20 Ribu Bom Belum Meledak Ancam Gaza, Anak-anak Jadi Korban Utama -->

Header Menu

20 Ribu Bom Belum Meledak Ancam Gaza, Anak-anak Jadi Korban Utama

Admin Global
Thursday, 23 April 2026



GAZA, WartaRepublik. Com
 Lebih dari 20 ribu sisa amunisi yang belum meledak tersebar di seluruh wilayah Gaza. Amunisi itu kini berubah jadi ladang ranjau tersembunyi yang menelan korban sipil, terutama anak-anak.

Muhammad Abu Mu’alla, 15 tahun, harus kehilangan tangan kanannya. Ia terluka parah di kaki setelah benda yang ia temukan saat bermain tiba-tiba meledak. Hingga kini, kondisinya belum pulih dan mengalami trauma psikologis berat.

Nasib serupa menimpa Nur al-Jayyar, 15 tahun. Saat mengungsi, ia memegang benda mencurigakan yang kemudian meledak. Nur mengalami luka di beberapa bagian tubuh dan kehilangan sejumlah jari tangan.

*Korban terus bertambah*  
Otoritas setempat mencatat jumlah korban jiwa dan luka akibat sisa amunisi terus naik. Angka sebenarnya diduga jauh lebih tinggi. Ledakan kerap terjadi di permukiman padat, reruntuhan bangunan, hingga lahan pertanian yang jadi tempat warga mencari makan.

“Anak-anak paling rentan karena mereka tidak tahu benda itu berbahaya. Mereka pikir mainan,” kata seorang relawan kemanusiaan di Gaza.

Penanganan terkendala minim fasilitas  
Upaya pembersihan amunisi menghadapi jalan buntu. Sebagian besar fasilitas hancur akibat konflik. Jumlah teknisi penjinak bom berkurang drastis. Tim penyelamat terpaksa bekerja tanpa alat pelindung memadai.

Banyak bahan peledak masih tertimbun di bawah puing atau bersembunyi di dalam rumah warga. Tanpa peta dan peralatan deteksi, proses evakuasi berjalan lambat dan berisiko tinggi.

Ancaman jangka panjang 
Organisasi kemanusiaan terus melakukan edukasi mitigasi risiko ke warga. Anak-anak diberi tahu bentuk amunisi dan dilarang menyentuh benda asing. Namun luasnya sebaran bom membuat risiko tetap tinggi.

Dengan 20 ribu lebih amunisi aktif tersebar, Gaza menghadapi ancaman jangka panjang. Setiap sudut wilayah—dari halaman rumah hingga sekolah yang hancur—berpotensi jadi sumber ledakan berikutnya. Dan anak-anak, sekali lagi, berada di garis depan sebagai korban.Netti/"