TERNATE, Wartarepublik.com — Forum Insan Cendikia (FIC) Maluku Utara sukses menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita yang berlangsung di Kantor Pusat Forum Insan Cendikia (FIC) Maluku Utara, Kota Ternate, Sabtu (23/5/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus diskusi kritis bagi generasi muda dalam membedah makna serta pesan yang terkandung dalam film dokumenter tersebut.
Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai kalangan mahasiswa dan pemuda yang terlibat aktif dalam diskusi mengenai persoalan lingkungan, pembangunan, serta dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.
Founder Saloi Halmahera, Djulfikram Isra hadir sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa film tidak hanya hadir sebagai hiburan, tetapi juga menjadi medium untuk membaca persoalan lingkungan yang semakin nyata terjadi di berbagai daerah, termasuk Maluku Utara.
“Film Pesta Babi tidak hanya berbicara tentang Papua, tetapi juga memperlihatkan bagaimana eksploitasi atas nama pembangunan dapat meninggalkan persoalan besar terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat. Jika kita jujur melihat situasi hari ini, Maluku Utara juga sedang menghadapi tantangan yang sama,” ujar Djulfikram.
Ia menilai bahwa kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Maluku Utara seharusnya tidak menjadi alasan untuk mengabaikan aspek keberlanjutan lingkungan.
“Maluku Utara adalah daerah yang kaya, tetapi kekayaan itu tidak akan memiliki arti apabila alamnya terus dieksploitasi tanpa batas. Kita menyaksikan bagaimana aktivitas industri dan pembangunan skala besar mulai memunculkan berbagai persoalan lingkungan. Jika ruang hidup masyarakat terus menyempit, maka pertanyaan besarnya adalah: pembangunan ini sesungguhnya untuk siapa?” katanya.
Djulfikram menambahkan bahwa generasi muda perlu membangun kesadaran kritis terhadap isu lingkungan, sebab kerusakan alam sering kali terjadi secara perlahan namun meninggalkan dampak yang panjang.
“Kerusakan lingkungan tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia hadir secara perlahan; hutan mulai berkurang, pesisir mulai berubah, sumber kehidupan masyarakat mulai terganggu. Karena itu anak muda harus memiliki keberanian untuk membaca situasi dan terlibat dalam upaya menjaga lingkungan,” tambahnya.
Film dokumenter Pesta Babi sendiri mengangkat persoalan eksploitasi hutan dalam skema Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua yang dinilai dilakukan secara masif dan agresif. Film ini memperlihatkan bagaimana pembangunan atas nama negara sering kali meninggalkan pertanyaan besar tentang nasib lingkungan dan masyarakat adat yang hidup di dalamnya.
Sementara itu, Presidium Forum Insan Cendikia (FIC), Bachtiar S. Malawat, menilai bahwa apa yang ditampilkan dalam film tersebut merupakan cermin bagi berbagai daerah lain yang sedang berada dalam arus pembangunan besar.
“Ketika menonton Pesta Babi, sesungguhnya kita tidak hanya sedang melihat Papua. Kita sedang melihat wajah lain dari daerah-daerah yang perlahan kehilangan hutannya, kehilangan ruang hidup masyarakatnya, dan kehilangan masa depannya atas nama pembangunan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Maluku Utara saat ini berada dalam persimpangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.
“Maluku Utara hari ini sedang berada pada persimpangan. Di satu sisi investasi terus masuk, tetapi di sisi lain kita juga menyaksikan ancaman terhadap lingkungan yang mulai muncul. Jangan sampai kita sibuk menghitung nilai investasi, tetapi lupa menghitung kerusakan yang ditinggalkan,” tegasnya. (ul/tim)
.png)