Angkanya memang luar biasa. Rp335 triliun. Lebih dari 62 juta penerima. Hampir 1,2 juta lapangan kerja baru. Di atas kertas, ini terlihat seperti terobosan sosial terbesar dalam sejarah modern kita.
Tapi coba lihat sisi lain neraca itu. Hingga Februari 2026, belanja negara tumbuh 41,9 persen sementara pendapatan hanya tumbuh 12,8 persen. Defisit sudah mencapai empat kali lipat periode yang sama tahun lalu. CELIOS mencatat lebih dari 30 persen penerima kemungkinan bukan orang yang paling membutuhkan. Dan 1.512 dapur di Pulau Jawa terpaksa dihentikan sementara untuk evaluasi. Ada laporan keracunan dalam fase uji coba.
Pemerintah kemudian mengoreksi: sasaran dipersempit hanya untuk anak yang benar-benar kekurangan gizi, pemberian di hari Sabtu dihapus. Proyeksi penghematan: Rp50 triliun per tahun.
Koreksi itu wajar. Bahkan perlu. Tapi ia juga mengakui sesuatu yang sejak awal sudah bisa diduga program ini diluncurkan terlalu cepat, terlalu luas, tanpa sistem verifikasi yang cukup kuat untuk menopang skala sebesar itu.
Yang paling mengganggu saya bukan soal anggarannya. Yang mengganggu adalah pertanyaan yang belum ada jawaban jujurnya: bagaimana program ini akan dibiayai 10 atau 20 tahun ke depan?
Jika jawabannya adalah utang yang terus bertumpuk, maka generasi yang kita rawat gizinya hari ini akan mewarisi tagihan yang jauh lebih berat dari sekadar perut kosong. Kita tidak bisa mengklaim peduli pada masa depan anak-anak Indonesia sambil membebani masa depan mereka dengan defisit yang tidak terencana.
MBG bisa jadi warisan terbaik pemerintahan ini. Tapi hanya jika dikelola dengan jujur bukan dengan optimisme yang mengabaikan data. Niat baik saja tidak cukup. Negara tidak dijalankan dengan niat.
.png)