WARTAREPUBLIK.COM - Dunia Akademik dan Pendidikan Islam Telah Kehilangan Satu Tokoh Pemikir Pendidikan IsIam" Yaitu "Syed Muhammad Nuqoib Al-Attaslahir Bogor, Jawa Barat, 5 September 1931 Wafat 8 Maret 2026 usia Ke 95 Tahun. Beliau adalah Pelopor Gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan Modern pada Bidang Study Filsafat Pendidikan Islam, ia seperti halnya dengan Hassan Langgulung dalam Study Pemikiran Pendidikan Islam dengan Konsep Pendidikan paling populer adalah konsep "Ta'adib " yaitu Pendidikan tentang Adab.
Syed Muhammad Nuqoib Al-Attas menolak penggunaan istilah Tarbiyah atau Ta'lim secara umum dan lebih menekankan pada istilah Ta'dib. sebagai istilah yang paling tepat untuk pendidikan Islam. Adab didefinisikan sebagai pengenalan dan pengakuan akan tempat yang tepat bagi segala sesuatu, yang berujung pada pengenalan akan Tuhan.
Hal ini yang menjadi motivasi bagi saya, waktu study S.1 dan Pascasarjana ( S.2) di IAIN Ternate dengan menulis pemikiran Pendidikan Islam untuk Karya Ilmiah Skripsi dan Tesis sebagai ajuan argumentasi. Demikian juga kita tidak bisa terlepas dengan Tokoh pemikiran Pendidikan Islam seperti Imam Al-Ghazali dalam bidang pendidikan Akhlak, dan KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy'ari sebagai Tokoh Pemikiran pendidikan Modernis dan Tradisional di Nusantara.
Hal ini juga menjadi referensi dan mata kuliah mahasiswa pada umumnya Pendidikan IsIam, ada satu kalimat dari tujuan Pendidikan menurut Syed Muhammad Nuqoib Al-Attas yang masih tersimpan dalam memori saya bahwa: Tujuan Pendidikan adalah membentuk manusia manusia yang beradab dan bukan biadab. Kebanyakan orang yang memiliki Pendidikan tinggi sampai bergelar Profesor, tapi Adabnya rendah.
Menjadi Paradoks besar dalam dunia pendidikan Indonesia yaitu tujuan ideal Pendidikan yang mencerdaskan kehidupan bangsa"dan "membentuk manusia beradab" seringkali berbenturan dengan realita korupsi, yang ironisnya, pelaku utamanya justru seringkali adalah orang-orang berpendidikan tinggi. Setiap Tahun Universitas/ Kampus mencetak sarjana dan Guru Besar tapi kualitas adab dan akhlaknya rendah, mereka hanya mengejar IPK yang tinggi dengan kelulusannya, tapi minim Adab. Sistem pendidikan sering kali lebih menekankan pada pencapaian akademik (nilai, ijazah, peringkat) daripada penanaman karakter, integritas, dan etika.
Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku korupsi adalah lulusan perguruan tinggi, bahkan sebagian di antaranya memiliki rekam jejak intelektual dan posisi strategis dalam pemerintahan.
Dari sini, tampak jelas bahwa persoalan korupsi bukan sekadar masalah kurangnya pengetahuan, melainkan kegagalan dalam pembentukan watak. Pendidikan yang seharusnya menjadi sarana pemanusiaan justru terjebak pada pencetakan manusia cerdas secara teknis, tetapi rapuh secara moral.
Fenomena ini mengindikasikan adanya persoalan mendasar dalam orientasi pendidikan kita. Ilmu pengetahuan, yang seharusnya menjadi alat pembebasan, justru kerap dijadikan instrumen pembenaran bagi tindakan-tindakan yang tidak bermoral. Dalam konteks ini, pendidikan tampak gagal menjalankan fungsi etiknya.
Kritik serupa pernah disampaikan oleh Prof. Dr. Mahfud MD. Dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari liputan Universitas Gadjah Mada, ia menyebut bahwa pendidikan di Indonesia saat ini lebih banyak mempertajam kemampuan berpikir, tetapi miskin pendidikan watak. Kondisi ini, menurutnya, berkontribusi pada kemerosotan moral dan etika di tengah masyarakat.
Pendidikan karakter, pada akhirnya, sering kali berhenti sebagai jargon kurikulum. Nilai kejujuran diajarkan di ruang kelas, tetapi sistem kompetisi yang tidak sehat terus dipelihara. Moralitas dibicarakan, tetapi keteladanan justru sering absen dalam praktik keseharian pendidikan.
Tokoh pendidikan nasional seperti Ki Hadjar Dewantara telah menegaskan bahwa pendidikan sejatinya adalah proses memerdekakan manusia. Ki Hajar menekankan pentingnya keteladanan, pendampingan, dan dorongan moral dalam pendidikan. Sayangnya, nilai-nilai tersebut kerap tereduksi menjadi simbol, bahkan sekadar logo institusi.
Hari ini, pendidikan lebih sering diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja. Orientasi keberhasilan diukur dari seberapa cepat lulusan terserap oleh industri. Tanpa disadari, pendidikan berubah menjadi alat reproduksi sistem ekonomi, alih-alih ruang pembentukan manusia merdeka. Dalam logika ini, manusia tidak lagi dipandang sebagai subjek bermoral, tetapi sebagai komoditas.
Sudah saatnya pendidikan dikembalikan pada tujuan dasarnya: membentuk manusia seutuhnya. Kepintaran harus berjalan seiring dengan kepekaan nurani. Sekolah dan kampus tidak boleh hanya menjadi ruang transfer pengetahuan. Keduanya juga harus menjadi ruang pembentukan watak dan tanggung jawab sosial.
Tujuan Pendidikan sebagaimana yang dibilang oleh Nuqoib Al-Attas tadi yaitu" membentuk Insan Adabi (manusia yang beradab/baik), bukan hanya manusia pintar.
Hassan Langgulung juga memiliki kemiripan yang sama mengenai pemikiran Pendidikan IsIam yang pemikirannya memadukan pendidikan Islam dengan psikologi modern dan Filsafat.
Ini yang menjadi alasan saya untuk memilih menjadi pemikir dan pendidik pada study Filsafat Pendidikan IsIam, dan yang paling sangat saya kagumi dari kedua Tokoh ini adalah pemikiran Pendidikan IsIam yang sangat mempuni adalah Al-Attas, karena lebih fokus pada epistemologi (ilmu) dan pendidikan adab (Ta'dib) sebagai respons terhadap sekularisasi Barat.
Dan Hassan Langgulung lebih fokus pada psikologi, integrasi ilmu, dan peranan manusia sebagai khalifah dalam kurikulum pendidikan.
Keduanya merupakan tokoh kunci yang berupaya menyelamatkan umat Islam dari krisis intelektual dan pendidikan dengan kembali ke akar ajaran Islam.
Sebelum saya menutupi tulisan ini ada satu quotes yang menarik yaitu " bahwa "Walaupun jiwa/jasadmu tiada, namun karya dan Ilmumu tetap ada dan abadi" Demikian juga Imam Ali bin Abi Thalib pernah bilang bahwa: Ilmu yang lebih mulia daripada harta, karena ilmu akan menjaga pemiliknya meski jasad telah tiada.
Demikian Tiada Gading yang tak retak semoga Bermanfaat
( Oleh: Sahib Munawar.S.Pd,I.M.,Pd / Pegiat Filsafat Pendidikan Islam
.png)