Represif Militer dan Matinya Ruang Publik pada Nobar "PESTA BABI" Dalam Lensa Hannah Arendt -->

Header Menu

Represif Militer dan Matinya Ruang Publik pada Nobar "PESTA BABI" Dalam Lensa Hannah Arendt

Admin Global
Wednesday, 13 May 2026

Oleh: Sahib Munawar.S.Pd.,I.M.,Pd. Pegiat Filsafat dan Literasi.

WARTAREPUBLIK.COM - Pesta Babi. Temanya Seksi tapi tanggapan dari Pihak militer TNI dianggap Provokatif.

"Dokumenter Pesta Babi" menyoroti isu ekologis dalam konteks kolonialisme gaya baru.

"Lantaran kedoknya/kejahatannya terbongkar"
Sebaiknya TNI berganti seragam atau status Sipil Kepolisian"

Dokumenter Pesta Babi ini berfokus pada perjuangan masyarakat adat Papua Selatan (suku Marind, Yei, Awyu, Muyu) melawan perampasan tanah adat dan hutan akibat ekspansi proyek agribisnis (food estate) yang didukung keterlibatan militer. 

Pembubaran paksa nonton bareng (nobar) film ini, oleh aparat TNI di Ternate pada Mei 2026 Dan terulang kembali pada 12 Mei 2026 di Kampus Unkhair Ternate, hal ini memicu perdebatan serius mengenai kebebasan berekspresi, hak lingkungan, dan peran militer. 

Hannah Arendt, dalam teorinya tentang kekuasaan dan kebebasan, menekankan pentingnya ruang publik untuk diskusi bebas. Pembubaran paksa oleh TNI (seperti di Ternate dan Mataram) merupakan contoh nyata dari tindakan represif aparat yang bertentangan dengan demokrasi. 

Pembubaran nobar oleh TNI, yang dikabarkan mengamankan proyek agribisnis, menunjukkan upaya kolonialisme gaya baru (modern), di mana identitas budaya Papua dihilangkan dan diganti dengan narasi pembangunan, mengabaikan hak masyarakat lokal atas tanah leluhur mereka. 

Bagi Arendt, kebebasan adalah hak untuk tampil dan berbicara di ruang publik. Pembubaran nobar oleh aparat TNI yang berdalih "provokatif" atau "tidak kondusif"— adalah tindakan melampaui kewenangan yang menutup ruang diskusi dan menciptakan ketakutan.

Arendt membedakan kekerasan dan kekuasaan -Kekuasaan muncul dari persetujuan publik, sedangkan kekerasan adalah alat negara untuk memaksa. Tindakan represif TNI, yang memaksa warga untuk tidak menonton film, adalah bentuk kekerasan negara (penggunaan kekuatan militer dalam sipil) yang membunuh kekuasaan sejati (dialog publik).

Kita ingat dulu pada masa orba ketika demokrasi, kebebasan pers, kebebasan menyatakan pendapat dan kritik dibungkam atas nama Undang-Undang dan sekarang terulang kembali " Artinya kita sedang berada dalam rezim orba gaya baru "

Represi aparat yang membatasi nobar adalah upaya untuk menghentikan "tindakan" warga negara dalam memperjuangkan hak tanah adat, membuat mereka menjadi objek pembangunan, bukan subjek. 

Pesta Babi adalah dokumentasi perlawanan ekologis sekaligus kritik politik. Tindakan represif TNI membubarkan acara tersebut bukan hanya pelanggaran konstitusi, tetapi juga bentuk nyata dari terkikisnya ruang kebebasan sipil (Arendt) dan kebutaan terhadap nilai ekologis di tengah masifnya perampasan tanah adat atas nama pembangunan Filsafat lingkungan. 

Selamat Membaca, yuk Nobar Bareng biar tidak Gagal paham.