CSR Sejumlah Perusahaan diluwuk timur dipertanyakan,Fikri Palawa Gaungkan aksi besar jelang may day -->

Header Menu

CSR Sejumlah Perusahaan diluwuk timur dipertanyakan,Fikri Palawa Gaungkan aksi besar jelang may day

Admin Global
Tuesday, 28 April 2026

Aktivis Desak Transparansi dan Keadilan Sosial

Luwuk,wartaRepublik.com—CSR Perusahaan di LUKTIM Disorot Jelang May Day, Aktivis Desak Transparansi dan Keadilan Sosial

jelang peringatan Hari Buruh Internasional (May Day), sorotan terhadap pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan di Kecamatan Luwuk Timur (LUKTIM) kian tajam. Aktivis lokal, Fikri Palawa, secara tegas mempertanyakan transparansi serta keseriusan sejumlah perusahaan dalam menjalankan tanggung jawab sosialnya kepada masyarakat.

Menurut Fikri, CSR tidak boleh dipandang sekadar kewajiban administratif, melainkan merupakan tanggung jawab moral perusahaan agar kehadirannya benar-benar memberikan manfaat nyata bagi rakyat.

Di Kecamatan Luwuk Timur, tercatat sedikitnya enam perusahaan yang beroperasi, sebagian di antaranya telah lama menjalankan aktivitas usaha. Namun demikian, Fikri menilai keberadaan perusahaan-perusahaan tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya melalui implementasi program CSR.
“CSR adalah komitmen perusahaan, bukan hanya untuk mengejar keuntungan, tetapi juga memperhatikan dampak sosial dan lingkungan. Jika itu tidak dirasakan masyarakat, maka patut dipertanyakan,” ujarnya.

Fikri juga menyoroti minimnya keterbukaan terkait pengelolaan dana CSR. Ia mempertanyakan ke mana anggaran tersebut dialokasikan, siapa yang menerima manfaat, program apa saja yang dijalankan, serta berapa besar dana yang telah dikeluarkan.

“Tanpa transparansi, CSR hanya akan menjadi ruang gelap yang rawan disalahgunakan dan kehilangan makna sosialnya,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menilai ketimpangan sosial akan terus terjadi jika perusahaan hanya berfokus pada keuntungan tanpa memperhatikan kondisi masyarakat di sekitar wilayah operasional.
“Perusahaan tidak boleh hanya datang dan meraup keuntungan. Jika keuntungan besar terus mengalir, sementara masyarakat masih hidup dalam keterbatasan, ini bukan keadilan, melainkan ketimpangan yang nyata,” tambah Fikri.

Momentum May Day, lanjutnya, harus dimanfaatkan sebagai titik balik untuk mendorong perubahan nyata. Ia menegaskan bahwa CSR harus menjadi komitmen yang konkret, terukur, dan berkelanjutan, bukan sekadar formalitas.

Fikri juga mendesak pemerintah untuk berani mengambil langkah tegas terhadap perusahaan yang lalai menjalankan kewajiban sosialnya. Transparansi CSR, keadilan sosial, serta pengawasan yang kuat dinilai menjadi agenda penting dalam perjuangan ke depan.

“May Day akan menjadi panggung perjuangan. Buruh, pemuda, dan masyarakat Luwuk Timur harus bersatu. Jangan biarkan perusahaan terus kaya, sementara rakyat di sekitar wilayah operasional tetap hidup dalam kesulitan dan jauh dari kesejahteraan,” pungkasnya. (Muf)