Seni Maluku Utara: Dari Ekspresi Budaya Menuju Penggerak Perubahan Sosial -->

Header Menu

Seni Maluku Utara: Dari Ekspresi Budaya Menuju Penggerak Perubahan Sosial

Admin Redaksi
Monday, 5 January 2026

Oleh: Muhammad Ilham Almadani


Opini, Wartarepublik.com - Identitas dan Peran Seni: Maluku Utara, dengan kekayaan warisan budayanya, memiliki seni yang hidup dan dinamis. Seni di daerah ini bukan hanya sekadar hiburan, melainkan juga cerminan identitas dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya. Seni menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, dari upacara adat hingga ekspresi kreatif individu. Seni menjadi simbol penggerak perjuangan, sehingga ia tidak monoton hanya sebagai hiburan, tetapi juga mempunyai spirit dan tekad untuk mempertahankan seni sebagai instrumen gerakan.

Seni Sebagai Wadah Advokasi:

Seni di Maluku Utara memiliki peran penting dalam menyuarakan aspirasi dan mengkritisi kebijakan yang merugikan masyarakat. Melalui seni pertunjukan, seperti teaterikal yang mengangkat isu kerusakan lingkungan akibat pertambangan di Pulau Halmahera, masyarakat adat dapat menceritakan pengalaman mereka dan dampak yang mereka rasakan. Seni visual, seperti lukisan dan instalasi, juga menjadi media untuk menyampaikan pesan-pesan sosial dan politik.
Musik, dengan lirik-lirik yang menggugah, dapat membangkitkan semangat perlawanan dan persatuan. Puisi yang dibacakan di ruang publik menjadi wadah untuk mengkritik kebijakan pemerintah terkait izin tambang yang tidak transparan dan merugikan masyarakat lokal. Monolog yang menceritakan kisah-kisah pembungkaman suara aktivis lingkungan dan pembela hak-hak masyarakat adat memberikan gambaran tentang tantangan yang dihadapi dalam memperjuangkan keadilan.

Relevansi Kutipan Sitor Situmorang:
Ada sebuah kutipan dari seorang sastrawan, Sitor Situmorang, yang berbunyi, ‘Seni harus memikul amanat penderitaan rakyat’. Kutipan ini menekankan bahwa peran seni tidak hanya soal estetika, tetapi juga menyuarakan realitas sosial dan perjuangan masyarakat. Kutipan Sitor Situmorang sangat relevan dengan konteks seni di Maluku Utara, di mana seni tidak hanya menjadi ekspresi budaya, tetapi juga sebagai alat untuk menyuarakan aspirasi masyarakat dan mengkritisi ketidakadilan. Dengan demikian, seni mampu menggubris isu-isu lokal di Maluku Utara dengan seni sebagai perantara.

Pendidikan Seni Sejak Dini:

Penanaman nilai-nilai seni sejak dini kepada anak-anak merupakan bagian penting dari pelestarian budaya di Maluku Utara. Tarian Cakalele, yang melambangkan keberanian prajurit Maluku Utara, juga menjadi bagian dari kurikulum pendidikan seni di sekolah-sekolah. Alat musik tradisional seperti Tifa, yang digunakan dalam upacara adat, diperkenalkan kepada anak-anak sebagai cara untuk menanamkan rasa cinta dan bangga terhadap budaya mereka sendiri. Program ekstrakurikuler di sekolah-sekolah yang mengajarkan seni tari dan musik tradisional, serta festival seni anak-anak yang menampilkan karya-karya mereka, menjadi wadah untuk mengembangkan kreativitas dan bakat seni anak-anak Maluku Utara.

Misalnya, dalam pembelajaran tari Cakalele, selain diajarkan gerakan tradisional, anak-anak juga diajarkan makna sejarah perjuangan pahlawan yang melawan penindasan. Sehingga mereka memahami bahwa seni bukan hanya untuk upacara, tetapi juga untuk menyuarakan keberanian dan perubahan. Demikian pula, pembelajaran lirik musik tradisional di sekolah dihubungkan dengan isu lingkungan saat ini, mengajak mereka menciptakan lirik baru yang mengkritisi kerusakan alam akibat pertambangan.

Tantangan SDM:

Pengembangan seni dan budaya di Maluku Utara dihadapkan pada tantangan serius terkait sumber daya manusia. Kendala utamanya meliputi kurangnya pemahaman mendalam tentang sejarah seni, kemampuan pengelolaan komunitas seni yang masih terbatas, serta tingkat literasi seni dan budaya di kalangan masyarakat yang perlu ditingkatkan. Selain itu, kualitas SDM di bidang ini menjadi perhatian utama, mengingat banyak pelaku seni dan pengelola kegiatan budaya yang belum memiliki kualifikasi dan pelatihan yang memadai.

Kurangnya pelatihan bagi seniman lokal membuat sulit bagi mereka untuk mengembangkan bentuk seni yang lebih inovatif dalam menyuarakan isu-isu sosial, atau berkomunikasi dengan audiens nasional/internasional. Oleh karena itu, program pelatihan yang difokuskan pada seni advokasi (seperti penulisan naskah teater berbasis isu lokal atau manajemen kampanye seni) akan memperkuat peran seni sebagai penggerak perubahan, sambil mengatasi kekurangan SDM. Oleh karena itu, peningkatan kualitas pendidikan seni dan pelatihan bagi mereka perlu dijadikan prioritas, agar memiliki kompetensi yang cukup untuk mengembangkan seni dan budaya Maluku Utara secara berkelanjutan.

