HALBAR, Wartarepublik.com - Gelombang penolakan terhadap rencana dan/atau aktivitas operasi panas bumi oleh PT Ormat Geothermal Indonesia di wilayah Talaga Rano terus menguat. Masyarakat setempat menyatakan sikap tegas menolak keberadaan dan aktivitas perusahaan tersebut karena dinilai berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan, sosial, dan ekonomi warga.
Wilayah yang direncanakan sebagai lokasi operasi merupakan kawasan yang menjadi sumber mata pencaharian utama warga, seperti pertanian, perkebunan, dan Pemanfaatan sumber air alami. Masyarakat menolak keras aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan dan mengancam keberlangsungan hidup mereka. Tanah dan sumber air adalah faktor utama yang harus di jaga karena untuk bertahan hidup.
Kekhawatiran utama masyarakat beberapa poin yang menjadi dasar penolakan masyarakat antara lain:
Potensi kerusakan hutan dan ekosistem sekitar. Risiko pencemaran sumber mata air yang digunakan masyarakat sehari-hari. Dampak terhadap lahan pertanian dan perkebunan warga.
Kurangnya transparansi dan keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan.
Masyarakat juga meminta pemerintah daerah dan instansi terkait untuk meninjau kembali seluruh proses perizinan serta memastikan adanya kajian lingkungan dan sosial yang dilakukan secara terbuka dan partisipatif.
Masyarakat menegaskan bahwa penolakan ini bukan tanpa alasan, melainkan bentuk tanggung jawab dalam menjaga kelestarian alam dan masa depan generasi berikutnya.
“Pembangunan tidak boleh mengorbankan lingkungan dan hak hidup masyarakat, dari dulu belum ada masyarakat Halmahera Barat bunuh diri karena kelaparan jadi tambang bukan solusi untuk membrantas kemiskinan.” **(Tim/Red)
.png)