Rapat Terbuka Pemerintah dan Masyarakat Dowora Bahas Pengelolaan PLTS Bersama Tim Kementerian ESDM -->

Header Menu

Rapat Terbuka Pemerintah dan Masyarakat Dowora Bahas Pengelolaan PLTS Bersama Tim Kementerian ESDM

Admin Global
Sunday, 7 June 2026

HALSEL, Wararepublik.com - Desa Dowora Kecamatan Gane Barat Selatan, Halmahera Selatan, pemerintah Desa gelar rapat umum bersama masyarakat atas kedatangan dari Tim Pemeriksa Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral turun langsung meninjau Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau PLTS Dowora tim yang terdiri dari Ditjen EBTKE Kementerian ESDM: Gravian Rismaldhy (PPK), Alfian Bangngabua (sekretariat PPK), Nizar Suprayogo (tim humas), Yunus Jihad Oetomo (tim humas), Inspektorat Jendral KESDM: Jerry Alfiardy, Dinas ESDM Provinsi Maluku Utara, Rahmat AH. Baharuddin. Kegiatan berlangsung di tengah kampung dan sistem tanya jawab. pada Sabtu, (6/6/2026).

Kades Dowora Eli Saleh, menyampaikan dalam sambutannya secara singkat menyampaikan terkait dengan penggunaan dan apa sajah yang tidak bisa, agar supaya PLTS ini dia bisa awet, karena PLTS ini beda dengan PLN kalo PLN mau dibuat apa sajah bisa kalo PLTS mungkin ada batasanya kita Bersyukur bisa kase terang torang perumah anak-anak bisa belajar menggunakan penerangan yang ada, karna memang banyak daerah tempat dibangun PLTS kadang 10 tahun lebih ini sudah mulai rusak itu karna kurangnya kesadaran masyarakat. Masyarakat selaku pengguna dan menikmati penerangan itu kurang sadar.

Mungkin apa yang disampaikan oleh petugas maupun kementerian itu kadang diabaikan makanya saat kita abaikan yang terkena dampaknya itu kita sendiri karna mungkin beberapa bulan kemarin dalam pemasangan juga melakukan sosialisasi oleh petugas yang melakukan pemasangan.

"Jadi malam ini istilahnya PO pemeriksaan menyangkut dengan pekerjaan yang dilaksanakan kurang lebih 2 bulan kemarin jadi sebenarnya pemeriksaan ini minggu kemarin. Jadi Pak Rahmat menyampaikan informasi itu setelah Idul Adha kemarin karna ada jug kesiapan tim dari jakarta saat sudah tiba diapan kita di desa Dowora. Dan selamat datang di desa Dowora dari tim SDM," ujarnya.

Dinas ESDM dari Provinsi Maluku Utara Rahmat Hi. Baharuddin, turut menberikan sambutan Bapak, Ibu, dan seluruh masyarakat Dowora yang saya hormati, membangun sebuah fasilitas memang bukan perkara mudah. Namun, yang sering kali lebih sulit adalah menjaga dan memeliharanya agar dapat terus memberikan manfaat dalam jangka panjang.

Sering kali ketika sebuah program atau pembangunan selesai dilaksanakan, perhatian masyarakat masih sangat besar. Namun seiring berjalannya waktu, aspek pemeliharaan kadang mulai terabaikan. Padahal, keberlanjutan sebuah fasilitas sangat bergantung pada kepedulian dan tanggung jawab bersama.

Karena itu, kami berharap adanya kerja sama dari seluruh masyarakat Desa Dowora untuk menjaga dan merawat aset yang telah dibangun ini. Mekanisme pengelolaannya, baik melalui sistem tertentu maupun aturan yang disepakati bersama, tentu dapat diatur oleh pemerintah desa dan masyarakat setempat.

Harapan kami, aset ini dapat bertahan lama dan terus memberikan manfaat bagi masyarakat. Ke depan mungkin akan ada berbagai program pembangunan lainnya, namun untuk saat ini mari kita manfaatkan dan pelihara fasilitas yang sudah ada dengan sebaik-baiknya.

