WARTAREPUBLIK.COM - Pagi itu, cahaya matahari musim panas menyelinap masuk melalui celah ventilasi dapur, membentuk garis-garis emas yang cantik di atas lantai kayu. Aroma bawang goreng dan nasi hangat mulai menguar, wangi yang seharusnya menjanjikan kehangatan sebuah keluarga. Namun, bagi telingaku, keindahan itu hancur oleh suara yang sudah menjadi "sarapan" wajibku: jeritan Ibu.
Suara itu melengking, pecah oleh tangis, berteriak "Sakit!". Bagiku, suara itu bukan lagi hal asing, melainkan melodi pahit yang selalu menyambut kesadaranku setiap pagi, kontras dengan kicauan burung di luar jendela yang menyambut hari baru.
Suatu hari, rasa penasaran mengalahkan rasa takutku. Saat Ibu sedang mengulek sambal untuk makan siang suara cobek yang beradu terdengar begitu normal aku menghampirinya.
"Bu, kenapa Ibu sering teriak-teriak setiap pagi?" tanyaku dengan nada bergetar.
Ibu tersenyum tipis, sebuah senyum yang dipaksakan untuk menutupi sesuatu yang retak. "Enggak apa-apa, Nak. Ibu cuma ketindihan saja," jawabnya pelan, sambil terus mengaduk masakan di atas kompor yang apinya menari-nari tenang.
Namun, instingku berkata lain. Esoknya, aku bangun tepat pukul 06.00 pagi. Aku menyelinap dan bersembunyi di bawah meja makan, menunggu dalam sunyi yang mencekam di tengah aroma kopi yang baru saja diseduh. Tiba-tiba, terdengar langkah sepatu bot yang berat dari arah kamar Ayah, disusul isak tangis Ibu yang tertahan.
"Mas, hentikan... sakit banget, Mas. Aku mohon, tolong hentikan!" Suara Ibu bergema, memantul di dinding ruangan yang diterangi cahaya pagi yang cerah.
Aku mengintip perlahan dari balik taplak meja. Jantungku serasa berhenti saat melihat Ayah melayangkan tamparan keras ke wajah Ibu hingga kepalanya terbentur lemari makan. Bau masakan yang sedap tadi seketika terasa mual di perutku.
"Kamu perempuan tidak berguna! Cuma bisa menghabiskan duitku! Kamu tidak bisa melayani aku dengan benar!" bentak Ayah.
Ibu hanya bisa tertunduk, pasrah dalam tangisnya di atas lantai yang hangat oleh sinar matahari. Namun, keadaan memuncak saat Ayah hendak meraih pisau dapur yang baru saja digunakan Ibu untuk memotong sayur. Tak sanggup lagi bersembunyi, aku keluar dari bawah meja sambil berteriak sekuat tenaga.
"AYAH! HENTIKAN!"
Ayah tersentak kaget. Pisau di tangannya terlepas, jatuh berdenting keras di atas keramik.
"Apa yang kamu lakukan di situ, Laras?" tanya Ayah dengan wajah bingung, seolah-olah ia baru saja bangun dari mimpi buruk.
"Ayah jahat! Ayah mau bunuh Ibu! Aku benci Ayah!" teriakku sambil berlari memeluk Ibu yang tergeletak lemas. Bau amis darah dari hidung Ibu kini mengalahkan aroma masakan di dapur itu.
Tangisanku pecah, menghancurkan ketenangan pagi. Ayah hanya terdiam membisu, berdiri di tengah cahaya matahari yang seolah mengejek penderitaan kami.
Keluargaku memang tidak pernah akur. Ibu adalah penyintas KDRT yang tetap memilih bertahan demi aku. Ia selalu berusaha terlihat kuat, meski memar biru di wajahnya sering kali coba ia tutupi dengan bedak tipis.
Suatu waktu, saat Ayah pergi bekerja dan Ibu sedang terbaring sakit, ia menceritakan hal yang sebenarnya belum pantas didengar oleh anak berusia 12 tahun. Di atas meja makan yang penuh dengan sisa sarapan yang tak sempat termakan, Ibu membuka tabir tentang siapa Ayah sebenarnya.
"Jika kamu besar nanti, Laras, carilah laki-laki yang bisa membimbingmu dengan baik. Bukan dia yang menjadi senjata neraka yang setiap saat bisa menghantammu," ujar Ibu pelan.
"Memangnya kenapa, Bu?" tanyaku dengan air mata yang masih menggenang.
"Ibu tidak mau nasibmu seperti Ibu. Cukup Ibu saja yang menderita, kamu jangan." Air matanya menetes pelan, jatuh ke atas taplak meja yang bermotif bunga-bunga indah.
"Apa sekejam itu dunia bagi perempuan, Bu? Aku menyesal terlahir sebagai perempuan," ucapku dengan rasa sesak yang luar biasa.
Ibu menatapku dalam-dalam. "Menjadi perempuan memang tidak mudah, Laras. Di mata masyarakat, terkadang kita hanya dianggap manusia nomor dua. Ada yang diperdagangkan, dijadikan budak, bahkan dilecehkan. Tapi ingat, Laras, jangan biarkan siapa pun memadamkan cahayamu."
Seminggu berlalu, namun tabiat Ayah tak juga melunak. Ia terus memperlakukan Ibu lebih rendah dari seorang budak. Baginya, Ibu hanyalah beban, "sampah" yang harus ditoleransi dalam rumah ini. Suatu malam, dalam bisikan dongeng tidur yang getir, Ibu menceritakan rahasia lama. Mereka menikah bukan karena cinta, melainkan karena perjodohan paksa dan tekanan dari kakek serta nenek. Ayah tak pernah serius dengan komitmen itu, sementara Ibu terpaksa mengiyakan demi melunasi hutang keluarga yang melilit.
