Wihaji, Keteladanan Pemimpin dalam Membangun Keluarga Indonesia -->

Header Menu

Wihaji, Keteladanan Pemimpin dalam Membangun Keluarga Indonesia

Admin Global
Friday, 15 May 2026

Oleh: Rika Utari


WARTAREPUBLIK.COM - Kehadiran Wihaji sebagai Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga membawa harapan baru bagi pembangunan keluarga di Indonesia. 

Di tengah tantangan sosial, ekonomi, dan perubahan budaya yang semakin kompleks, sosok pemimpin yang memahami pentingnya keluarga menjadi sangat dibutuhkan. Wihaji tidak hanya hadir sebagai pejabat negara yang menjalankan kebijakan, tetapi juga memperlihatkan nilai-nilai kekeluargaan melalui sosoknya sebagai ayah yang hangat dan dekat dengan keluarga.

Transformasi BKKBN menjadi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) menunjukkan bahwa negara mulai menempatkan keluarga sebagai fondasi utama pembangunan bangsa. 

Persoalan kependudukan saat ini tidak lagi hanya berkaitan dengan angka kelahiran atau administrasi keluarga berencana, tetapi juga menyangkut kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. Isu seperti stunting, pernikahan dini, kesehatan mental keluarga, hingga lemahnya ketahanan ekonomi rumah tangga menjadi tantangan besar yang membutuhkan perhatian serius.

Dalam situasi tersebut, Wihaji menghadapi tugas yang tidak ringan. Indonesia memang sedang menikmati bonus demografi, yaitu kondisi ketika jumlah usia produktif lebih besar dibanding usia nonproduktif. Namun peluang besar itu dapat berubah menjadi beban apabila kualitas manusianya tidak dipersiapkan dengan baik. Karena itu, pembangunan keluarga menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.

Yang menarik, pendekatan Wihaji tidak hanya terlihat dalam kebijakan formal, tetapi juga dalam cara ia membangun citra sebagai figur ayah yang hangat dan membumi. 

Di tengah stigma pejabat publik yang sering dianggap kaku dan jauh dari kehidupan masyarakat, Wihaji justru tampil lebih dekat dengan nilai-nilai keluarga. Hal ini penting karena masyarakat Indonesia memiliki budaya kekeluargaan yang sangat kuat.

Keteladanan seorang pemimpin sering kali lebih mudah diterima dibanding sekadar slogan atau program administratif. Sosok ayah memiliki peran besar dalam membentuk karakter anak dan menjaga keharmonisan rumah tangga. 

Di era modern, banyak keluarga menghadapi tantangan berupa minimnya waktu bersama, pengaruh media sosial, hingga renggangnya komunikasi antara orang tua dan anak. Karena itu, figur publik yang mampu menunjukkan keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga dapat menjadi contoh positif bagi masyarakat luas.

Sebagai Menteri Kemendukbangga, Wihaji memiliki peluang besar untuk menghadirkan pendekatan pembangunan keluarga yang lebih humanis dan relevan dengan kebutuhan generasi saat ini. Edukasi tentang pola asuh anak, kesehatan reproduksi, kesiapan pernikahan, serta ketahanan ekonomi keluarga perlu dikemas dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami masyarakat digital. 

Negara juga perlu hadir bukan hanya sebagai regulator, tetapi sebagai pendamping keluarga Indonesia dalam menghadapi perubahan zaman.

Selain itu, pembangunan keluarga tidak dapat dilakukan oleh satu kementerian saja. Dibutuhkan sinergi dengan sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan pemerintah daerah agar program-program yang dijalankan benar-benar berdampak nyata. 

Publik tentu berharap keberhasilan Kemendukbangga tidak berhenti pada slogan, melainkan terlihat dari menurunnya angka stunting, meningkatnya kualitas keluarga, serta lahirnya generasi muda yang sehat dan berkarakter. Sehingga keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya diukur dari banyaknya kebijakan yang dibuat, tetapi juga dari nilai yang ia teladankan kepada masyarakat. 

Dalam konteks itu, Wihaji hadir bukan hanya sebagai menteri, tetapi juga sebagai simbol pentingnya keluarga dalam membangun bangsa. Sebab keluarga yang kuat akan melahirkan masyarakat yang kuat, dan masyarakat yang kuat adalah pondasi utama Indonesia yang maju. 




Penulis : Rika Utari
Editor : ul