Jakarta, Wartarepublik.com – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menegaskan bahwa alokasi anggaran sebesar Rp15 ribu untuk setiap porsi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah disusun melalui perhitungan yang matang sehingga tidak akan menurunkan mutu makanan yang diterima para siswa.

Ia menjelaskan, besaran anggaran tersebut sejak awal telah mempertimbangkan seluruh kebutuhan bahan baku utama tanpa mengandalkan komoditas bersubsidi, seperti beras SPHP, minyak goreng Minyakita, maupun LPG 3 kilogram.

Menurut Sudaryono, komponen biaya dalam program MBG lebih banyak dialokasikan untuk bahan pangan utama, seperti daging ayam, telur, serta aneka sayuran yang menjadi sumber gizi bagi peserta didik. Sementara itu, penggunaan minyak goreng hanya menjadi bagian kecil dari keseluruhan penyusunan menu sehingga tidak memengaruhi kualitas makanan.

Ia memastikan kebijakan untuk tidak menggunakan barang subsidi tidak akan berdampak terhadap standar menu yang disediakan di setiap dapur MBG.

BGN, lanjutnya, akan terus mengawasi seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar makanan yang disajikan kepada siswa tetap memenuhi aspek keamanan pangan dan kandungan gizi sesuai ketentuan yang berlaku.

Selain pengawasan internal, BGN juga sedang menyiapkan mekanisme yang memungkinkan masyarakat ikut berpartisipasi dalam mengawasi pelaksanaan program tersebut. Warga diharapkan dapat memberikan penilaian maupun laporan apabila menemukan makanan yang dinilai tidak sesuai standar.

Sudaryono menegaskan bahwa keterbukaan menjadi prinsip utama dalam pelaksanaan MBG karena program tersebut menggunakan anggaran negara. Oleh sebab itu, setiap proses pelaksanaan harus dapat dipertanggungjawabkan kepada publik secara transparan.

Di sisi lain, ia juga menanggapi dugaan kasus keracunan makanan yang menimpa ratusan pelajar di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, setelah mengonsumsi menu MBG. Sudaryono menyatakan pihaknya akan lebih dahulu mengecek perkembangan penanganan kasus tersebut sebelum memberikan keterangan lebih lanjut.

Sebelumnya, sebanyak 211 siswa dari SMP Negeri 1 Kras dan SD Negeri 1 Purwodadi dilaporkan mengalami gangguan kesehatan usai menyantap makanan yang dipasok oleh SPPG Purwodadi.

Kasus serupa juga terjadi di Kota Malang. Program MBG di SDN Kauman 1 untuk sementara dihentikan setelah 33 siswa diduga mengalami keracunan makanan. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, olahan telur yang disajikan diketahui mengandung bakteri Escherichia coli (E. coli) melebihi ambang batas yang diperbolehkan. Akibatnya, distribusi makanan dari dapur penyedia dihentikan sementara hingga proses evaluasi selesai dilakukan.

Redaksi: IL