Kita patut bersyukur karena Desa Dowora menjadi salah satu desa yang mendapatkan prioritas pelayanan listrik melalui program ini. Oleh sebab itu, manfaat yang telah diberikan hendaknya dijaga bersama agar dapat dirasakan dalam waktu yang panjang.

Saya juga berharap tanggung jawab menjaga aset ini tidak hanya dibebankan kepada para operator yang jumlahnya hanya dua orang. Seluruh masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya, baik dalam menjaga keamanan fasilitas, kebersihan lingkungan sekitar, maupun memastikan penggunaannya sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

Mari kita jaga bersama-sama agar fasilitas ini tetap awet, berfungsi dengan baik, aman, dan dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh seluruh warga. Demikian yang dapat saya sampaikan. Atas perhatian dan kerja sama seluruh masyarakat, saya ucapkan terima kasih," kata Rahmat.

Alfian Bangngabua, sekretariat PPK turut memberikan sambutannya Bapak, Ibu, dan seluruh masyarakat yang kami hormati, Izinkan kami menyampaikan beberapa hal terkait pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang telah dibangun di desa ini. Mudah-mudahan informasi yang kami sampaikan dapat dipahami dan dimanfaatkan dengan baik oleh seluruh masyarakat.

Pertama, kami bersyukur karena saat ini masyarakat sudah dapat menikmati listrik dari PLTS. Jika sebelumnya penerangan masih terbatas, kini listrik sudah tersedia dengan lebih baik. Kehadiran listrik ini diharapkan dapat membantu aktivitas masyarakat pada malam hari, anak-anak dapat belajar dengan lebih nyaman, serta mendukung mobilitas warga berkat adanya penerangan.

"Tujuan utama pembangunan PLTS ini adalah untuk menghadirkan akses listrik bagi desa-desa di wilayah yang belum terjangkau secara optimal. Meskipun mungkin belum sama seperti listrik di perkotaan yang tersedia melimpah, setidaknya listrik ini dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat," katanya

Desa ini merupakan salah satu lokasi dengan kapasitas PLTS terbesar. Dari total sekitar 18 unit yang dibangun, desa ini mendapatkan kapasitas yang lebih besar karena jumlah penduduk dan rumah tangga yang cukup banyak, sekitar 300 rumah dengan jumlah penduduk kurang lebih 2000 jiwa.

Karena itu, penggunaan listrik juga telah diatur sesuai kapasitas yang tersedia. Setiap rumah tangga diberikan kuota penggunaan listrik sebesar 600 watt per hari, sedangkan fasilitas umum mendapatkan kuota lebih besar, yaitu 2.000 watt, karena digunakan untuk kepentingan masyarakat secara luas.

Setiap rumah telah dipasang fasilitas berupa tiga titik lampu dan satu stop kontak sesuai perencanaan awal. Kami berharap masyarakat tidak melakukan penambahan instalasi secara mandiri karena dapat memengaruhi sistem pembangkit yang telah dirancang berdasarkan kebutuhan desa.

Selain itu, kami mengingatkan agar tidak melakukan bypass atau penyambungan listrik di luar ketentuan yang telah ditetapkan. Tindakan tersebut dapat menyebabkan beban berlebih pada sistem PLTS sehingga umur peralatan menjadi lebih pendek dan berpotensi mengganggu pasokan listrik bagi masyarakat lainnya.

"Bapak dan Ibu sekalian, Saat ini desa telah memiliki dua orang operator yang telah mendapatkan pelatihan dan sertifikasi resmi dalam pengoperasian PLTS. Mereka telah mengikuti pelatihan khusus dan memiliki kemampuan untuk melakukan pengoperasian, pemeliharaan, serta penanganan gangguan dasar pada sistem PLTS," tuturnya

Keberadaan operator ini sangat penting karena secanggih apa pun teknologi yang digunakan, tanpa sumber daya manusia yang memahami cara pengoperasiannya, maka manfaatnya tidak akan optimal.

