Estafet Kepemimpinan GMNI Halsel Beralih, Yusri Dukomalamo Nahkodai Arah Baru Perjuangan -->

Header Menu

Estafet Kepemimpinan GMNI Halsel Beralih, Yusri Dukomalamo Nahkodai Arah Baru Perjuangan

Admin Global
Monday, 27 April 2026

HALSEL, Wartarepublik.com — Dinamika internal organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Halmahera Selatan memasuki babak baru. Setelah melalui proses evaluasi dan perkembangan situasi organisasi, kepemimpinan yang sebelumnya berada di bawah Hasbin Umsohi kini mengalami degradasi, dan tongkat estafet perjuangan resmi dikomandoi oleh Yusri Dukomalamo.

Perubahan ini bukan sekadar pergantian figur, melainkan bagian dari upaya penyelamatan arah gerakan organisasi agar tetap berpijak pada garis ideologis yang jelas dan progresif. Dalam berbagai forum internal, kader GMNI menilai bahwa stagnasi kepemimpinan tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, karena hanya akan melemahkan daya juang organisasi di tengah realitas sosial yang semakin kompleks.

Yusri Dukomalamo hadir sebagai representasi semangat baru, semangat untuk menghidupkan kembali GMNI sebagai alat perjuangan kaum marhaen, sebagaimana yang dicita-citakan oleh Bung Karno. Kepemimpinan yang diemban bukanlah sekadar jabatan struktural, tetapi amanah ideologis untuk menggerakkan kader menuju kesadaran kritis, keberpihakan pada rakyat, dan keberanian melawan ketidakadilan.

Dalam pernyataannya, sejumlah kader menegaskan bahwa GMNI tidak boleh terjebak dalam rutinitas seremonial tanpa arah. Organisasi harus kembali ke khittah perjuangan: menjadi garda terdepan dalam mengawal kepentingan rakyat kecil, memperjuangkan keadilan sosial, dan menanamkan nilai-nilai nasionalisme yang progresif.

“Perubahan kepemimpinan ini adalah momentum konsolidasi. Kita tidak boleh kehilangan arah. GMNI harus tetap menjadi alat perjuangan ideologis, bukan sekadar organisasi administratif,” tegas salah satu kader dalam forum diskusi internal.

Lebih jauh, kepemimpinan Yusri Dukomalamo diharapkan mampu membangun soliditas kader, memperkuat basis gerakan, serta menghadirkan program-program nyata yang menyentuh kebutuhan masyarakat. Hal ini sejalan dengan ajaran Bung Karno tentang pentingnya keberpihakan terhadap kaum tertindas dan perlawanan terhadap segala bentuk penindasan.

Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, GMNI Halmahera Selatan dituntut untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi aktor utama dalam perubahan sosial. Estafet kepemimpinan ini menjadi penanda bahwa organisasi tetap hidup, bergerak, dan berani melakukan koreksi demi menjaga marwah perjuangan.

Dengan semangat gotong royong dan militansi kader, GMNI Halmahera Selatan di bawah komando Yusri Dukomalamo diharapkan mampu menegaskan kembali posisinya sebagai kekuatan moral dan intelektual yang berpihak pada rakyat setia pada ideologi, teguh dalam perjuangan, dan progresif dalam gerakan. (*)