Mengutuk Pelaku Saja Tidak Cukup: Ada Budaya Rusak yang Diam-Diam Memelihara Pelecehan -->

Header Menu

Mengutuk Pelaku Saja Tidak Cukup: Ada Budaya Rusak yang Diam-Diam Memelihara Pelecehan

Admin Global
Thursday, 21 May 2026

Oleh: Isran Safrudin

WARTAREPUBLIK.COM - Kemarahan perempuan hari ini terhadap pelecehan dan kekerasan bukanlah sesuatu yang lahir tiba-tiba. Itu adalah akumulasi luka yang terlalu lama dipendam, ketakutan yang diwariskan dari hari ke hari, dan ketidakadilan yang berkali-kali dianggap wajar oleh masyarakat. Setiap kasus pelecehan yang viral, termasuk yang terjadi di kampus, sekolah, tempat kerja, bahkan ruang ibadah, membuka satu kenyataan pahit: banyak orang masih gagal memahami batas antara penghormatan dan perampasan martabat manusia.

Namun persoalan ini tidak akan selesai hanya dengan ledakan emosi di media sosial. Mencaci pelaku memang penting sebagai bentuk keberpihakan kepada korban, tetapi berhenti di sana hanya akan membuat kita sibuk memadamkan api tanpa mencari sumber bensin yang terus menyulutnya.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: mengapa pelecehan terus lahir? Apa yang sebenarnya sedang rusak dalam cara masyarakat membangun relasi antara laki-laki dan perempuan?

Sebagian orang hanya menunjuk moral pelaku. Sebagian lagi menyalahkan budaya patriarki. Ada yang berbicara soal relasi kuasa, pendidikan yang gagal menanamkan empati, atau lingkungan sosial yang menormalisasi candaan seksual dan perilaku merendahkan perempuan. Semua itu memang bagian dari masalah. Tetapi ada satu hal yang juga tidak boleh diabaikan: krisis kesadaran dalam menjaga diri dan etika sosial.

Hari ini kebebasan sering diterjemahkan tanpa batas. Banyak orang ingin dihormati, tetapi menolak memahami nilai-nilai yang sejak lama diajarkan adat dan syariat tentang bagaimana manusia menjaga martabat dirinya di ruang sosial. Menutup aurat, menjaga sikap, mengendalikan perilaku, dan tidak menjadikan tubuh sebagai alat mencari validasi bukanlah bentuk pengekangan. Itu adalah cara menjaga kehormatan diri dan menjaga ruang sosial agar tetap sehat.

Ini bukan berarti perempuan menjadi penyebab pelecehan. Tidak. Kalimat itu harus ditegaskan sekeras mungkin: pelaku tetap sepenuhnya bertanggung jawab atas tindakan bejatnya. Tidak ada pakaian, bentuk tubuh, atau penampilan yang bisa dijadikan pembenaran untuk menyentuh, melecehkan, atau merendahkan seseorang.

Tetapi masyarakat juga tidak boleh munafik dengan berpura-pura bahwa cara manusia menampilkan diri di ruang publik tidak memiliki dampak sosial sama sekali. Ketika sensualitas dipromosikan tanpa batas, ketika tubuh dijadikan komoditas perhatian, ketika standar pergaulan makin kehilangan rasa malu dan batas etika, maka ruang sosial ikut berubah. Hasrat dipelihara, godaan dipertontonkan, dan kontrol diri semakin dilemahkan.

Lalu apa yang terjadi? Kita sibuk mengutuk pelaku setelah kejadian, tetapi diam terhadap budaya yang perlahan membentuk iklim rusak itu sejak awal.

Inilah ironi terbesar masyarakat modern: semua ingin kebebasan penuh, tetapi marah ketika kebebasan itu melahirkan kekacauan sosial. Semua ingin tampil tanpa batas, tetapi menolak bicara tentang tanggung jawab moral. Semua ingin keamanan, tetapi enggan membangun budaya menjaga diri.

Padahal peradaban tidak dibangun hanya dengan hukum dan hukuman. Peradaban dibangun dengan kesadaran. Dengan rasa malu. Dengan batas. Dengan kemampuan manusia mengendalikan dirinya sebelum kerusakan terjadi.

Laki-laki wajib menjaga pandangan, menghormati perempuan, dan mengendalikan nafsunya. Itu mutlak. Tidak ada tawar-menawar. Tetapi perempuan juga perlu menyadari bahwa menjaga kehormatan diri bukan bentuk kelemahan, melainkan kekuatan. Bukan karena takut pada laki-laki, tetapi karena menghargai dirinya sendiri.

Kalau masyarakat hanya terus berteriak menghukum pelaku tanpa mau mengoreksi budaya yang semakin kehilangan arah, maka pelecehan tidak akan pernah benar-benar selesai. Kita hanya akan terus memproduksi kemarahan baru setiap minggu, setiap bulan, setiap tahun.

Karena kenyataannya, kerusakan sosial tidak pernah lahir dari satu sisi saja. Ia tumbuh ketika manusia sama-sama kehilangan kendali, kehilangan nilai, dan kehilangan rasa tanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan orang lain.