Selanjutnya, kami juga ingin menyampaikan bahwa keberlanjutan PLTS membutuhkan biaya operasional dan pemeliharaan. Peralatan seperti baterai dan inverter memiliki masa pakai tertentu dan suatu saat perlu diganti. Oleh karena itu, diperlukan partisipasi masyarakat melalui mekanisme iuran atau kontribusi yang disepakati bersama agar sistem ini dapat terus beroperasi dalam jangka panjang.

Kami berharap pengelolaan PLTS dapat dilakukan secara baik dan transparan, sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan selama lima tahun, tetapi dapat berlangsung lebih lama.

Terakhir, kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga aset ini. Karena PLTS merupakan fasilitas milik bersama, maka pemanfaatannya juga harus dilakukan secara tertib dan bertanggung jawab. Kami mendorong pemerintah desa untuk menyusun aturan dan tata tertib penggunaan PLTS, termasuk sanksi bagi pihak yang melanggar ketentuan yang telah disepakati bersama.

Demikian yang dapat kami sampaikan. Mudah-mudahan PLTS ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi seluruh masyarakat dan menjadi sarana untuk meningkatkan kesejahteraan desa. Terima kasih atas perhatian Bapak dan Ibu sekalian," lanjut Alfian saat menutup sambutannya.

Pertanyaan dari Masyarakat Bahar, menyangkut dengan soal perawatan. Nah, kalau menyangkut dengan soal perawatan, misalnya sensitif, misalnya PLTS. Kalau misalnya perawatan, berarti dia menggunakan mesin diesel, contoh seperti oli, minyak solar, di atas tidak ada yang namanya perawatan. 

Yang juga Bapak sampaikan tadi soal yang dimasuk operasional. Jadi ini kami bertanya, apakah dari penjaga PLTS itu, apakah dari Kementerian memberikan operasionalnya gajinya, ataukah dilimpahkan ke masyarakat? Nah, ini pertanyaan kami. Karena menyangkut dengan persoalan program dari Kementerian SDM itu soal pemberdayaan. Desa tertinggal, desa terpencil. Kalau misalnya Bapak inggung menyangkut dengan dilimpahkan ke masyarakat, yang menjadi pertanyaan kami, apakah tidak bertentangan dengan persoalan program Kementerian soal pemberdayaan, menyangkut dengan desa-desa tertinggal, desa-desa terpencil.

Terus yang kedua rumah dengan ukuran itu tidak sama. Kalau semisalnya ukuran rumahnya 6x7, wajarlah menggunakan lampu sebanyak 3 biji. Tetapi di sini ada rumah yang sampai ukurannya 20x20 . Dengan menggunakan lampu tiga biji, berarti yang di belakang itu gelap karena dengan keterbatasan banyak ruangan. Ada ruangan sampai tiga, empat ruangan. Ruangan tamu. 

Mungkin kami masyarakat ingin memperjelaskan lagi, karena yang keterbatasan apa, storm yang diberikan ke setiap rumah itu sama. Terus ada kendaran juga, lampu yang terang itu tidak sama. Contoh ada yang sekarang ini, ada yang jam 5, mati dan ada setengah 6 mati, tidak sama, dia beda. Kalau misalnya jam 5, nyala dan Jam 5 lewatnya sudah mati. Ada yang lain, jam 6, nyala , jam 6 setengah 7, mati. Tidak sama. pertanyaannya, kenapa tidak sama diperlakukan seperti itu? Mungkin ini pertanyaan kami," tanya masyarakat.

Alfian Bangngabua menjawab pertanyaan dari masyarakat Terkait Operasional dan Pemanfaatan PLTS. Terima kasih atas pertanyaan dan masukan yang telah disampaikan oleh masyarakat.

Pertama, terkait biaya perawatan dan operasional PLTS

Perlu kami jelaskan bahwa biaya operasional pada sistem PLTS sebenarnya relatif kecil dibandingkan pembangkit listrik berbahan bakar diesel atau genset. Pada PLTS tidak ada kebutuhan pembelian bahan bakar minyak maupun penggantian oli secara rutin sebagaimana pada genset.

