data dilakukan dengan menggunakan model Miles dan Huberman (1994) yang meliputi tiga tahapan utama:
1. Reduksi Data Menyeleksi, memfokuskan, dan menyederhanakan data yang relevan dengan fokus penelitian.
2. Penyajian Data, Menyusun hasil temuan dalam bentuk narasi dan tabel konseptual yang menggambarkan hubungan antarvariabel sosial.
3. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi, Menafsirkan makna data, mencari pola hubungan antara faktor struktural, motivasi, dan gender, serta memverifikasi konsistensi temuan dengan teori.
Hasil dan Pembahasan:
4.1 Kondisi Umum Desa Gorua
Desa Gorua terletak di pesisir Kecamatan Bere Bere Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara. Berdasarkan data fiktif yang disimulasikan dari laporan BPS (2025), jumlah penduduknya sekitar 1.850 jiwa dengan mata pencaharian utama sebagai nelayan, petani kelapa, dan pedagang kecil.
Fasilitas pendidikan di desa ini terdiri atas dua sekolah dasar, satu sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas (SMA)
Kondisi geografis ini menimbulkan tantangan signifikan terhadap akses pendidikan tinggi. Dari 78 siswa SMA asal Gorua yang lulus pada periode 2021–2025, hanya 14 orang (18%) yang melanjutkan ke perguruan tinggi, baik di Ternate maupun Manado.
Secara umum, masyarakat Gorua menempatkan pendidikan tinggi sebagai hal penting, tetapi masih dianggap “barang mahal” yang sulit dijangkau. Beberapa informan menyebut bahwa pendidikan tinggi hanya mungkin ditempuh oleh keluarga yang memiliki kerabat di kota atau bantuan beasiswa.
4.2 Hambatan Struktural.
Hambatan utama adalah keterbatasan fasilitas, minimnya sarana transportasi, dan biaya kuliah tinggi. Selain itu, kurangnya kebijakan afirmatif bagi pelajar pedesaan memperkuat ketimpangan akses.
4.3 Motivasi Individu.
Walaupun terdapat hambatan struktural, sebagian kecil individu di Desa Gorua memiliki motivasi kuat untuk melanjutkan studi. Berdasarkan wawancara fiktif terhadap mahasiswa asal desa, motivasi mereka terbagi dalam dua kategori utama:
1. Motivasi intrinsik, yaitu keinginan untuk meningkatkan pengetahuan, mengubah kehidupan keluarga, dan berkontribusi bagi pembangunan desa.
Motivasi ekstrinsik, yakni dorongan memperoleh pekerjaan yang lebih baik dan status sosial yang lebih tinggi di mata masyarakat.
2. Namun, motivasi tersebut sering kali melemah ketika dihadapkan pada realitas ekonomi dan dukungan keluarga yang terbatas. Sebagaimana dikemukakan Deci dan Ryan (2000) dalam Self-Determination Theory, motivasi individu memerlukan dukungan sosial dan lingkungan yang kondusif untuk berkembang. Dengan demikian, dalam konteks Gorua, motivasi individu bukan faktor penggerak utama, melainkan hasil interaksi kompleks antara kondisi ekonomi, lingkungan sosial, dan nilai budaya.
4.4 Perspektif Gender.
Temuan fiktif menunjukkan adanya ketimpangan gender dalam akses pendidikan tinggi di Desa Gorua. Dari 14 mahasiswa asal desa yang melanjutkan kuliah, 10 orang adalah laki-laki, dan hanya 4 orang perempuan. Perempuan di Gorua menghadapi tekanan sosial dan norma budaya yang kuat, di mana peran mereka masih dikaitkan dengan tanggung jawab domestik.
Perempuan di Desa Gorua cenderung menghadapi ekspektasi sosial untuk menikah muda atau membantu pekerjaan domestik. Hal ini menghambat peluang mereka melanjutkan studi ke perguruan tinggi, sesuai dengan temuan konseptual Kabeer (1999) dan Nuraeni (2020).
4.5 Analisis Interaksi Ketiga Faktor.
Ketiga faktor utama penelitian ini saling berinteraksi membentuk sistem sosial yang menentukan partisipasi pendidikan tinggi. Analisis menunjukkan bahwa hambatan struktural memperlemah motivasi individu, sementara perspektif gender mempersempit ruang partisipasi bagi perempuan. Pola interaksi ini dapat digambarkan secara konseptual berikut:
Menurunkan Motivasi Individu (khususnya pada perempuan)
Memperkuat Ketimpangan Gender dalam Pendidikan Tinggi
5. PENUTUP:
5.1 Kesimpulan.
Rendahnya partisipasi pendidikan tinggi di Desa Gorua disebabkan oleh kombinasi hambatan struktural, lemahnya motivasi individu akibat kondisi sosial-ekonomi, dan ketimpangan gender yang masih kuat. Peningkatan akses pendidikan tinggi memerlukan pendekatan kebijakan holistik berbasis kesetaraan sosial.
5.2 Saran.
1. Pemerintah daerah perlu memperluas program beasiswa dan dukungan infrastruktur pendidikan.
2. Lembaga pendidikan tinggi harus menjalin kemitraan dengan desa untuk menyediakan jalur afirmatif bagi pelajar pedesaan.
3. Kampanye kesetaraan gender dan kesadaran pendidikan perlu diperkuat di tingkat keluarga dan komunitas lokal.
Daftar Pustaka:
Bourdieu, P. (1986). The forms of capital. In J. Richardson (Ed.), Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education (pp. 241–258). Greenwood.
Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The “what” and “why” of goal pursuits: Human needs and the self-determination of behavior. Psychological Inquiry, 11(4), 227–268.
Huisman, J., & Smolentseva, A. (2018). Access to higher education: The global experience. International Studies in Higher Education, 9(2), 55–72.
Kabeer, N. (1999). Resources, agency, achievements: Reflections on the measurement of women’s empowerment. Development and Change, 30(3), 435–464.
Miles, M. B., & Huberman, A. M. (1994). Qualitative Data Analysis. Sage Publications.
Nuraeni, S. (2020). Gender dan akses pendidikan di wilayah perdesaan Indonesia Timur. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 15(2), 112–121.
Suryadi, D. (2019). Kesenjangan pendidikan tinggi di Indonesia Timur: Perspektif kebijakan publik. Jurnal Sosial Humaniora, 8(1), 65–78.
Tilak, J. B. G. (2015). Higher education, poverty and development. International Journal of Educational Development, 40, 10–20.