Akhirnya, badai itu mencapai puncaknya. Ibu mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama. Kini, aku berdiri di persimpangan jalan yang mustahil. Aku dipaksa memilih: ikut Ayah dan hidup bergelimang harta namun dalam bayang-bayang kekerasan, atau ikut Ibu yang hidup sederhana namun menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
"Pernikahan yang dipaksakan itu seperti penjara, Laras. Apalagi dengan orang seperti Ayahmu," bisik Ibu pelan di kegelapan kamar.
"Kenapa aku harus diberi pilihan seberat ini? Anak seusiaku butuh kasih sayang keduanya, bukan dipaksa membuang salah satunya. Tuhan, apa aku memang terlahir dengan takdir sepahit ini?" keluhku di pojok kamar, terisak dalam sunyi.
Keesokan harinya di sekolah, beban itu terasa semakin menghimpit. Aku menoleh ke arah Maya, teman sebangkuku yang sudah lama menjadi sandaran tempatku berbagi keluh kesah. Maya adalah satu-satunya orang yang membuat dunia yang kejam ini terasa sedikit lebih ringan.
"Maya, aku mau cerita sesuatu... tapi nanti ya, setelah pelajaran Bu Emi selesai," bisikku pelan, takut suaraku pecah di tengah kelas.
"Kamu mau cerita apa, Laras?" tanya Maya cemas.
"Nanti saja," balasku singkat.
Begitu bel istirahat berbunyi, kami bergegas menuju kantin. Suasana kantin cukup ramai, harum aroma bakso dan gorengan memenuhi udara. Pak Dewon, pemilik kantin yang juga ayah dari teman sekelas kami, menyapa dengan senyum ramahnya yang khas.
"Halo Laras, Maya! Apa kabar hari ini?" sapa Pak Dewon sambil mengelap meja.
"Kabar buruk, Pak," jawabku spontan.
Pak Dewon menghentikan kegiatannya, menatapku heran.
"Loh, kenapa begitu, Laras?"
"Enggak apa-apa, Pak. Cuma lagi agak nggak enak badan saja," kilahku dengan wajah lesu, mencoba menyembunyikan mata sembabku.
"Mau cerita?" tawar Pak Dewon tulus.
Aku menggeleng lemah. "Enggak usah, Pak. Bapak fokus kerja saja, nanti dimarahi bos," candaku hambar.
"Pak, nasi ikan dua ya. Jangan pakai sambal."
Aku menarik tangan Maya menuju pojok kantin yang agak sepi, jauh dari hiruk-pikuk siswa lain. Kami duduk berhadapan. Di bawah sinar lampu kantin yang remang, aku menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian.
"Maya... Ibu dan Ayahku sudah cerai," ucapku lirih.
"Hah? Apa?" Mata Maya membelalak, wajahnya menunjukkan keterkejutan yang nyata.
"Iya, Maya. Aku serius. Aku nggak bohong."
"Memangnya kenapa, Lar? Kenapa sampai cerai?" tanya Maya lagi, suaranya mengecil karena simpati.
"Ibu sering dipukuli, May..." suaraku tercekat.
Sambil memandangi nasi ikan yang mulai mendingin, aku menumpahkan semua rasa sakit itu. Aku bercerita tentang memar di wajah Ibu, tentang pisau yang hampir melayang pagi itu, dan tentang pilihan mustahil yang kini ada di pundakku. Maya hanya terdiam, menggenggam tanganku erat, membiarkan air mataku jatuh satu demi satu di atas meja kantin yang kusam.
Usai makan, kami bergegas kembali ke kelas. Namun, waktu seolah merayap lambat sementara kursi guru di depan sana masih saja kosong. Kebosanan mulai menyergap, berkelindan dengan pikiran-pikiran kacau yang sejak tadi memenuhi kepalaku. Rasanya dadaku mulai sesak, seolah pasokan oksigen di dalam kelas ini menipis.
"Maya, ke halaman depan, yuk? Pak Rusli sepertinya belum akan masuk dalam waktu dekat," ajakku, suaraku sedikit serak menahan beban di dada.
Kami pun melangkah menyusuri taman bunga di halaman sekolah. Di sana, aku tertegun menyaksikan pemandangan yang kontras dengan hatiku. Siswa-siswi lain berlarian ke sana kemari, tawa mereka pecah di udara, ringan seolah dunia tidak memiliki beban sedikit pun.
Aku merapatkan seragamku, mendadak merasa menggigil meski matahari sedang terik-teriknya. Ujung jemariku terasa dingin dan bergetar kecil saat aku melihat seorang teman tertawa lepas bersama sahabatnya.
Andai saja aku bisa seperti mereka, bisikku dalam hati.
Pahit sekali rasanya, seperti ada gumpalan keras yang menyumbat tenggorokanku. Mungkin ini sudah takdir, atau mungkin ini semua adalah luka yang ditinggalkan oleh perbuatan Ayah. Seandainya saja Ayah tidak memperlakukan Ibu seburuk itu, aku yakin, aku pun bisa mengecap kasih sayang dan nasib yang sama indahnya dengan mereka. Namun kenyataannya, rumahku hanyalah medan tempur yang menyisakan trauma.