Namun demikian, biaya operasional tetap diperlukan. Salah satunya untuk memberikan insentif atau honor kepada operator dan pengelola PLTS. Mengapa hal ini penting? Karena operator memiliki tanggung jawab untuk memastikan sistem tetap berjalan dengan baik, melakukan pengecekan, menangani gangguan apabila terjadi masalah, serta menjaga keberlangsungan operasional PLTS.

Operator yang telah dilatih dan memiliki kemampuan teknis perlu mendapatkan apresiasi yang layak agar dapat menjalankan tugasnya secara optimal dan berkelanjutan. Jika tidak ada dukungan operasional yang memadai, dikhawatirkan pengelolaan sistem menjadi tidak maksimal dan pada akhirnya berdampak pada pelayanan listrik kepada masyarakat.

Selain untuk insentif operator, biaya operasional juga diperlukan untuk penggantian komponen di masa mendatang. Setiap peralatan elektronik memiliki umur pakai tertentu, termasuk baterai, inverter, dan komponen lainnya pada PLTS. Meskipun masa pakainya cukup panjang, pada saatnya nanti komponen tersebut harus diganti agar sistem tetap berfungsi dengan baik.

Karena harga komponen PLTS cukup tinggi, maka sejak awal masyarakat perlu mulai menyiapkan dana cadangan melalui mekanisme iuran yang disepakati bersama. Dana tersebut dapat dikelola secara transparan dan digunakan ketika diperlukan untuk perawatan maupun penggantian komponen.

Selanjutnya, perlu kami informasikan bahwa setelah pembangunan selesai, terdapat masa pemeliharaan selama enam bulan yang masih menjadi tanggung jawab kontraktor pelaksana. Selama masa tersebut, termasuk pemberian insentif kepada operator masih ditanggung oleh pihak kontraktor.

Namun setelah masa enam bulan berakhir, biaya operasional dan insentif operator tidak lagi ditanggung oleh kontraktor. Oleh karena itu, masyarakat perlu mulai menyiapkan sistem pengelolaan dan pembiayaan sejak sekarang agar keberlangsungan PLTS tetap terjaga.

Kedua, terkait jumlah lampu yang diterima setiap rumah

Pemerintah memberikan fasilitas yang sama kepada seluruh rumah tangga agar manfaat program dapat dirasakan secara merata. Pertimbangan ini dilakukan karena keterbatasan anggaran serta prinsip pemerataan pelayanan kepada seluruh masyarakat penerima manfaat.

Oleh sebab itu, jumlah titik lampu dan kapasitas energi yang diberikan kepada setiap rumah dibuat sama tanpa membedakan ukuran rumah. Dengan cara tersebut diharapkan tidak terjadi kesenjangan pelayanan antarwarga.

Ketiga, terkait perbedaan waktu listrik menyala dan padam

Pada prinsipnya, sistem telah diatur dengan durasi pelayanan yang sama. Apabila ditemukan perbedaan waktu menyala atau padam antar rumah, hal tersebut perlu ditelusuri lebih lanjut bersama operator untuk mengetahui penyebab teknisnya.

Selain itu, perlu dipahami bahwa setiap rumah memperoleh alokasi energi harian yang sama, yaitu sekitar 600 Wh per hari. Namun penggunaan energi di setiap rumah berbeda-beda.

Sebagai contoh, apabila satu rumah menggunakan lebih banyak peralatan listrik seperti kipas angin atau perangkat elektronik lainnya, maka kuota energinya akan habis lebih cepat dibanding rumah lain yang hanya menggunakan lampu penerangan.

Akibatnya, listrik pada rumah dengan konsumsi energi lebih besar dapat padam lebih cepat, sementara rumah lain yang menggunakan energi lebih sedikit masih dapat menikmati listrik hingga pagi hari.

Dengan demikian, perbedaan waktu padam listrik umumnya dipengaruhi oleh pola pemakaian energi masing-masing rumah, bukan karena adanya perbedaan perlakuan dari pengelola.

Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan. Mudah-mudahan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik kepada seluruh masyarakat mengenai pengelolaan dan pemanfaatan PLTS di desa ini.





Penulis: Asrul
Redaksi: Asrul Madra