Membaca Opini Wartawan "Ratu Dunia"?: Antara Integritas dan Popularitas -->

Header Menu

Membaca Opini Wartawan "Ratu Dunia"?: Antara Integritas dan Popularitas

Admin Global
Wednesday, 13 May 2026

Oleh: Akmal Yusup Mahasiswa Komunitas Penyiaran Islam Universitas Muhammadiyah Malut


WARTAREPUBLIK.COM - Di pagi itu. Selasa 12 Mei 2026, saya terbangun dari tidur dan beranjak dari tempat tidur ke toilet mencuci muka dan setelah mencuci muka lalu saya pergi ke dapur untuk membuat secangkir kopi Kapal Api, usai membuat secangkir kopi itu, lalu saya pergi mengambil ponsel di kamar setelah mengambilnya saya lalu menuju teras depan rumah sambil membawa secangkir kopi dan ponsel.

Teras yang selalu menjadi tempat santai. Kemudian sambil duduk dan menikmati angin segar dan kopi panas di pagi hari. Sebagai anak kuliah tentunya hal itu sangat membahagiakan diri serta mempunyai kesenangan tersendiri. Saya mulai membuka ponsel dan mengaktifkan data untuk membuka WhatsApp sekiranya mencari tau informasi yang disampaikan didalam group.

Ternyata belum ada informasi yang disampaikan. Lalu saya mencari dan membuka satu tulisan opini dari Google yang berada di media Tabaus News. Saya sangat tertarik untuk membacanya. Dan dari situlah kemudian saya mencerna dan mengambil apa yang menjadi pembahasannya dan membentuknya dalam sebuah opini.

Tulisan opini yang di tulis oleh Pak Dosen, Pribadi Pak Fauji Ilyas, S.I.Kom., M.I.Kom dengan judul “Wartawan Ratu Dunia”(?) di Media Tabaus News rillis pada 2 Desember 2024, menghadirkan kritik sosial yang sangat relevan dengan keadaan dunia jurnalistik sekarang. Di tengah pesatnya perkembangan media digital, profesi wartawan kini tidak hanya dipandang sebagai penyampai informasi. Kini, wartawan sering kali terlibat dalam pusaran kepentingan politik, ekonomi, bahkan pencitraan pribadi.

Fenomena inilah yang secara tersirat disindir melalui istilah “wartawan ratu dunia”. Istilah ini menggambarkan sebagian oknum wartawan yang merasa memiliki kuasa besar atas informasi. Hal ini membuat mereka sering melupakan etika profesi. Banyak yang menjadikan profesi jurnalistik sebagai alat tekanan sosial, sarana mencari keuntungan pribadi, atau membangun kedekatan dengan elite kekuasaan. Seharusnya, wartawan menjadi penjaga kebenaran dan kepentingan publik, bukan penguasa opini.

Kondisi ini semakin parah dengan perkembangan media sosial. Kecepatan sering kali dianggap lebih penting daripada akurasi. Banyak media berlomba-lomba mengejar klik dan viralitas tanpa memperhatikan kualitas berita. Akibatnya, muncul judul provokatif, informasi yang belum terverifikasi, dan berita yang cenderung menggiring opini masyarakat. Dalam situasi seperti ini, publik mulai kehilangan kepercayaan terhadap media.

Sebenarnya, pers memiliki peran penting dalam demokrasi. Wartawan adalah penghubung antara masyarakat dan kekuasaan. Jika independensi wartawan hilang, masyarakat akan kesulitan mendapatkan informasi yang objektif. Kritik terhadap dunia pers bukan berarti membenci wartawan, tetapi justru menjadi bentuk kepedulian agar profesi ini kembali pada nilai-nilai idealnya.

Masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan literasi media. Publik harus mampu memilah informasi, memeriksa sumber berita, dan tidak mudah percaya pada informasi yang hanya bersifat sensasional. Media yang tidak sehat akan terus berkembang jika masyarakat terus mendukungnya tanpa sikap kritis.

Opini “Wartawan Ratu Dunia” menjadi pengingat bahwa profesi wartawan bukanlah simbol kekuasaan, melainkan amanah sosial. Wartawan yang dihormati bukanlah yang paling ditakuti atau paling viral, tetapi yang paling jujur, independen, dan dipercaya masyarakat. Di era digital ini, integritas dan etikabilitas menjadi nilai yang jauh lebih penting daripada popularitas.