"Laras? Kok malah bengong? Wajahmu pucat banget," suara Maya tiba-tiba memecah lamunanku, membuatku tersentak. Aku segera menyembunyikan tanganku yang dingin ke dalam saku rok, lalu memaksakan sebuah lengkungan di bibir sebuah topeng yang sudah biasa kukenakan.
"Enggak apa-apa, May. Cuma kurang tidur saja," balasku lirih. Tak lama kemudian, lengkingan bel pulang berbunyi. Kami segera kembali ke kelas untuk menyambar tas dan bergegas menuju gerbang sekolah.
Di sana, pemandangan itu kembali menyayat hatiku. Maya tersenyum lebar, lari kecil menuju motor ibunya yang sudah menunggu dengan pelukan hangat. Sementara aku? Aku hanya berdiri di tepi jalan, merasakan angin jalanan yang berdebu menyapu wajahku. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, aku membuka aplikasi ojek daring satu-satunya tumpuan untuk mengantarku pulang ke bangunan yang lebih mirip penjara daripada sebuah rumah.
Setelah tiba di rumah, langkahku terasa berat saat melewati ambang pintu. Suasana rumah ini telah berubah total, seolah dinding-dindingnya kehilangan warna sejak Ibu pergi. Biasanya, aroma masakan Ibu dan pelukan hangatnya adalah hal pertama yang menyambutku. Kini, yang menyambutku hanyalah wajah datar asisten rumah tangga yang menjalankan tugasnya secara mekanis.
Setelah pengadilan memutuskan hak asuh jatuh ke tangan Ayah, aku terpaksa tinggal di sini dengan hati yang separuh mati. Aku menatap perempuan yang sibuk merapikan meja makan itu. Bagaimanapun usahanya, dia tidak akan pernah bisa menggantikan peran Ibu. Kasih sayang mereka berada di kutub yang berbeda; Ibu memberi dengan ketulusan yang murni tanpa mengharap imbalan, sementara di sini, kasih sayang harus dibayar dengan gaji bulanan agar tetap ada.
Aku segera masuk ke kamar untuk mengganti seragam, lalu duduk di meja makan dengan gerakan lesu. Di hadapanku, tersaji berbagai hidangan mewah yang harganya mungkin selangit. Namun, lidahku terasa kelu. Selera makanku menguap entah ke mana. Bagiku, kemewahan di atas meja ini tidak ada harganya jika dibandingkan dengan sayur sederhana yang dimasak langsung oleh tangan Ibu. Ternyata benar, harta yang melimpah ini hanyalah hiasan kosong. Aku tidak bahagia. Sudah lebih dari seminggu kami berpisah, dan Ayah dengan kejam memutus semua akses komunikasiku dengan Ibu. Aku bahkan tidak diizinkan sekadar menanyakan kabarnya.
"Apa Ibu sudah makan?" tanyaku dalam hati, suaraku bergetar di dalam benak sendiri.
Pandanganku mengabur. Aku menatap piring di depanku dengan perasaan bersalah yang menghimpit. Aku bisa makan enak di sini, di bawah atap yang kokoh, sementara di luar sana... entah apa yang Ibu makan. Entah bagaimana ia bertahan.
Seketika, setetes air mata jatuh dan mendarat di pinggiran piring, menjadi bumbu paling asin dalam makan siangku yang hambar.
Hari kelulusan yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Halaman sekolah berubah menjadi lautan senyum dan pelukan. Aku berdiri di tengah kerumunan, menyaksikan teman-temanku datang didampingi orang tua mereka yang memandang bangga. Sementara aku? Di sampingku hanya berdiri asisten rumah tangga yang dibayar Ayah untuk sekadar "ada".
Riuh rendah tawa di sekelilingku terasa seperti kebisingan yang asing. Meskipun aku tahu namaku akan disebut sebagai peraih nilai terbaik, tak ada sedikit pun binar bahagia di mataku. Apa gunanya mahkota jika tak ada orang tercinta yang menyaksikan saat ia disematkan?
Kami melangkah masuk ke ruang kelas yang penuh sesak. Udara terasa gerah, namun hatiku jauh lebih sesak. Saat acara dimulai, namaku menjadi yang pertama dipanggil.
"Larasati Putri..."
Suara guru itu menggema, diikuti tepuk tangan riuh. Namun, alih-alih tegak berdiri dengan bangga, air mataku justru luruh tanpa permisi. Kristal bening itu jatuh, membasahi pipiku yang terasa panas. Aku merasa seperti pemenang yang paling kalah di dunia ini.
Maya, yang duduk tak jauh dariku, segera menyadari kerapuhanku. Ia menghampiri, lalu jemarinya yang hangat mengusap bahuku dengan lembut.
"Kamu kuat, Laras," bisiknya, suaranya tulus menenangkan. "Hari ini seharusnya menjadi momen bahagiamu. Kamu berhasil meraih prestasi terbaik, jangan biarkan kesedihan ini merebut kerja kerasmu."
Kata-kata Maya sedikit menyuntikkan kekuatan ke dalam hatiku yang lebam. Aku mencoba menarik napas dalam-dalam, meski sisa-sisa kesedihan itu masih mengendap kuat di dasar sanubari.
Setelah rangkaian acara usai, satu per satu siswa pulang bersama keluarga mereka untuk merayakan kemenangan kecil itu. Namun, aku belum siap pulang ke rumah yang sunyi. Aku mengajak Maya ke tempat pelarian kami yang biasa taman bunga sekolah. Di sana, aku ingin menghirup udara bebas sebelum kembali ke "penjara" milik Ayah.
