Saat Banyak Bicara Kepedulian, Forwaka Sumut Justru Bertindak: Anak Yatim di Berandan Akhirnya Dikhitankan -->

Header Menu

Saat Banyak Bicara Kepedulian, Forwaka Sumut Justru Bertindak: Anak Yatim di Berandan Akhirnya Dikhitankan

Admin Redaksi
Thursday, 1 January 2026

WARTA REPUBLIK.com | BERANDAN – Di tengah derasnya narasi kepedulian yang kerap berhenti di spanduk dan unggahan media sosial, Forum Wartawan Kejaksaan (Forwaka) Sumatera Utara memilih jalan sunyi: bekerja dan memberi tanpa menunggu waktu yang “ideal”.

Usai menyalurkan bantuan bagi korban banjir di sejumlah daerah, Forwaka Sumut kembali hadir di tengah masyarakat kecil. Kali ini, seorang anak yatim di Pangkalan Brandan, Kabupaten Langkat, menjadi bukti bahwa empati tidak harus menunggu anggaran, rapat, atau seremoni.

Sabtu (27/12/2025), pengurus Forwaka Sumut yang diwakili Misnaryadi, S.Psi, membantu pelaksanaan sunat rasul terhadap Abd Aziz (13). Prosesi berlangsung sederhana di rumah orang tuanya di Jalan Medan–Besitang. Tanpa baliho, tanpa pidato panjang—hanya niat dan aksi.

Bagi Aziz dan keluarganya, sunat rasul bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi mimpi yang sempat tertunda akibat himpitan ekonomi. Ayah sambungnya, Syahrial (51), hanya seorang marbot masjid dengan penghasilan yang nyaris cukup untuk bertahan hidup.

Tangis haru pecah dari sang ibu, Rani (45).
“Terima kasih ya Allah, anak kami akhirnya bisa sunat tahun ini. Terima kasih kepada Forwaka yang tidak menutup mata terhadap kondisi kami,” ucapnya dengan suara bergetar.

Aziz sendiri menunjukkan ketegaran dan kegembiraan khas anak-anak.
“Siap, Om. Aziz senang bisa sunat,” katanya singkat, namun sarat makna.

Misnaryadi menegaskan bahwa apa yang dilakukan Forwaka Sumut adalah panggilan nurani, bukan pencitraan. Ia menyentil keras kebiasaan menunda kebaikan dengan dalih keterbatasan.

“Kalau semua menunggu punya lebih dulu baru mau memberi, maka anak-anak seperti Aziz akan terus menunggu. Jangan menunggu ada baru berbagi. Percayalah, Allah SWT selalu mengganti dengan yang lebih baik,” tegasnya.

Menurutnya, wartawan tidak cukup hanya mengabarkan penderitaan masyarakat, tetapi juga harus berani turun tangan ketika negara, sistem, atau kepedulian kolektif belum sepenuhnya hadir.

Aksi Forwaka Sumut ini menjadi tamparan halus bagi banyak pihak: bahwa kepedulian sejati tidak diukur dari besar anggaran atau sorotan kamera, melainkan dari keberanian untuk bertindak—sekarang, bukan nanti.

Reporter: Mhd. Zulfahri Tanjung & Red
Editor: Zulkarnain Idrus