PEREMPUAN SEBAGAI JANTUNG PERADABAN 2026 -->

Header Menu

PEREMPUAN SEBAGAI JANTUNG PERADABAN 2026

Admin Redaksi
Monday, 5 January 2026

Oleh: Indri Harun Haji Ketua Umum Kohati Komisariat Ilmu Budaya Unkhair


Opini, Wartarepublik.com - Peradaban di Titik Balik Sejarah: Tahun 2026 menandai satu fase penting dalam perjalanan peradaban manusia. Dunia tidak hanya bergerak cepat secara teknologi, tetapi juga mengalami keguncangan serius pada aspek moral, sosial, dan kemanusiaan. Perang, krisis iklim, ketimpangan ekonomi, polarisasi identitas, dan banjir informasi palsu telah menciptakan kelelahan kolektif yang mendalam. Manusia modern hidup dalam dunia yang serba terkoneksi, namun justru semakin terasing satu sama lain.

Di tengah situasi tersebut, muncul kebutuhan mendesak untuk meninjau ulang fondasi peradaban: nilai apa yang selama ini kita bangun, dan siapa yang sesungguhnya menopang keberlanjutan kehidupan manusia? Peradaban tidak semata-mata soal gedung pencakar langit, kecerdasan buatan, atau pertumbuhan ekonomi, melainkan tentang bagaimana manusia menjaga martabat, keberlanjutan, dan makna hidup bersama.

Dalam konteks inilah, perempuan kembali tampil sebagai pusat diskursus peradaban. Namun bukan sebagai isu tambahan atau agenda pinggiran, melainkan sebagai jantung peradaban itu sendiri. Perempuan bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi kekuatan yang menghidupkan, menjaga, dan memperbarui peradaban dari dalam.

Perempuan dan Jantung Peradaban: Sebuah Metafora Filosofis:

Jantung adalah organ yang bekerja tanpa henti, sering kali tanpa disadari. Ia tidak menuntut sorotan, tetapi menentukan hidup atau mati seluruh tubuh. Metafora ini sangat tepat untuk menggambarkan posisi perempuan dalam sejarah peradaban manusia. Sejak awal peradaban, perempuan telah menjadi sumber kehidupan biologis, pengasuh nilai kultural, dan penjaga keseimbangan sosial.

Namun, seperti jantung yang jarang disyukuri selama ia berfungsi normal, peran perempuan sering kali dianggap alamiah, bukan politis; kodrati, bukan historis. Kerja-kerja perempuan—melahirkan, merawat, mendidik, menjaga harmoni—dianggap sebagai tugas domestik yang tidak memiliki nilai peradaban. Padahal, justru dari kerja-kerja inilah peradaban bertahan lintas generasi.

Tahun 2026 menjadi momentum penting untuk menyadari bahwa peradaban yang sehat tidak mungkin dibangun hanya dengan logika maskulin yang menekankan dominasi, ekspansi, dan kompetisi. Peradaban membutuhkan denyut empati, keberlanjutan, dan kepedulian—nilai-nilai yang selama ini dijaga dan diwariskan oleh perempuan.

Sejarah Panjang Marginalisasi Perempuan dalam Narasi Peradaban:

Sejarah peradaban dunia sebagian besar ditulis dari perspektif laki-laki. Nama-nama besar yang diabadikan adalah para penakluk, pemimpin politik, dan penemu teknologi—sementara perempuan hadir sebagai catatan kaki, atau bahkan dihapus sepenuhnya dari sejarah resmi. Padahal, di balik setiap peradaban besar, selalu ada perempuan yang menopangnya.

Patriarki tidak hanya menindas perempuan secara struktural, tetapi juga menciptakan cara pandang yang meremehkan kerja-kerja perawatan (care work). Kerja merawat dianggap tidak produktif karena tidak menghasilkan keuntungan ekonomi langsung. Akibatnya, peradaban modern tumbuh dengan cacat struktural: memuja pertumbuhan, tetapi mengabaikan keberlanjutan; mengejar kekuasaan, tetapi melupakan kemanusiaan.

Tahun 2026 menghadirkan kesadaran baru bahwa krisis global hari ini bukan semata kegagalan sistem ekonomi atau politik, melainkan kegagalan peradaban yang terlalu lama mengabaikan nilai-nilai yang diasosiasikan dengan perempuan.

Perempuan dan Krisis Kemanusiaan Global:

Dalam berbagai krisis global—konflik bersenjata, bencana alam, pandemi, dan krisis pengungsi—perempuan selalu berada di posisi paling rentan, tetapi sekaligus paling tangguh. Mereka kehilangan akses, keamanan, dan hak, namun tetap menjadi penopang utama kehidupan komunitas.

Di wilayah konflik, perempuan tidak hanya menjadi korban kekerasan, tetapi juga agen perdamaian. Mereka membangun jaringan solidaritas, memulihkan trauma kolektif, dan menjaga keberlanjutan kehidupan di tengah kehancuran. Perempuan sering kali menjadi pihak pertama yang memulihkan peradaban setelah perang berakhir, meski perannya jarang diakui secara formal.

