Janji Manis PT IWIP Hanya Sandiwara. Jalan Papiyet, Lapangan Mini Soccer, dan Sekretariat Pemuda Tak Pernah Ada Wujudnya -->

Header Menu

Janji Manis PT IWIP Hanya Sandiwara. Jalan Papiyet, Lapangan Mini Soccer, dan Sekretariat Pemuda Tak Pernah Ada Wujudnya

Admin Global
Tuesday, 19 May 2026

HALTENG, Wartarepublik.com – Kepercayaan masyarakat Desa Lukulamo Kecamatan Weda Tengah, Kabupaten Halmahera Tengah, terhadap PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) kini telah runtuh sepenuhnya. Kekecewaan mendalam sekaligus kritik paling tajam dilontarkan secara tegas oleh pengurus dan anggota Karang Taruna Tunas Harapan, Desa Lukulamo, Kecamatan Weda Tengah. Pasalnya, sederet janji besar yang diucapkan perusahaan hingga kini terbukti hanya manis di bibir, kosong, dan tak kunjung direalisasikan. Baik perbaikan jalan rusak, pembangunan lapangan sepak bola mini, maupun gedung sekretariat pemuda, semuanya ternyata hanya sekadar wacana belaka untuk menenangkan rakyat semata. Rabu, (20/5/2026)

Puncak kemarahan ini bermula dari sebuah peristiwa pada 18 April 2026 lalu. Saat itu, tim eksternal yang diutus resmi oleh PT IWIP turun ke lokasi dengan gaya sangat serius. Mereka meninjau kerusakan parah di Jalan Papiyet, mencatat setiap lubang, memotret setiap titik kerusakan, dan di hadapan warga yang berharap, tim itu berjanji pasti: "Segera diperbaiki". Tidak cukup itu, di kesempatan yang sama, pihak perusahaan juga berjanji muluk akan membangunkan fasilitas impian pemuda desa: Lapangan Mini Soccer dan Gedung Sekretariat Karang Taruna Tunas Harapan.

Saat itu, warga Desa Lukulamo percaya. Masyarakat beranggapan bahwa akhirnya ada perhatian, bahwa akses ekonomi mereka akan mulus, dan anak-anak muda akan punya wadah berkarya. Namun, waktu berlalu dari bulan April hingga kini, apa buktinya? NIHIL. KOSONG. TIDAK ADA APA-APA.

Fakta berbicara sebaliknya dan menyakitkan. Hingga berita ini diturunkan, tidak ada satu pun alat berat yang dikirim, tidak ada satu pun tenaga kerja yang turun, dan tidak ada satu pun tiang pancang yang tertanam. Jalan Papiyet masih sama rusaknya—bahkan makin parah tergerus hujan dan lalu lintas—penuh lubang yang membahayakan nyawa. Tanah kosong tempat rencana lapangan dan sekretariat pun masih gersang dan sama persis seperti saat belum ada janji. Semua ucapan manis saat pengecekan bulan lalu lenyap tak berbekas, seolah tidak pernah diucapkan.

Melihat kenyataan pahit yang sangat kontradiktif ini, Karang Taruna Tunas Harapan tak bisa lagi diam dan menggunakan bahasa halus. Organisasi pemuda ini secara tegas menuduh bahwa Tim Eksternal PT IWIP telah BERBOHONG, MENIPU, dan BERMAIN DRAMA di hadapan masyarakat.

"Kalimat 'akan diperbaiki' dan 'akan kami bangun fasilitas' itu ternyata hanya akal-akalan saja. Fakta berbicara lain: setelah mereka datang, mengecek, mencatat, memotret, dan memberi harapan palsu, kami tidak melihat ada perubahan sedikit pun. Jalan Papiyet tetap rusak parah, lubang tetap ada, kami tetap susah lewat dan rugi biaya angkut hasil bumi. Rencana membangun lapangan mini soccer serta gedung sekretariat itu? Sama sekali tidak ada tanda-tanda dimulai! Kalau niatnya tidak ada dari awal, untuk apa kalian datang dan mengecek? Untuk apa berjanji seolah peduli? Ini namanya bohong! Ini namanya menipu harapan kami!" tegas perwakilan pengurus dengan nada kemarahan yang meluap-luap.

Bagi warga Desa Lukulamo, Jalan Papiyet bukan sekadar aspal biasa. Ini adalah urat nadi ekonomi, satu-satunya jalan utama yang menghubungkan kebun, pemukiman, dan pusat pasar. Kerusakan yang dibiarkan berlarut-larut ini merugikan ekonomi rakyat setiap harinya, mengganggu distribusi hasil bumi, hingga membahayakan keselamatan nyawa. Sementara janji fasilitas olahraga dan sekretariat adalah harapan masa depan agar pemuda tidak terjerumus kenakalan remaja.

Pihak Karang Taruna menilai, sikap PT IWIP melalui tim eksternalnya ini adalah bentuk ketidakpedulian yang paling nyata, pengingkaran tanggung jawab sosial, dan penghinaan terhadap warga pemilik tanah. Padahal, wilayah Weda Tengah dan Desa Lukulamo adalah gudang kekayaan nikel yang menjadi sumber kekayaan besar perusahaan ini. Sangat ironis dan memalukan, mengambil kekayaan miliaran rupiah dari bawah tanah desa ini, tapi untuk memperbaiki jalan dan membuatkan fasilitas sederhana bagi pemberdayaan masyarakat, perusahaan beralasan dan ingkar janji.

"Kami tidak minta kemewahan, kami hanya minta HAK kami. Jalan yang layak kami lalui setiap hari, fasilitas agar pemuda bisa berkarya. Jangan jadikan kunjungan pengecekan itu sekadar formalitas biar laporan ke kantor pusat terlihat bagus, tapi nyatanya di lapangan kami dibiarkan menderita begini. Kami sudah sangat kecewa, dan kami menuntut: TEPATI JANJI ATAU AKUI SAJA KALAU KALIAN TIDAK PEDULI!" tambahnya dengan tegas.

Karang Taruna Tunas Harapan pun memberikan peringatan keras bagi manajemen PT IWIP: Jangan pernah menganggap kesabaran warga itu tidak ada batasnya. Warga sudah menunggu sabar sejak 18 April lalu, namun kenyataan yang ada justru penghianatan. Batas kesabaran itu kini hampir putus.

"Kami butuh kejelasan mutlak, bukan tebakan atau janji baru yang kosong.

Apakah Jalan Papiyet akan diperbaiki atau dibiarkan rusak selamanya?

Apakah lapangan dan sekretariat itu benar-benar akan dibangun atau hanya dongeng pengantar tidur?

Atau memang pengecekan yang dilakukan PT IWIP bulan lalu itu hanyalah SEBUAH SANDIWARA BELAKA untuk membodohi kami?" tegasnya menuntut jawaban terbuka.

Publik luas pun kini menatap tajam ke arah PT IWIP. Perusahaan ini diingatkan: Segera turunkan alat berat dan buktikan komitmen yang nyata SEKARANG JUGA. Sebelum nama baik perusahaan benar-benar hancur lebur, dicap sebagai pembohong publik, dan dikenang selamanya sebagai pihak yang hanya mau mengambil untung dari kekayaan desa, tapi lupa membalas kebaikan tanah yang telah memberi mereka kekayaan melimpah ruah. (Tim)