Langkahku gontai menuju taman bunga, tempat persembunyian favorit kami. Di tangan kananku, sebuah map ijazah dan piagam bertuliskan "Lulusan Terbaik" terasa begitu berat, seolah-olah kertas itu terbuat dari timah. Seharusnya benda ini menjadi tiket kebahagiaan, tapi bagiku, ia hanyalah pengingat bisu akan kursi kosong di barisan orang tua tadi.
Kami duduk di bangku kayu panjang di bawah naungan pohon kersen. Angin siang berembus pelan, memainkan anak rambutku yang mulai lepek oleh keringat dan air mata yang mengering.
"Lihat ini, May," kataku sambil menatap nanar piagam di pangkuanku.
"Peringkat satu. Nilai sempurna. Tapi rasanya hampa. Untuk apa semua angka ini kalau Ibu bahkan tidak tahu aku lulus?"
Suaraku tercekat di ujung kalimat. Aku meraba permukaan piagam yang licin itu, membayangkan jemari kasar Ibu yang penuh kasih mengusapnya dengan bangga.
Maya bergeser mendekat, bahu kami bersentuhan. "Laras, prestasi ini milikmu. Bukan milik Ayahmu, bukan milik siapa pun. Ibu pasti bangga padamu di mana pun beliau berada sekarang. Ikatan batin ibu dan anak itu kuat, Ras. Dia pasti merasakannya."
Aku menunduk, menatap sepasang sepatu hitamku yang berdebu. "Ayah jahat, May. Dia memberikan segalanya uang, fasilitas, sekolah terbaik tapi dia mencuri duniaku. Dia mencuri Ibu dariku. Kadang aku merasa kesuksesanku ini cuma jadi pajangan untuk kesombongan Ayah di depan rekan-rekannya."
Maya menghela napas panjang, matanya menatap hamparan bunga krisan yang bergoyang tertiup angin. "Jangan biarkan kemarahanmu pada Ayah menghancurkan apa yang sudah kamu capai. Kamu hebat karena dirimu sendiri, bukan karena uangnya."
Aku mencoba tersenyum, meski hanya secuil. Kehadiran Maya adalah satu-satunya warna cerah dalam kanvas hidupku yang abu-abu. Namun, di tengah ketenangan itu, kecemasan kembali merayap. Setelah ini, aku harus pulang. Menghadapi rumah besar yang dingin, makan malam yang sunyi, dan pengawasan ketat Ayah yang mencekik.
"May," bisikku lirih. "Boleh aku minta satu hal? Jangan bosan jadi temanku. Aku tidak tahu bagaimana caraku bertahan kalau kamu juga tidak ada."
Maya menggenggam tanganku erat. Dingin di ujung jemariku perlahan memudar oleh kehangatan tangannya. "Sampai kapan pun, Ras. Aku janji."
Di taman itu, di sela-sela harum bunga dan bayangan pepohonan, aku menyadari satu hal: kelulusan ini bukan hanya akhir dari masa sekolah, tapi awal dari perjuanganku yang sesungguhnya untuk menemukan jalan pulang menuju Ibu.
Percakapanku dengan Maya harus terputus saat asisten rumah tangga menghampiriku dengan wajah cemas. Ayah sudah menelepon berkali-kali, tidak sabar menunggu kepulanganku untuk menagih hasil kelulusan. Dengan berat hati, aku pun berpamitan.
"Maya, aku duluan ya. Ayah sudah menyuruh pulang" ucapku lesu.
"Iya, Laras. Hati-hati ya," balas Maya dengan tatapan prihatin. Kami bergegas menuju gerbang.
Sebuah taksi sudah menunggu di sana pemandangan yang tidak biasa karena biasanya aku cukup pulang dengan ojek daring. Namun, karena ada asisten yang menemani, Ayah memesankan kendaraan yang lebih "layak" menurut standarnya. Saat mobil itu perlahan menjauh dari sekolah, dadaku mulai terasa sesak. Aku sedang menuju ke tempat yang paling kubenci di dunia ini: rumah yang terasa seperti penjara.
Di tengah perjalanan, jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Di sebuah persimpangan jalan, aku melihat sesosok perempuan yang berdiri di tepi trotoar. Perawakannya, cara berdirinya... sangat mirip Ibu!
"Pak, berhenti sebentar!" seruku spontan.
Mobil berhenti mendadak. Asisten rumah tangga di sampingku terlonjak kaget. "Neng, ada apa? Kok tiba-tiba minta berhenti?" tanyanya dengan raut bingung.
"Tidak apa-apa. Aku... aku hanya ingin beli es cendol di sana," jawabku asal, lalu segera keluar sebelum dia sempat melarang.
Aku berlari kecil menghampiri perempuan itu. Harapanku melambung tinggi, rasa rindu yang kupendam selama seminggu ini seolah meledak. Begitu sampai di dekatnya, aku berseru dengan suara parau.
"Ibu...!"
Perempuan itu menoleh. Seketika, duniaku runtuh kembali. Harapan itu padam secepat ia muncul. Dia bukan Ibu. Dia hanyalah seorang pedagang es cendol yang kebetulan memiliki fitur wajah serupa.
"Iya, ada apa ya, Non?" tanya ibu pedagang itu ramah. Aku terdiam sejenak, menelan kekecewaan yang terasa pahit di tenggorokan. "Enggak, Bu... saya cuma mau beli esnya," bisikku pelan, mencoba menyembunyikan mata yang mulai berkaca-kaca.
Setelah membayar, aku kembali ke mobil. Asisten rumah tangga langsung menegurku begitu aku duduk. "Nona, Ayah kan melarang Nona minum es. Nanti kalau sakit, Ayah bisa marah besar."