Krisis kemanusiaan menunjukkan satu hal penting: peradaban bertahan bukan karena kekuatan senjata, tetapi karena kemampuan merawat kehidupan. Di sinilah perempuan berfungsi sebagai jantung peradaban—menjaga denyut hidup ketika struktur formal runtuh.

Perempuan, Lingkungan, dan Masa Depan Bumi:

Krisis iklim merupakan tantangan terbesar peradaban abad ke-21. Eksploitasi alam yang berlebihan, didorong oleh logika kapitalisme dan maskulinitas dominan, telah membawa bumi ke ambang kehancuran. Dalam konteks ini, perempuan menawarkan paradigma alternatif: relasi yang lebih etis dan berkelanjutan dengan alam.

Di banyak komunitas adat dan pedesaan, perempuan berperan sebagai penjaga benih, air, dan pangan. Mereka memahami alam bukan sebagai objek yang harus ditaklukkan, tetapi sebagai entitas yang harus dirawat. Pengetahuan ekologis perempuan sering kali bersifat lokal, praktis, dan berorientasi jangka panjang—berbeda dengan pendekatan industri yang eksploitatif.

Peradaban 2026 membutuhkan perubahan radikal dalam cara manusia berelasi dengan alam. Tanpa melibatkan perempuan sebagai pengambil keputusan utama dalam isu lingkungan, peradaban hanya akan mengulang kesalahan yang sama dalam bentuk yang lebih canggih.

Perempuan dalam Era Teknologi dan Post-Kemanusiaan:

Tahun 2026 juga ditandai oleh dominasi teknologi digital dan kecerdasan buatan. Dunia bergerak menuju era post-kemanusiaan, di mana batas antara manusia dan mesin semakin kabur. Dalam situasi ini, pertanyaan etis menjadi sangat penting: apa arti menjadi manusia?

Perempuan memainkan peran krusial dalam menjaga agar teknologi tetap berpihak pada kemanusiaan. Ketika algoritma cenderung mereproduksi bias dan ketimpangan, perspektif perempuan menghadirkan sensitivitas terhadap keadilan, inklusivitas, dan perlindungan kelompok rentan.

Tanpa kehadiran perempuan dalam desain dan pengambilan keputusan teknologi, peradaban digital berisiko menjadi peradaban yang dingin, eksklusif, dan tidak berjiwa. Jantung peradaban digital harus tetap berdenyut dengan nilai empati—dan perempuan adalah penjaganya.

Perempuan dan Rekonstruksi Etika Sosial:

Peradaban modern mengalami krisis etika yang serius. Polarisasi politik, ujaran kebencian, dan individualisme ekstrem telah merusak kohesi sosial. Dalam situasi ini, perempuan berperan penting dalam merekonstruksi etika sosial berbasis empati dan dialog.

Melalui keluarga, pendidikan, dan gerakan sosial, perempuan menanamkan nilai kepedulian, keadilan, dan tanggung jawab sosial. Mereka mengajarkan bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan realitas yang harus dikelola dengan kebijaksanaan.

Peradaban 2026 membutuhkan etika baru—etika yang tidak berakar pada dominasi, tetapi pada relasi. Etika ini hanya dapat tumbuh jika perempuan ditempatkan sebagai pusat peradaban, bukan pinggirannya.

Melampaui Emansipasi: Menuju Sentralitas Perempuan:

Perjuangan perempuan hari ini tidak lagi cukup berhenti pada emansipasi formal. Akses pendidikan, pekerjaan, dan politik penting, tetapi belum cukup. Tantangan utama peradaban 2026 adalah mengakui perempuan sebagai subjek penentu arah peradaban.

Ini berarti menggeser paradigma pembangunan dari maskulin-sentralistik menuju paradigma relasional dan berkelanjutan. Perempuan tidak lagi diposisikan sebagai “penerima kebijakan”, tetapi sebagai arsitek masa depan.

Sentralitas perempuan bukan ancaman bagi laki-laki, melainkan kesempatan bagi peradaban untuk pulih dari krisis kemanusiaannya.

Masa Depan Peradaban Berdenyut dari Perempuan:

Jika peradaban adalah tubuh besar umat manusia, maka perempuan adalah jantung yang menjaga denyut kehidupan. Tanpa perempuan, peradaban kehilangan empati, arah, dan makna. Tahun 2026 menjadi momentum historis untuk mengakui kebenaran ini secara jujur dan berani.

Peradaban masa depan tidak akan ditentukan oleh siapa yang paling kuat menaklukkan, tetapi oleh siapa yang paling mampu merawat kehidupan. Dalam hal ini, perempuan bukan hanya bagian dari solusi—mereka adalah inti peradaban itu sendiri.

Mengakui perempuan sebagai jantung peradaban bukanlah pilihan ideologis, melainkan kebutuhan eksistensial umat manusia. Sebab hanya dengan jantung yang sehat, peradaban dapat terus hidup, tumbuh, dan memberi harapan bagi generasi yang akan datang.