Simbolik Pemancangan Tiang Alif Mesjid Al-Muhajirin: Dalam Khazanah Filsafat Islam -->

Header Menu

Simbolik Pemancangan Tiang Alif Mesjid Al-Muhajirin: Dalam Khazanah Filsafat Islam

Admin Redaksi
Saturday, 17 January 2026

Oleh: Sahib Munawar. S.Pd,I.M.,Pd: Akademisi, Pegiat Filsafat, Literasi Maluku Utara

Opini, Wartarepublik.com - DALAM KHAZANAH Filsafat Islam dan tradisi Arsitektur, secara simbolik bahwa: Tiang Alif Masjid merupakan representasi mendalam tentang ketauhidan, spiritualitas dan hubungan antara pencipta (Ilahi) dan makhluk, khusus di wilayah Indonesia bagian Timur yakni, Maluku Utara.

Tiang Alif adalah mahkota Masjid yang memiliki makna yang begitu sakral yang diyakini oleh umat muslim di dunia dan merupakan peradaban Islam pertama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, waktu hijrah ke Madinah.

Secara Arsitektural dan filosofis, kubah adalah melambangkan kubah langit secara spesifik, yang menciptakan suasana spiritual yang membawa manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Dalam perspektif lain bahwa: Tiang Alif menghubungkan wujud fisik masjid (bumi) secara materil dengan alam ruhani (langit) dengan non material. Ia adalah mahkota yang menandakan bahwa tempat tersebut adalah ruang sakral pertemuan kehendak Ilahi dan manusia, seperti halnya perjalanan Nabi kita Muhammad SAW yang disebut dengan Mi’raj yang secara transendental sebagai puncak tertinggi, perjalanan yang begitu dahsyat dan jauh dari pandangan dan nalar manusia biasa yang secara logika ditolak.

Hari ini tepatnya Hari Jum’at, 16 Januari 2026, menunjukan waktu Subuh, yang bertempat di Salah satu Desa, (Desa Pelita) kecamatan Mandoli Utara, Kabupaten Halmahera Selatan. Masyarakat Desa Pelita turut Menyaksikan salah satu peristiwa Agung, yang secara harfiah.

Dalam tradisi lokal yang kita sebut dengan pemasangan Tiang Alif, diikuti dengan zikir dan selawat, menunjukan perjalanan spiritual (proses naik) dari material menuju esensi ruhaniah (kenaikan wujud).

Simbol Tiang Alif dan Kuba Mesjid (Mesjid Al-Muhajirin Desa Pelita), dalam perspektif Filsafatnya Al Farabi, yakni sebagai Wahdatu al-wujud dalam arsitektur Islam yang melambangkan langit atau kubah langit.

Secara Esoteris yang berarti tersembunyi dalam relung jiwa yang sedang berkhalwat dengan Tuhan secara hakikat. Sederhananya Tiang Alif dipandang sebagai perantara atau penghubung antara kehendak Ilahi (langit) dan manusia (bumi). Ia merupakan representasikan hubungan vertikal manusia dengan pencipta-Nya secara esoteris.

Penyaksian masyarakat Desa Pelita dalam pemasangan tiang Alif Mesjid Al-Muhajirin Desa Pelita dan hadirnya Ouu (Sulthan Bacan) adalah merupakan satu wujud yang disebut Dalam khazanah Filsafat Islam oleh Al-Farabi sebagai Wahdatu al wujud, sultan adalah simbolik Khalifah yang perwakilan dari Tuhan, dan Kuba/tiang Alif kubah melambangkan tempat bermulanya pendakian spiritual (al-mi'raj) Nabi Muhammad SAW menuju hadirat Tuhan. Ini mewakili tujuan tertinggi seorang muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah (secara transendental).

Ini bukan hanya penyaksian secara fisik tapi bentuk dari lahirnya nilai nilai spiritual. Dan menjadi satu kebanggaan bagi masyarakat Desa Pelita sebagai salah satu bangunan Islam (Fondasi) yang mengandung nilai kearifan lokal dan spiritual. Hal ini mengandung pesan moral yang secara simbolik sebagai lambang terhadap ajaran-ajaran Islam yang berisikan nilai-nilai akidah yang ditunjukkan kepada manusia, khususnya masyarakat Desa Pelita dan pada umumnya umat manusia untuk terus mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa Allah SWT.

Simbol pemasangan tiang Alif dan Kuba Mesjid Al Muhajirin Desa Pelita menunjukkan bahwa: Masjid bukan hanya sekedar bangunan biasa, tetapi memiliki nilai-nilai kesakralan didalamnya yang harus di hormati Dan Dilestarikan.