"Tidak apa-apa," bantahku dingin. Aku tidak peduli pada sakit fisik, karena hatiku sudah jauh lebih sakit daripada itu.
Sesampainya di rumah, suasananya persis seperti yang kubayangkan. Ayah sudah duduk di ruang tamu dengan wajah penuh tuntutan. Begitu melihatku masuk, ia langsung berdiri.
"Laras, mana? Ayah mau lihat lapor-mu!" pintanya tidak sabaran.
Aku menyodorkan map ijazah itu tanpa ekspresi. Ayah membukanya, dan matanya berbinar melihat deretan angka sempurna di sana.
"Wah! Nilaimu sangat bagus, Laras! Ayah bangga sekali. Katakan, kamu mau hadiah apa? Ayah akan turuti apa saja!" serunya penuh semangat.
Aku menatap mata Ayah dalam-dalam. Kemarahan yang kupendam selama ini memuncak. "Aku hanya ingin Ibu kembali," balasku dengan nada tegas dan getir.
Seketika, raut wajah Ayah berubah kaku. "Kalau itu tidak bisa, Laras. Minta yang lain, pasti Ayah belikan."
"Aku tidak butuh yang lain! Aku hanya minta itu!" suaraku meninggi, memecah kesunyian rumah yang dingin.
Ayah berdeham, mencoba mengalihkan pembicaraan seolah permintaanku hanyalah angin lalu. "Mau mobil? Ponsel keluaran terbaru? Atau apa? Besok kita beli mobil baru untukmu ya, supaya kamu bisa jalan-jalan bersama teman-temanmu."
Aku hanya bisa menatapnya dengan rasa muak. Ayah pikir mobil mewah bisa menggantikan kehadiran seorang Ibu. Dia tidak mengerti bahwa bagiku, segunung harta pun tidak akan pernah bisa membeli satu pelukan tulus dari Ibu yang ia usir.
Aku melangkah masuk ke kamar tanpa menoleh lagi, membanting pintu pelan seolah ingin mengunci seluruh dunia di luar sana. Seragam sekolah masih melekat di badanku, terasa gerah dan menyesakkan, namun aku tidak peduli. Aku segera merebahkan diri di atas ranjang, lalu dengan tangan gemetar, aku meraih ponsel dari dalam tas.
Di balik folder tersembunyi, aku menatap layar yang bercahaya. Foto itu. Foto terakhirku bersama Ibu sebelum badai ini datang. Senyum Ibu dalam foto itu begitu tulus, kontras dengan pantulan wajahku yang kusam di layar kaca. Ayah boleh saja melarangku berkomunikasi, dia boleh saja menghapus nomor Ibu dari daftar kontakku, tapi dia tidak akan pernah bisa menghapus bayang-bayang Ibu dari ingatanku.
Ibu, Laras kangen... bisikku, jemariku mengusap permukaan layar seolah bisa merasakan kehangatan pipinya. Aku mulai mencari-cari celah, menelusuri akun sosial media lama atau jejak digital apa pun yang mungkin ditinggalkan Ibu. Aku harus menemukannya. Aku tidak boleh menyerah pada tembok tinggi yang dibangun Ayah.
Beberapa jam berlalu dalam kesunyian yang mencekam, hanya ditemani cahaya redup dari ponsel. Tiba-tiba, suara ketukan pintu memecah lamunanku.
Tok! Tok! Tok!
"Nona, makan malam sudah siap. Mari keluar dulu," suara asisten rumah tangga terdengar dari balik daun pintu, pelan dan penuh kehati-hatian.
"Aku sudah kenyang, Bi," balasku singkat tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel. Perutku memang terasa kosong, tapi rasa lapar itu telah kalah oleh rasa muak yang memenuhi rongga dadaku.
Hening sejenak, namun asisten itu tidak juga beranjak. "Nona... Tuan memanggil Nona. Beliau sudah menunggu di meja makan."
Kalimat itu terdengar seperti perintah yang tidak bisa ditawar. Aku tahu, jika aku tidak keluar, Ayah tidak akan segan-segan mendobrak ketenanganku. Dengan helaan napas panjang yang sarat akan beban, aku meletakkan ponselku di bawah bantal, bersiap menghadapi tatapan dingin pria yang menyebut dirinya pelindungku itu.
Sebelum melangkah keluar, aku menanggalkan seragam sekolah yang sudah terasa lepek. Aku menggantinya dengan pakaian rumah seadanya, seolah-olah baju apa pun yang kupakai tidak akan pernah bisa menutupi kekosongan di hatiku. Di ruang makan, hidangan siang sudah tersusun rapi dan megah, seolah-olah kami sedang menyambut tamu agung, padahal hanya ada aku dan Ayah.
Aku duduk di seberang Ayah. Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya musik di ruangan itu. Meski masakan ini dibuat dari bahan-bahan terbaik, lidahku tetap merindukan kesederhanaan masakan Ibu yang bumbunya adalah cinta, bukan sekadar rempah mahal.
"Laras, kamu sudah pikirkan mau kuliah di mana?" tanya Ayah memecah keheningan tanpa mengalihkan pandangan dari piringnya.
"Entahlah, Yah," jawabku pelan, memberikan jawaban pasrah yang sudah menjadi tamengku sehari-hari.
Ayah mendongak, matanya menatapku tajam namun penuh ambisi. "Nanti Ayah akan pilihkan kampus elit untukmu. Kita harus menjaga wibawa keluarga. Ayah ingin orang-orang tahu bahwa putriku berada di tempat terbaik."
