Padahal rakyat tahu persis, fondasi pembangunan besar di Maluku Utara mulai diletakkan pada masa kepemimpinan Abdul Gani Kasuba. Di tengah keterbatasan anggaran dan tantangan geografis, pembangunan infrastruktur mulai bergerak nyata: akses antarwilayah dibuka, jalan penghubung dibangun, jembatan didirikan, hingga daerah-daerah terpencil perlahan disentuh pembangunan.
Pemerintah hari ini tentu berhak melanjutkan dan memperbaiki. Tetapi memperbaiki bukan berarti membangun dari nol. Melanjutkan bukan berarti menghapus siapa yang memulai. Sebab sejarah pembangunan tidak bisa diubah hanya dengan narasi politik.
Warga Maluku Utara, Iswan, menilai masyarakat tidak mudah melupakan jejak pembangunan yang pernah dikerjakan untuk daerah ini. Menurutnya, rakyat menjadi saksi siapa yang bekerja membangun ketika kondisi daerah masih penuh keterbatasan.
“Rakyat ini bukan lupa. Kami tahu jalan-jalan yang sekarang dinikmati itu dibangun sejak era Abdul Gani Kasuba. Pemerintah hari ini silakan melanjutkan dan memperbaiki, tetapi jangan sampai sejarah dipelintir seolah semuanya baru dimulai sekarang,” tegas Iswan.
Ia juga menyebut, menghapus peran pemimpin sebelumnya demi kepentingan politik justru mencederai kejujuran publik.
“Kalau hanya menikmati hasil lalu mengklaim sebagai kerja sendiri, itu tidak adil terhadap sejarah. Masyarakat Maluku Utara melihat dan merasakan sendiri proses pembangunan dari dulu sampai sekarang,” lanjutnya.
Fakta tidak bisa dikalahkan oleh propaganda. Jejak pembangunan tetap hidup di tengah masyarakat Maluku Utara. Rakyat tahu siapa yang membangun di masa sulit, dan siapa yang hari ini menikmati hasil lalu mencoba mengambil seluruh pujian untuk diri sendiri.
Redaksi: Iswan M
.png)