Di bawah kaki masyarakat ini, tersimpan cadangan nikel bernilai triliunan rupiah, yang dikelola oleh perusahaan tambang berskala raksasa dan beroperasi tanpa henti siang maupun malam. Aktivitas industri berjalan lancar, mesin-mesin terus berputar, dan pasokan listrik untuk keperluan bisnis tambang senantiasa terjamin. Namun kontras tajam terlihat di lingkungan pemukiman warga: layanan dasar yang paling sederhana sekalipun, yaitu aliran listrik yang stabil, justru menjadi barang langka. Rakyat asli daerah ini harus bertahan hidup dalam keterbatasan, sementara kekayaan bumi tempat mereka tinggal terus mengalir nilainya ke pihak lain.
Muncul pertanyaan mendasar yang menggugah nurani: Di mana letak keadilan di sini?
Seluruh rakyat Indonesia diajarkan dan menghafal Sila Kelima Pancasila: “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Namun dalam kenyataan yang dialami warga Lukulamo hari ini, apakah prinsip itu hanya sekadar tulisan di atas kertas atau lantunan semata dalam upacara kenegaraan ? Bagaimana mungkin tanah yang menghasilkan kekayaan luar biasa besar justru membiarkan penduduknya hidup dalam keterbelakangan dan kemiskinan yang berkepanjangan?
Di manakah makna kemerdekaan yang diperjuangkan bangsa ini?
Apakah kemerdekaan Indonesia sungguh-sungguh dimiliki dan dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat ? Ataukah kemerdekaan ini hanya berarti kebebasan dan kemewahan bagi segelintir pejabat serta pengusaha yang menikmati hasil kekayaan alam daerah, sedangkan pemilik sah tanah ini justru dibiarkan hidup dalam kegelapan, ketidakpastian, dan penderitaan yang tak kunjung usai ?
Kekayaan alam semestinya menjadi berkah yang meningkatkan taraf hidup seluruh warga, bukan berubah menjadi kutukan yang justru memiskinkan masyarakat lokal. Adalah hal yang tidak dapat dibenarkan jika operasi tambang berjalan sukses dan menguntungkan, namun pemerintah gagal menyediakan infrastruktur dasar yang sangat dibutuhkan warga. Ini adalah bentuk ketidakadilan struktural yang memerlukan jawaban tegas dan solusi nyata.
Masyarakat pun menuntut kejelasan atas tiga hal mendasar
1. Mengapa pasokan listrik bisa padam hingga mencapai 40 jam lamanya, padahal wilayah ini berada di lingkar kawasan industri yang memiliki kebutuhan energi sangat besar dan seharusnya didukung sistem kelistrikan yang andal?
2. Ke mana sesungguhnya mengalirnya kontribusi pajak, retribusi, dan manfaat ekonomi lain dari kekayaan nikel ini, jika tidak mampu dirasakan perbaikannya dalam bentuk layanan dasar dan peningkatan kesejahteraan warga setempat?
3. Di mana peran nyata negara dan pemerintah daerah dalam menegakkan perlindungan hak-hak rakyat, dan tidak hanya sibuk mengamankan kelancaran serta kepentingan usaha semata?
Jangan biarkan semboyan keadilan sosial hanya menjadi retorika kosong belaka. Kemerdekaan harus bermakna kesempatan yang setara untuk hidup layak bagi setiap warga negara, bukan kemewahan untuk segelintir orang dan penderitaan bagi mayoritas. Jangan biarkan Halmahera Tengah terus menjadi saksi bisu kenyataan pahit: Tanahnya kaya raya, namun rakyatnya tetap hidup dalam kegelapan dan keterbatasan. (ul/tim)
.png)