"Terserah Ayah saja," gumamku. Bagiku, universitas mana pun akan terasa sama jika aku menjalaninya tanpa restu langsung dari Ibu.
Setelah makan siang yang terasa hambar itu usai, aku kembali mengurung diri. Hari-hariku kini terjebak dalam siklus yang membosankan: kamar, meja makan, dan kembali ke kamar. Aku membiarkan Ayah sibuk dengan brosur-brosur kampus pilihannya, sementara aku sibuk dengan kesepianku sendiri.
Hingga akhirnya, hari Minggu tiba. Rasa sesak di dada ini sudah tidak bisa kutahan lagi. Aku butuh udara luar, aku butuh seseorang yang bisa mendengarku tanpa menghakimi. Aku meraih ponsel dan menekan nomor Maya.
"Halo, Maya?" sapaku saat sambungan terhubung.
"Iya, halo Laras. Ada apa?" suara Maya terdengar hangat, seperti oase di tengah gurun.
"Kamu lagi sibuk tidak? Aku benar-benar jenuh di rumah. Bisa kita jalan-jalan hari ini?"
"Hmm, aku sedang tidak ada acara apa-apa. Tentu saja boleh, Laras!"
"Oke, nanti aku jemput ya pakai mobil," kataku.
Aku meminta izin pada Ayah untuk menggunakan salah satu mobil di garasi. Dengan kemudi di tangan, aku meluncur menuju rumah Maya. Setelah ia bergabung, kami membiarkan jalanan kota menjadi saksi bisu kegelisahanku. Mobil melintasi gedung-gedung tinggi hingga akhirnya kami memutuskan untuk menepi di taman kota, satu-satunya tempat di mana aku merasa bisa sedikit bernapas lega.
Kami duduk di salah satu bangku taman yang menghadap ke kolam. Angin sore berembus pelan, namun tidak cukup dingin untuk membekukan kegelisahan yang menyumbat dadaku. Aku menghela napas panjang, menatap ujung sepatuku sebelum akhirnya membuka suara.
"Maya... Ayah sudah merencanakan segalanya. Dia mau aku kuliah di kampus elit," ujarku, nada suaraku datar, tanpa gairah sedikit pun.
Maya menoleh, matanya membulat kecil. "Wah, bagus dong, Ras? Bukannya itu mimpi banyak orang?"
"Tapi aku tidak menyukainya, May. Semua itu cuma demi gengsi Ayah," balasku pahit. Aku terdiam sejenak, lalu memberanikan diri bertanya, "Kalau kamu sendiri, lanjut kuliah tidak?"
Wajah Maya mendadak lesu. Ia menunduk, memainkan jemarinya yang saling bertaut. "Sepertinya aku tidak lanjut, Laras. Orang tuaku... kami tidak punya biaya untuk itu."
Hatiku mencelos. Ironi ini sungguh menyesakkan; aku memiliki segalanya tapi tak menginginkannya, sementara sahabatku menginginkannya tapi tak memilikinya. "Kasihan ya, May... tapi jujur, aku iri padamu. Setidaknya kamu masih bisa bersama Ayah dan Ibumu setiap hari. Itulah yang sebenarnya aku inginkan, lebih dari sekadar gelar di kampus elit."
Percakapan emosional kami tiba-tiba terhenti oleh suara dentuman keras yang mengejutkan.
Bruk!
Seorang pemuda terjatuh tepat di depan kami. Ia tampak tersungkur, tas punggungnya terlempar beberapa langkah ke depan. Tanpa pikir panjang, rasa perikemanusiaanku bangkit. Aku segera beranjak dari bangku dan menghampirinya.
"Kak, Kakak tidak apa-apa?" tanyaku cemas sambil membantunya duduk tegak.
"Tidak apa-apa, Kak... terima kasih," balasnya lirih, suaranya sedikit meringis menahan nyeri. Ia berusaha meraih tasnya yang tergeletak di aspal.
Secara refleks, tanganku terjulur untuk mengambil tas itu di saat yang bersamaan dengan tangannya. Jemari kami bersentuhan. Hanya sekejap, namun rasanya seperti ada sengatan listrik kecil yang membuat jantungku berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Kami sempat saling terpaku, mata kami bertemu dalam sebuah tatapan yang sulit dijelaskan, hingga dehaman kecil Maya memecah keheningan itu.
"Ehem!" Maya menggoda dengan senyum tipis di sudut bibirnya.
Sontak, aku segera mengalihkan pandangan dengan wajah yang kurasakan mulai memanas. Aku baru menyadari bahwa luka di lutut dan lengannya cukup parah; darah merembes keluar dari balik sobekan celananya.
"Kak, luka Kakak itu cukup besar. Kita ke rumah sakit saja, ya?" tawarku cemas.
"Tidak apa-apa, cuma luka ringan. Saya masih bisa jalan sendiri," tolaknya sambil mencoba berdiri. Namun, baru dua langkah kakinya berpijak, tubuhnya goyah dan ia kembali terduduk lemas.
"Tuh, kan! Kakak tidak bisa memaksakan diri," seruku tegas. "Ayo, kita ke rumah sakit sekarang."
Aku memberi isyarat pada Maya untuk membantuku memapah pemuda itu. Kami membantunya masuk ke dalam mobil Ayah yang terparkir tak jauh dari sana. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, suasana di dalam mobil terasa berbeda. Ada rasa khawatir, namun ada juga getaran aneh yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Setibanya di rumah sakit, kami segera melapor ke petugas jaga. Dokter langsung membawanya ke ruang tindakan untuk mengobati luka-lukanya, meninggalkan aku dan Maya yang menunggu di koridor dengan sisa-sisa detak jantung yang masih belum stabil.
