Dalam hitungan waktu singkat, akun Instagram Nazlatan diserbu puluhan ribu komentar. Bukan argumen. Bukan kritik kebijakan. Yang muncul justru hujatan, makian, dan bahasa paling rendah dalam etika publik.
Salah satu komentar yang terpantau bahkan menuliskan:
“Woeee kontolllll”, Komentar Buzzer.
Dan itu bukan satu-satunya. Pola yang sama berulang serangan personal, kata-kata kotor, hingga dugaan ancaman melalui pesan langsung (DM).
Namun yang membuat situasi ini semakin mencurigakan adalah pola “dua wajah” yang muncul bersamaan. Di satu sisi, Nazlatan dihujani cacian. Di sisi lain, akun-akun yang sama atau serupa justru ramai melontarkan pujian kepada Gubernur Maluku Utara.
Kebetulan? Atau skenario?
Jejak digital menunjukkan indikasi kuat: aktivitas serentak, narasi berulang, dan arah serangan yang sangat spesifik. Semua ciri klasik operasi buzzer.
Nazlatan sendiri angkat bicara.
“Ini bukan kritik biasa. Ini sudah mengarah ke teror digital komentar tidak bermoral dan ancaman di DM,” tegasnya.
Jika benar ini adalah operasi terorganisir, maka ini bukan hanya serangan terhadap satu individu. Ini adalah bentuk pembunuhan karakter di ruang publik, yang secara sistematis mencoba menggiring opini masyarakat.
Lebih jauh, praktik seperti ini menjadi ancaman nyata bagi demokrasi lokal. Ketika ruang digital dipenuhi kebisingan buzzer, suara rasional akan tenggelam. Yang tersisa hanya propaganda, intimidasi, dan manipulasi persepsi.
Siapa yang menggerakkan? Siapa yang diuntungkan?
Pertanyaan itu masih menggantung. Hingga berita ini ditayangkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak terkait.
Namun satu hal sulit dibantah: ketika politik dimainkan dengan cara-cara kotor di ruang digital, maka yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi seseorang tetapi juga kewarasan demokrasi itu sendiri.
Redaksi : Iswan
.png)