Solusi dan Kolaborasi:

Dengan berbagai upaya yang dilakukan, seni dan budaya Maluku Utara terus berkembang dan menjadi bagian penting dari identitas serta kehidupan masyarakatnya. Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan pihak terkait menjadi kunci untuk memastikan bahwa seni dan budaya Maluku Utara terus lestari dan menjadi kebanggaan generasi mendatang. 

Kemitraan antara komunitas seni lokal dengan Dinas Pariwisata dalam penyelenggaraan festival seni tahunan, serta dukungan dari perusahaan swasta untuk program-program pelestarian budaya, menjadi contoh konkret dari upaya kolaboratif ini.

Selain itu pula, kita bisa menghadirkan wadah pendukung seni, seperti museum, galeri, pusat pertunjukan, dan ruang kreatif. Sebagai langkah awal untuk menciptakan generasi muda Maluku Utara yang cinta akan kesenian. Museum, sebagai wadah untuk memberikan literasi dan edukasi agar seni tetap lestari. 

Lalu, galeri sebagai wadah untuk mempromosikan seni agar dipandang dan diapresiasi, entah itu nasional maupun internasional. Setelah itu, pusat pertunjukan sebagai cara bagi para pelaku seni menampilkan pementasan, entah itu teater, konser musik, tari, dan bentuk seni yang lain. Dan, ruang kreatif sendiri sebagai upaya untuk mendorong serta meningkatkan SDM agar mengembangkan kreativitas, inovasi, dan kolaborasi.

Implementasi dan Visi:

Nah, untuk mewujudkan visi Maluku Utara sebagai pusat seni yang dinamis, diperlukan sebuah implementasi yang matang dan melibatkan berbagai elemen masyarakat. Adanya partisipasi aktif dari masyarakat, khususnya para seniman, budayawan, akademisi, tokoh adat, dan para pemangku jabatannya, karena mereka inilah yang menjadi kunci utama untuk memastikan implementasi ini sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat lokal. Oleh karena itu, mekanisme partisipasi yang efektif dan inklusif perlu dirancang, seperti diadakan sosialisasi, semisal diskusi publik, dll.

Langkah ini, memungkinkan generasi muda nanti, bukan hanya melihat seni sebagai seremonial(momentuman) tapi sebagai penggerak perubahan. Agar menjadi generasi yang kreatif, kritis, serta adaptif terhadap perkembangan zaman. Dengan demikian, seni akan menjadi landasan untuk membangun wawasan yang luas, mengasah kemampuan memecahkan masalah, dan menginspirasi tindakan nyata untuk masa depan yang lebih baik. Mari maju bersama untuk membangun seni yang lebih inklusif dan eksis dalam berbagai fenomena-fenomena sosial.
Catatn Kaki:

1. Pemerintah Provinsi Maluku Utara, “Harmoni dalam Nada: Pesparawi dan Yangere Satukan Maluku Utara”, Malutprov.go.id, diakses 4 Januari 2026.

2. Siti Nurhaliza dkk., “Membangun Harmoni Sosial melalui Musik dalam Ekspresi Budaya Orang Basudara di Maluku”, Panggung 12, no. 2 (2023): 45–67, Neliti.com.

3. Ahmad Fauzi, “PERAN PENDIDIKAN SENI BUDAYA DALAM MEMBANGUN KARAKTER SISWA DI MIS SANANA: 

PENDEKATAN PRAKTIK LAPANGAN”, Inovasi: Jurnal Ilmiah Pengembangan Pendidikan 8, no. 1 (2022): 112–125, backup-ejournal.lpipb.com.

4. ANTARA News, “MCC lakukan edukasi lingkungan kepada anak-anak di Ambon lewat desain”, 15 Agustus 2024, diakses 4 Januari 2026.

5. ANTARA News, “Museum Siwalima Maluku kekurangan SDM”, 3 Oktober 2023, diakses 4 Januari 2026.

6. Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XX, 
“Lomba Tari Kreasi Tradisional Maluku”, Kebudayaan.kemdikbud.go.id, 20 November 2024, diakses 4 Januari 2026.

Daftar Referensi:

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XX. “Lomba Tari Kreasi Tradisional Maluku”. Kebudayaan.kemdikbud.go.id, 20 November 2024. Diakses 4 Januari 2026.

Fauzi, Ahmad. “PERAN PENDIDIKAN SENI BUDAYA DALAM MEMBANGUN KARAKTER SISWA DI MIS SANANA: PENDEKATAN PRAKTIK LAPANGAN”. Inovasi: Jurnal Ilmiah Pengembangan Pendidikan 8, no. 1 (2022): 112–125. Backup-ejournal.lpipb.com.

Nurhaliza, Siti, dkk. “Membangun Harmoni Sosial melalui Musik dalam Ekspresi Budaya Orang Basudara di Maluku”. Panggung 12, no. 2 (2023): 45–67. Neliti.com.

Pemerintah Provinsi Maluku Utara. “Harmoni dalam Nada: Pesparawi dan Yangere Satukan Maluku Utara”. Malutprov.go.id. Diakses 4 Januari 2026.

ANTARA News. “MCC lakukan edukasi lingkungan kepada anak-anak di Ambon lewat desain”. 15 Agustus 2024. Diakses 4 Januari 2026.

ANTARA News. “Museum Siwalima Maluku kekurangan SDM”. 3 Oktober 2023. Diakses 4 Januari 2026.