Kegelisahan yang tadi kupikir hanya milikku sendiri, kini beralih menjadi kekhawatiran pada pemuda yang baru saja kutolong. Begitu pintu terbuka dan sosok dokter muncul, aku langsung beranjak dari kursi tunggu.
"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanyaku, suaraku sedikit bergetar.
Dokter tersenyum menenangkan. "Alhamdulillah, dia baik-baik saja. Luka di kakinya memang cukup dalam, tapi sudah saya bersihkan dan balut dengan perban. Dia hanya butuh istirahat."
Aku mengembuskan napas panjang, merasakan beban di dadaku sedikit terangkat. Aku dan Maya segera melangkah masuk ke dalam ruangan. Di atas brankar, pemuda itu duduk bersandar, menatap kakinya yang kini putih terbungkus perban tebal.
"Kak, bagaimana? Sudah mendingan?" tanyaku pelan saat menghampirinya.
Ia menoleh, dan senyum tulus yang tersungging di wajahnya membuat suasana ruangan yang kaku ini mendadak terasa hangat. "Alhamdulillah, sudah jauh lebih baik. Terima kasih banyak, ya."
Ia terdiam sejenak, matanya menatapku dan Maya bergantian dengan rasa ingin tahu. "Eh, bicara-bicara... nama kalian siapa?"
"Namaku Laras, dan ini sahabatku, Maya," jawabku sambil memperkenalkan Maya yang berdiri di sampingku.
"Laras, Maya... sekali lagi terima kasih. Aku tidak tahu apa jadinya kalau tadi tidak ada kalian di taman," ucapnya dengan nada yang sangat tulus, membuat hatiku sedikit berdesir.
Setelah ia merasa cukup kuat untuk bergerak, kami pun beranjak menuju bagian administrasi. Aku segera mengeluarkan dompet, menarik selembar kartu ATM yang diberikan Ayah untuk kebutuhan darurat. Namun, begitu melihatku hendak membayar, pemuda itu langsung bereaksi keras.
"Jangan, Laras. Biar aku saja yang bayar. Kalian sudah sangat menolong dengan membawaku ke sini, aku tidak mau membebani kalian lagi," tolaknya tegas, meski ia harus sedikit meringis saat mencoba merogoh sakunya.
Aku menggeleng pelan, tetap menyodorkan kartu itu kepada petugas. "Sudahlah, Kak. Anggap saja ini bantuan tulus dari kami. Jangan dipikirkan." Meski ia sempat bersikeras, akhirnya ia terdiam saat aku menyelesaikan pembayarannya.
Kami pun berjalan keluar dari rumah sakit. Aku memperhatikan langkahnya yang masih pincang dan sedikit terseret, namun ia berusaha menegakkan bahu seolah ingin menutupi rasa sakitnya. Gengsi laki-lakinya terlihat jelas dari caranya berusaha berjalan normal.
"Kak, kami antar pulang saja ya? Kaki Kakak masih belum stabil untuk naik angkutan umum," tawarku saat kami sampai di lobi.
"Tidak usah, Laras. Aku bisa pulang sendiri, sungguh," tolaknya lagi, masih dengan kemandirian yang keras kepala.
"Jangan membantah lagi, Kak," potongku sambil membukakan pintu mobil. "Lihat jalanmu saja masih miring begitu. Ayo, masuk."
Setelah perdebatan kecil yang akhirnya ia menangkan dengan rasa pasrah, ia pun menyetujui tawaran kami. Di dalam mobil, suasana terasa lebih akrab, meski aku masih penasaran tentang siapa sebenarnya pemuda yang baru saja mewarnai hari Mingguku yang kelam ini.
Suasana di dalam mobil terasa jauh lebih hangat dibandingkan saat aku berangkat tadi. Aroma parfum mobil yang mahal biasanya membuatku mual karena mengingatkanku pada Ayah, tapi kali ini, kehadiran sosok asing di kursi belakang mengalihkan segalanya. Aku melirik melalui spion tengah, melihatnya yang masih berusaha mengatur posisi kaki agar tidak terlalu nyeri.
Rasa penasaran mulai menggelitik benakku. Aku tidak ingin membiarkan keheningan ini kembali menguasai. "Eh, Kak... tadi kan kami sudah memperkenalkan diri. Sekarang giliran Kakak, dong. Benar kan, May?" ujarku sambil menyikut pelan lengan Maya yang duduk di sampingku.
Maya mengangguk antusias. "Iya, benar. Masa laki-laki ganteng kita ini belum punya nama?"
Pemuda itu tertawa kecil, sebuah tawa rendah yang terdengar tulus. "Ah, maaf... aku sampai lupa. Namaku Rangga," ungkapnya singkat namun meninggalkan kesan yang dalam.
"Rangga..." aku menggumamkan nama itu pelan, seolah sedang mencicipi bunyinya. "Namanya bagus ya, May?" Rangga tersenyum tipis mendengar pujian spontanku. Ia kemudian merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah ponsel yang layarnya sedikit retak di bagian sudut.
"Laras... boleh aku minta nomor ponselmu?" tanya Rangga tiba-tiba.
Aku tertegun sejenak. Jantungku memberikan reaksi yang aneh, seperti ada kembang api kecil yang meletus di sana. "Oh, boleh," jawabku berusaha tenang sambil mendiktekan deretan angka milikku.
