
Ternate, Wartarepublik.com - ?Sekitar pukul 23:00 WIT, Wakil Gubernur Sarbin Sehe selesai sampaikan sambutan dan mengetuk palu sebagai tanda bahwa acara Kongres Himpunan Pelajar Mahasiswa Sula (HPMS) di buka, acara yang berlokasi di Asrama Haji Kota Ternate (11, 01, 2026).
Merespon dari ketukan palu Wagub. Jek, Lesung, dan Fai maju kedepan membentangkan poster yang bertuliskan (Tanah Adat Bukan Tanah Negara, Pulau Mangoli Bukan Pulau Kosong; Tolak 10 IUP di Pulau Mangoli; Negara Mengusir Kami Masyarakat Pulau Mangoli Melalui 10 IUP).
Aksi bentangkan poster itu sebagai respon dari 10 UIP yang berada di Pulau Mangoli. Aksi kami di respon dengan pemukulan dari (oknum) Panitia Kongres HPMS, yang mengakibatkan kami di represif, wajah Jek lebam karena di pukul, dan di dorong keluar bersama Lesung dan Fai.
Setelah kami di paksa keluar dari dalam ruang acara dengan di represif, berbagai rentetan intimidasi dari berbagai oknum dilontarkan, mulai dari "buat malu orang Sula punya muka; cara yang kalian buat ini salah tempat; ini bukan kegiatan orang Mangoli, ini kegiatan orang Sula", namun mereka lupa bahwa Pulau Mangoli juga bagian dari Kepulauan Sula. Setelah aksi pembentangan poster dan kami diusir paksa dari lokasi Kongres, meraka malah asik memutar lagu dan berjoget-joget di asrama haji, seakan-akan pembentangan poster untuk menuntut mencabut 10 IUP di Pulau Mangoli adalah sebuah tindakan yang memalukan, sedangkan joget-joget adalah hal yang dibenarkan dan tidak buat malu.
Dari represif dan intimidasi yang di lakukan oleh oknum-oknum Panitia Kongres HPMS, memperlihatkan bahwa, mereka secara terang-terangan (bersepakat dengan adanya 10 IUP di Pulau Mangoli).
Aksi yang kami lakukan dengan tujuan untuk mengajak dan memperingatkan seluruh delegasi mahasiswa Sula dari berbagai cabang, yang menghadiri Kongres HPMS untuk menolak 10 IUP di Pulau Mangoli. Karena secara organisasi HPMS sampai sejauh ini tidak punya sikap dalam merespon terkait 10 IUP Pulau Mangoli, namun aksi kami dibalas represif.
.png)