WARTAREPUBLIK.COM - Tragedi berdarah yang terjadi di hutan Halmahera Tengah (Halteng) dan Halmahera Timur (Haltim) tidak bisa secara dangkal dipahami sebagai konflik agama. Narasi semacam itu justru berbahaya karena menutupi akar persoalan yang jauh lebih kompleks dan struktural.
Dalam pandangan saya sebagai Wakil Ketua DPD GMNI Maluku Utara M.Asrul, konflik ini merupakan manifestasi dari pertarungan kepentingan kekuasaan oligarkis yang secara sistematis mengorbankan rakyat, khususnya petani dan masyarakat adat.
Apa yang terjadi di dua wilayah tersebut memperlihatkan adanya pola kekerasan yang tidak berdiri sendiri. Teror, intimidasi, hingga kriminalisasi terhadap masyarakat lokal menjadi bagian dari skenario besar untuk melancarkan proyek perampasan ruang hidup. Dalam konteks ini, konflik horizontal sengaja diproduksi—atau setidaknya dibiarkan—untuk mengalihkan perhatian publik dari kepentingan ekonomi-politik yang sedang berjalan.
Yang lebih memprihatinkan, masyarakat adat seperti suku Tugutil kerap dijadikan kambing hitam. Stigmatisasi terhadap mereka bukan hanya tidak adil, tetapi juga menunjukkan bagaimana negara gagal—atau bahkan ikut terlibat—dalam melindungi kelompok rentan. Fenomena ini mengindikasikan adanya strategi pembiaran konflik horizontal sebagai alat untuk memuluskan agenda struktural yang menguntungkan segelintir elit.
Negara seharusnya hadir sebagai pelindung seluruh rakyat, bukan menjadi fasilitator bagi kepentingan oligarki. Ketika konflik dibiarkan terus berlangsung tanpa penyelesaian yang adil dan transparan, maka yang terjadi adalah reproduksi kekerasan yang semakin meluas. Ini bukan sekadar persoalan keamanan, melainkan krisis keadilan sosial.
Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk membongkar narasi sesat yang menyederhanakan konflik ini sebagai persoalan agama atau etnis. Kita harus berani melihat bahwa ada kepentingan besar di baliknya—kepentingan yang mengorbankan manusia demi akumulasi kapital. Tanpa kesadaran kritis dan keberpihakan pada rakyat, tragedi serupa akan terus berulang di masa depan.
.png)