Dengan jemari yang cekatan meski tangannya sedikit tergores, ia mengetik nomor itu. Maya yang sejak tadi memperhatikan interaksi kami kembali berdeham, kali ini dengan senyum penuh arti yang membuat pipiku terasa panas.
"Hmm!" Maya bergumam keras. "Jangan-jangan dengan meminta nomor Laras, Kak Rangga punya rencana lain nih untuk terus mendekati sahabatku?" canda Maya telak. Rangga langsung membelalakkan mata, tampak salah tingkah. Ia segera menggeleng, mencoba memberikan pembelaan meski wajahnya juga sedikit merona.
"Bukan begitu... aku minta nomornya supaya nanti aku bisa mengganti biaya pengobatannya. Aku tidak mau berutang budi terlalu banyak pada kalian," bantah Rangga cepat.
Aku hanya tersenyum simpul menanggapi perdebatan kecil mereka. Di balik kemudi, aku merasa sedikit lega. Setidaknya, nomor telepon itu kini menjadi jembatan kecil yang menghubungkanku dengan dunia luar yang lebih nyata, jauh dari bayang-bayang kendali Ayah.
Mobil meluncur membelah aspal kota, mengikuti arahan Rangga menuju rumahnya. Di sepanjang jalan, kabin mobil yang biasanya sunyi dan dingin kini dipenuhi gelak tawa. Candaan Maya dan respons malu-malu dari Rangga perlahan mengikis gumpalan sesak yang selama ini bersarang di dadaku. Untuk sejenak, aku benar-benar lupa bahwa aku adalah seorang gadis kesepian yang kehilangan ibunya.
Setibanya di depan sebuah rumah sederhana, Rangga turun dengan gerakan yang masih sedikit kaku dan pincang. Ia berdiri di samping pintu mobil, menatap kami dengan binar tulus.
"Terima kasih banyak ya, kalian sudah sangat membantuku," ucapnya sekali lagi.
"Iya, sama-sama Mas Ganteng," goda Maya tanpa ampun.
"Ih, Maya!" aku menyenggol lengannya, wajahku memanas karena ulah sahabatku itu.
"Kami jalan dulu ya, Rangga," pamitku padanya, mencoba menetralisir suasana.
"Iya, hati-hati di jalan, Laras. Hati-hati, Maya," balasnya sambil melambaikan tangan.
Aku segera menginjak pedal gas, memacu mobil menjauh. Di spion, aku masih sempat melihat bayangannya yang berdiri tegap sebelum akhirnya menghilang di tikungan.
Namun, begitu roda mobil memasuki halaman rumahku, suasana riang itu seketika menguap. Ayah sudah berdiri di teras dengan tangan bersedekap, wajahnya menunjukkan guratan kekhawatiran yang nyata.
"Kalian dari mana saja sampai jam begini? Ini sudah jam sebelas malam, Laras," tanya Ayah dengan suara berat.
"Kami hanya jalan-jalan, Yah. Maaf lupa waktu," balasku pendek.
"Ya sudah, ayo masuk. Sudah malam," perintahnya.
Aku dan Maya bergegas masuk ke kamar, mengunci pintu seolah-olah mengunci dunia luar yang menyesakkan. Di dalam kamar yang nyaman ini, aku akhirnya bisa bernapas lega. Kami merebahkan diri di atas ranjang, saling menatap, lalu tawa kami pecah saat mengingat kejadian di rumah sakit tadi.
"Rangga ganteng juga ya, Ras?" puji Maya sambil menopang dagu, matanya mengerling nakal.
"Biasa saja kok," balasku sok cuek, meski jantungku berkhianat dengan detakan yang lebih kencang.
"Awas, lho. Kejadian seperti tadi biasanya berujung jadi jodoh," tambahnya lagi.
Aku tertawa renyah. "Eh, kamu ini! Mana mungkin. Dia pasti sudah punya pacar. Laki-laki seperti Rangga tidak mungkin masih sendiri."
Tiba-tiba, ponsel yang tergeletak di atas bantal bergetar. Sebuah notifikasi WhatsApp muncul dari nomor yang belum tersimpan.
"Hai Laras, ini aku Rangga."
Jantungku seolah melompat. Dengan jari gemetar, aku membalasnya. "Iya, ada apa ya, Rangga?"
"Boleh minta nomor rekeningmu?" tanyanya balik.
"Mau buat apa?"
"Aku ingin mengganti biaya rumah sakit tadi. Aku merasa tidak enak."
Aku tersenyum tipis melihat pesan itu. "Halah, tidak usah. Aku ikhlas kok, jangan dipikirkan lagi."
"Benar nih?"
"Iya, sumpah."
"Makasih ya, kamu baik banget."
"Iya, sama-sama Rangga."
Percakapan singkat itu diakhiri oleh Rangga dengan sebuah stiker berbentuk hati yang berdetak. Maya, yang sejak tadi mengintip dari balik bahuku, sontak berteriak kecil karena terkejut.
"Wah, Laras! Dia ada perasaan padamu!" seru Maya heboh. "Biasanya kalau laki-laki mengirimkan stiker seperti itu, pasti ada sesuatu yang disembunyikan!"
"Gak mungkin, Maya. Dia mungkin hanya iseng atau salah kirim," bantahku cepat, mencoba menyembunyikan wajahku yang kini pasti sudah semerah tomat di balik bantal. Namun, di dalam hati yang terdalam, stiker kecil itu rasanya jauh lebih berharga daripada mobil mewah yang ditawarkan Ayah padaku tadi siang.
.png)