Merah yang Tak Pernah Pudar 62 Tahun Nyala Api Perjuangan IMM -->

Header Menu

Merah yang Tak Pernah Pudar 62 Tahun Nyala Api Perjuangan IMM

Admin Global
Friday, 13 March 2026

Oleh: Fitriyani Ashar, Sekum DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Maluku Utara

WARTAREPUBLIK.COM - Enam puluh dua tahun bukan sekadar usia bagi sebuah organisasi kader. Ia adalah perjalanan panjang yang penuh dengan pergulatan gagasan, dinamika gerakan, dan komitmen terhadap perubahan sosial. Dalam perjalanan itu, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) hadir bukan hanya sebagai organisasi mahasiswa, tetapi sebagai ruang pembentukan intelektual muda yang diharapkan mampu membaca zaman sekaligus memberi arah bagi masa depan bangsa.

Warna merah dalam identitas IMM sering kali dimaknai sebagai simbol keberanian. Tetapi keberanian yang dimaksud bukan sekadar keberanian tampil dalam forum atau berteriak dalam mimbar. Merah IMM adalah keberanian berpikir kritis, keberanian mempertanyakan ketidakadilan, dan keberanian berdiri di pihak masyarakat yang kerap terpinggirkan oleh kekuasaan dan kepentingan ekonomi.

Namun di usia ke-62 ini, IMM sedang berada pada persimpangan penting. Di satu sisi, organisasi ini terus berkembang dengan jaringan kader yang luas di berbagai kampus. Tetapi di sisi lain, tantangan zaman juga semakin kompleks. Era digital telah mengubah cara mahasiswa berinteraksi dengan pengetahuan, gerakan sosial, bahkan dengan organisasi itu sendiri.

Hari ini kita hidup di tengah banjir informasi. Diskursus bergerak cepat di media sosial, opini diproduksi dalam hitungan detik, dan aktivisme sering kali terjebak dalam simbolisme digital. Banyak gerakan terlihat ramai di ruang virtual, tetapi sunyi dalam kedalaman gagasan. Dalam situasi seperti ini, organisasi mahasiswa berisiko kehilangan tradisi intelektualnya jika tidak mampu menjaga budaya literasi dan refleksi kritis.

Pemikir Italia Antonio Gramsci pernah menegaskan bahwa kekuasaan modern bekerja melalui hegemoni yakni dominasi yang membentuk cara berpikir masyarakat tanpa paksaan yang terlihat. Dalam konteks hari ini, hegemoni itu bisa hadir melalui media, budaya populer, hingga narasi pembangunan yang sering kali tidak memberi ruang bagi suara masyarakat kecil. Karena itu, organisasi kader seperti IMM memiliki tanggung jawab penting untuk melahirkan apa yang oleh Gramsci disebut sebagai intelektual organik: generasi intelektual yang tidak hanya berpikir di ruang akademik, tetapi juga terlibat dalam realitas sosial masyarakat.

Bagi saya sebagai kader IMM di Maluku Utara, refleksi ini terasa sangat nyata. Daerah kami sedang mengalami gelombang besar pembangunan berbasis industri pertambangan. Narasi yang sering kita dengar adalah pertumbuhan ekonomi, investasi, dan kemajuan daerah. Tetapi di balik itu, kita juga melihat persoalan lain yang tidak kalah penting, kerusakan lingkungan, hilangnya ruang hidup masyarakat pesisir, serta ketimpangan sosial yang semakin terasa.

Dalam situasi seperti ini, mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton. 

Pendidikan, sebagaimana dikemukakan oleh Paulo Freire, seharusnya membangun kesadaran kritis yang memungkinkan manusia membaca realitas secara reflektif dan bertindak untuk mengubahnya. Mahasiswa harus mampu bertanya: pembangunan untuk siapa? Siapa yang diuntungkan, dan siapa yang harus menanggung dampaknya?

Sayangnya, tantangan yang dihadapi gerakan mahasiswa hari ini bukan hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam. Budaya pragmatisme organisasi, melemahnya tradisi membaca, hingga kecenderungan aktivisme yang instan menjadi persoalan yang tidak bisa diabaikan. Organisasi mahasiswa sering kali sibuk dengan agenda struktural, tetapi kurang memberi ruang bagi produksi gagasan. Jika kondisi ini terus berlangsung, organisasi kader berisiko kehilangan ruh intelektualnya. Ia mungkin tetap ada secara struktural, tetapi tidak lagi memiliki daya transformasi sosial.

Padahal, dalam perspektif sosiolog Manuel Castells, dunia hari ini bergerak dalam masyarakat jaringan (network society), di mana kekuatan sosial terbentuk melalui jaringan informasi dan kesadaran kolektif. Artinya, gerakan mahasiswa justru memiliki peluang besar untuk memperluas pengaruhnya baik melalui ruang digital maupun melalui kerja-kerja intelektual di masyarakat.

Di titik inilah peringatan 62 tahun IMM seharusnya dimaknai sebagai momentum untuk menyalakan kembali api intelektual gerakan. IMM harus kembali menjadi ruang lahirnya gagasangagasan kritis, tempat mahasiswa belajar membaca realitas, dan wadah bagi kader untuk merumuskan arah perubahan sosial.

Merah yang tak pernah pudar bukanlah merah yang hanya hadir dalam simbol organisasi. Ia adalah merah yang hidup dalam keberanian kadernya untuk berpikir merdeka, menulis gagasan, berdiskusi secara kritis, dan berpihak pada kepentingan masyarakat.

Jika IMM ingin tetap relevan di tengah perubahan zaman, maka satu hal yang harus terus dijaga adalah tradisi intelektualnya. Sebab sejarah menunjukkan bahwa kekuatan terbesar gerakan mahasiswa bukanlah jumlah kadernya, melainkan keberanian pikirannya.

Enam puluh dua tahun telah dilalui. Tetapi api perjuangan itu tidak boleh redup. Ia harus terus menyala di ruang diskusi, di lembar tulisan, di mimbar intelektual, dan di tengah masyarakat yang membutuhkan suara kritis mahasiswa. Sebab selama nalar kritis itu tetap hidup, selama keberanian berpikir itu masih dijaga, maka merah perjuangan IMM akan tetap menyala bukan hanya dalam lambang organisasi, tetapi dalam denyut perubahan zaman.