GELEDAH RUMAH TERSANGKA, DOKUMEN DISITA — “DODI ALFAYED LENYAP!” KEJARI BINJAI DITANTANG BONGKAR DALANG, NAMA WALIKOTA MULAI DISOROT -->

Header Menu

GELEDAH RUMAH TERSANGKA, DOKUMEN DISITA — “DODI ALFAYED LENYAP!” KEJARI BINJAI DITANTANG BONGKAR DALANG, NAMA WALIKOTA MULAI DISOROT

Admin Global
Thursday, 23 April 2026

WARTA REPUBLIK.com | BINJAI – Penggeledahan dua rumah tersangka korupsi oleh Kejaksaan Negeri Binjai bukan sekadar langkah hukum biasa. Ini pintu awal terbongkarnya dugaan skandal besar yang berpotensi menyeret lebih dari sekadar “pemain lapangan”.

Tim Penyidik Tindak Pidana Khusus Kejari Binjai, didukung Intelijen dan aparat kepolisian, menggeledah kediaman Agung Ramadhan alias AR di Jalan Penegak dan Jalan Gunung Bendahara, Binjai Selatan, Selasa (21/04/2026). Hasilnya: 13 dokumen penting disita—diduga kuat menjadi bukti praktik kontrak fiktif di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Binjai periode 2022–2025.

Namun, yang membuat publik geram bukan hanya soal dokumen.

Sorotan kini mengarah tajam pada satu nama: Dody Alfayed.

HILANG TANPA JEJAK — KEBETULAN ATAU DIREKAYASA?
Saat penyidik menelusuri alamat Dody sesuai KTP, hasilnya mengejutkan: tidak ada rumah, tidak ada jejak, tidak ada keberadaan. Lurah dan kepling setempat pun angkat tangan.

Pertanyaannya sederhana tapi menggetarkan:

  • Bagaimana mungkin seorang tersangka korupsi “tidak punya alamat jelas”?
  • Mengapa keberadaannya seolah lenyap begitu saja saat kasus mencuat?
  • Siapa yang diuntungkan dari hilangnya sosok kunci ini?

Publik mulai mencium sesuatu yang janggal. Ini bukan sekadar tersangka kabur—ini berpotensi penghilangan jejak yang sistematis.

KEJARI BINJAI JANGAN BERHENTI DI PERMUKAAN
Tekanan publik kini mengarah langsung ke Kejaksaan Negeri Binjai:
jangan hanya sibuk menyita dokumen, tapi ungkap keberadaan Dody Alfayed!

Jika satu tersangka saja “menghilang” tanpa kejelasan, maka wajar publik curiga—apakah ada yang melindungi?

NAMA WALIKOTA MULAI DIPERTANYAKAN
Di tengah liar dan derasnya spekulasi publik, muncul dugaan yang lebih serius:
apakah ada keterkaitan antara Dody Alfayed dengan lingkar kekuasaan di Kota Binjai?

Bahkan, dugaan keterlibatan atau setidaknya kedekatan dengan Wali Kota Binjai mulai dipertanyakan secara terbuka oleh publik.

Perlu digarisbawahi: hingga saat ini belum ada pernyataan resmi maupun bukti hukum yang mengonfirmasi hal tersebut. Namun dalam kasus sebesar ini, diam bukan jawaban.

Publik berhak tahu:

  • Apakah benar ada relasi kekuasaan di balik para tersangka?
  • Mengapa salah satu nama kunci justru “menghilang”?
  • Apakah hukum akan berani menyentuh elit, atau hanya berhenti di pelaksana?

INI BUKAN SEKADAR KORUPSI — INI UJIAN NYALI PENEGAK HUKUM
Enam tersangka telah ditetapkan: Agung Ramadhan, Ralasen Ginting, Joko Waskitono, Suko Hartono, Dody Alfayed, dan Ruman Dawaty.

Pasal yang dikenakan bukan main-main: indikasi suap, penyalahgunaan wewenang, hingga praktik korupsi terstruktur.

Tapi satu hal yang kini lebih penting dari sekadar pasal:
apakah hukum benar-benar ditegakkan, atau hanya dimainkan?

Jika Dody Alfayed benar “dihilangkan” dari radar, maka ini sudah masuk ranah serius:
indikasi obstruction of justice.

PERINGATAN KERAS UNTUK KEJARI BINJAI
Publik tidak butuh drama penindakan setengah hati.
Publik menuntut:

  • Temukan Dody Alfayed
  • Ungkap siapa yang melindungi
  • Buka jika ada keterlibatan pejabat

Jika tidak, maka kasus ini hanya akan menjadi cerita klasik:
ramai, heboh, lalu tenggelam tanpa keadilan.

Kini semua mata tertuju pada Kejari Binjai.
Berani bongkar sampai atas, atau berhenti di bawah?

Redaksi: WARTA REPUBLIK.com