MOROTAI, Wartarepublik.com - Di pagi hari Daruba, angin laut bertiup tenang. Hidup Rusli Sibua dimulai di kota kecil di Pulau Morotai, di mana ia tumbuh sebagai anak setempat yang nanti menjadi pengabdi di pulau itu.
Pada tanggal 5 Maret 2026, Rusli Sibua akan merayakan ulang tahunnya yang ke-64. Angka ini menandakan perjalanan panjangnya sebagai birokrat yang kemudian dipercaya untuk memimpin Kabupaten Pulau Morotai, sebuah daerah kepulauan di ujung utara Provinsi Maluku Utara yang memiliki sejarah Perang Dunia II dan keindahan laut yang menawan.
Rusli Sibua lahir di Daruba, Morotai Selatan, pada 5 Maret 1962. Ia menghabiskan masa kecil di pulau yang saat itu masih sederhana, jauh dari kemajuan yang ada sekarang. Ia menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri 1 Daruba pada tahun 1974, sebelum melanjutkan ke SMP Negeri 1 Morotai pada tahun 1977.
Setelah itu, Rusli Sibua melanjutkan pendidikannya di luar pulau kelahirannya. Ia menuntut ilmu di SMA Negeri 1 Ternate dan lulus pada tahun 1980. Dari kota tersebut, ia melanjutkan studi di Universitas Sam Ratulangi Manado.
Di universitas itu, Rusli Sibua belajar di Jurusan Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, dan meraih gelar sarjana pada tahun 1985. Keinginannya untuk terus belajar tidak berhenti di situ. Ia kemudian melanjutkan pendidikan pascasarjana di Universitas Hasanuddin Makassar dan berhasil mendapatkan gelar Magister pada tahun 2003.
Bagi Rusli Sibua, pendidikan adalah lebih dari sekadar gelar, tetapi modal penting untuk pengabdian, “Pendidikan adalah sumber daya penting bagi pengabdian. Dengan pemahaman yang baik, kebijakan yang diambil bisa lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” katanya dalam sebuah kesempatan.
Ia memulai karier pengabdian melalui jalur birokrasi. Selama bertahun-tahun sebagai pegawai negeri, ia memegang berbagai jabatan penting di pemerintahan daerah. Pengalamannya yang panjang dalam birokrasi memberinya pemahaman yang mendalam tentang dinamika pemerintahan serta tantangan pembangunan di daerah kepulauan.
Salah satu momen penting dalam kariernya terjadi ketika dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Pulau Morotai sekitar tahun 2010. Pada waktu itu, Morotai masih merupakan daerah otonom baru. Banyak pekerjaan besar yang harus dilakukan, seperti penataan birokrasi, konsolidasi pemerintahan, dan pembangunan infrastruktur dasar.
Pengalaman tersebut menjadi dasar yang kuat ketika masyarakat Morotai memilihnya untuk memimpin daerah mereka.
Pada 8 September 2011, Rusli Sibua dilantik sebagai Bupati Pulau Morotai untuk periode 2011-2015, bersama Wakil Bupati Weni Ritho Paraisu. Sejak awal, fokus utama kepemimpinannya adalah pembangunan desa.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah program pembangunan desa dengan konsep “Satu Desa Satu Miliar. ” Program ini bertujuan untuk memperkuat pembangunan di desa dan mendorong pemerataan pembangunan di seluruh kepulauan.
Menurut Rusli Sibua, desa adalah dasar kemajuan Morotai, “Jika desa berkembang, maka Morotai juga akan maju. Kekuatan daerah ini sejatinya ada di desa-desa,” ujar Rusli.
Selain pembangunan desa, perhatian pada infrastruktur dasar juga tidak kalah penting. Akses jalan antarwilayah, fasilitas pelayanan publik, dan konektivitas transportasi menjadi fokus yang terus diperjuangkan untuk mengatasi isolasi di beberapa wilayah.
Perjalanan politik Rusli Sibua tidak berakhir pada periode pertama. Setelah melewati berbagai tantangan, masyarakat Morotai memberikan kepercayaan lagi kepadanya.
Pada 20 Februari 2025, Rusli Sibua kembali dilantik sebagai Bupati Pulau Morotai untuk masa jabatan 2025–2029, bersama Wakil Bupati Rio Christian Pawane.
Bagi Rusli Sibua, Pulau Morotai adalah daerah yang kaya akan potensi yang perlu dikelola dengan baik. Ia menyatakan, “Morotai memiliki potensi yang sangat besar. Tanggung jawab pemerintah adalah mengelola potensi tersebut agar benar-benar memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat.”
Dalam masa kepemimpinan ini, berbagai agenda pembangunan terus didorong. Penguatan ekonomi desa, penataan struktur pemerintahan daerah, peningkatan konektivitas wilayah, serta peningkatan kualitas pelayanan publik menjadi prioritas pembangunan.
Di tengah berbagai agenda pembangunan tersebut, sektor pariwisata juga mendapat perhatian khusus. Morotai dikenal memiliki nilai sejarah yang penting sekaligus keindahan laut yang masih alami.
Pulau ini pernah menjadi basis militer penting bagi Sekutu pada masa Perang Dunia II. Jejak sejarah tersebut masih dapat ditemukan hingga kini, mulai dari landasan udara lama, lokasi militer, hingga pesawat yang tenggelam di dasar laut yang kini menjadi daya tarik wisata sejarah.
Morotai juga memiliki pantai berpasir putih, gugusan pulau-pulau kecil, serta perairan yang jernih, sehingga menjadikannya sebagai destinasi wisata bahari yang sangat menjanjikan di kawasan Indonesia bagian timur.
Menurut Rusli Sibua, jika dikelola secara berkelanjutan, sektor pariwisata dapat menjadi penggerak ekonomi daerah. Ia mengatakan, “Morotai memiliki kekuatan besar dalam wisata sejarah dan wisata bahari. Potensi ini harus terus dikembangkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.”
Dari sisi tata kelola pemerintahan, Kabupaten Pulau Morotai juga mencatatkan capaian positif. Pada tahun 2025, daerah ini memperoleh nilai 75,18 dalam Survei Penilaian Integritas (SPI), yang mencerminkan upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan tata kelola yang transparan dan berbasis integritas.
Selain pembangunan infrastruktur dan penguatan tata kelola pemerintahan, berbagai kebijakan sosial juga terus didorong, termasuk dukungan bagi kelompok rentan serta upaya meningkatkan program perlindungan anak untuk menjadikan daerah ini lebih ramah anak.
Kini, pada usia 64 tahun, Rusli Sibua masih aktif terlibat dalam pembangunan Morotai. Pulau tempat ia tumbuh kini berada di bawah kepemimpinannya.
Bagi Rusli Sibua, mendapatkan kepercayaan masyarakat adalah sebuah tanggung jawab yang harus dijaga.
“Selama masyarakat masih mempercayai saya, pengabdian saya untuk Morotai akan terus berlanjut,” ujar pria yang akrab disapa Ko Uci.
.png)