JAKARTA, WartaRepukik. Com
Konferensi pers digelar. Latar spanduk merah putih. Angka triliunan dicetak tebal. “Berhasil selamatkan uang negara Rp17,8 triliun,” kata pejabat A. “Kejaksaan sita aset Rp21 triliun,” kata pejabat B. Tepuk tangan. Kamera menyala. Uang negara kembali.
Kembali ke mana?
Triliunan di Layar, Ribuan di Dompet
Tiap pekan ada judul baru. Korupsi timah Rp300 triliun. Korupsi BTS Rp8 triliun. Korupsi impor Rp2,7 triliun. Semua diklaim “diselamatkan”. Dipamerkan seperti piala. Tapi di pasar, ibu-ibu masih tawar menawar cabai Rp1000. Di kampung, anak masih berangkat sekolah tanpa sepatu. Di puskesmas, pasien masih iuran untuk perban.
Uang triliunan itu nyata. Tapi kesejahteraan rakyat seperti hantu. Dibicarakan, tidak pernah terlihat.
Negara Kaya, Rakyat Kering
Logikanya sederhana. Kalau uang triliunan benar kembali ke negara, kenapa APBN untuk pendidikan dan kesehatan masih ngos-ngosan? Kenapa bansos masih jadi rebutan? Kenapa guru honorer gajinya Rp300 ribu per bulan?
Jawabannya pahit: uang kembali ke negara, tidak otomatis kembali ke rakyat. Negara bisa kaya, pejabat bisa bangga, tapi rakyat tetap diminta sabar. Triliunan itu masuk kas. Dari kas masuk program. Dari program masuk tender. Dari tender? Tanya saja siapa yang dapat.
Pamer Selamatkan Uang, Lupa Selamatkan Orang
Kita hebat bicara angka.
Gagal bicara dampak. Sita aset mewah dipamerkan. Lelang aset disiarkan. Tapi beras yang dibeli rakyat dengan aset itu tetap mahal. Sekolah yang dibangun dari uang sitaan itu tetap kekurangan bangku.
Ini negara atau etalase? Semua dipajang. Hasilnya tidak dirasakan.
Rakyat tidak makan spanduk “Rp17,8 triliun kembali ke negara”. Rakyat makan nasi. Dan harga nasi tidak turun hanya karena koruptor ditangkap.
Triliun Itu Abstrak, Lapar Itu Nyata
Bagi rakyat, Rp1 triliun dan Rp1000 bedanya tipis. Sama-sama tidak ada di tangan. Yang ada hanya tagihan listrik naik, UKT mahal, cari kerja susah.
Jadi stop pamer angka kalau angka itu tidak jadi piring makan. Stop tepuk tangan untuk sitaan kalau sitaan itu tidak jadi seragam sekolah.
Pertanyaannya bukan “berapa triliun yang diselamatkan”. Pertanyaannya:
berapa juta rakyat yang diangkat dari miskin karena triliun itu?
Kalau jawabannya tidak ada, maka semua konferensi pers itu cuma teater. Dan rakyat sudah bosan nonton drama yang sama, dengan judul beda, tapi ending tetap lapar.
Sumber :
Beberapa pers liris Kejaksaan Dan KPK
#Korupsi #Triliunan #Kesejahteraan #APBN #KritikSosial #RakyatMiskin
.png)