Oleh: Sitti Ikwa M HI Asidu, Lidyasandra Lumatauw, Nurfaida Duwila, Hanisa Ipa, Yiping Eldiana Maga,
(Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Maluku Utara
Email: yipingeldiana@gmail.com)
Dosen Pembimbing: Hariyanti Djafar, S.Pd.,M.P
Wartarepublik.com - Abstract:
The internship program is a form of learning that provides practical experience for students in developing their competencies as pre-service teachers. This research aims to describe the implementation of the internship program as an effort to develop the competencies of pre-service teachers. The research employs a qualitative descriptive approach, with data collection techniques through observation, documentation, and direct experience during the internship activities. The results indicate that the internship activities provide significant experience in enhancing students' pedagogical, professional, social, and personality competencies. Students gained experience in designing teaching modules for the Merdeka Curriculum, managing classroom learning, understanding student characteristics, and building effective communication with teachers and the school community.
Furthermore, observation and teaching practice activities help students understand the actual conditions of the educational environment, enabling them to connect theories acquired during lectures with field practices. The internship program also serves as a medium for shaping discipline, responsibility, and professional ethics as future educators. Therefore, the implementation of the internship program plays a crucial role in preparing students to become professional and competent teachers. Keywords: Internship program, pre-service teacher competency, English education, elementary school.
Abstrak: Program magang merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa dalam mengembangkan kompetensi sebagai calon guru. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi program magang sebagai upaya pengembangan kompetensi calon guru.
Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi, dan pengalaman langsung selama kegiatan magang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan magang memberikan pengalaman yang signifikan dalam meningkatkan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian mahasiswa. Mahasiswa memperoleh pengalaman dalam menyusun modul ajar Kurikulum Merdeka, mengelola pembelajaran di kelas, memahami karakteristik peserta didik, serta membangun komunikasi yang efektif dengan guru dan warga sekolah.
Selain itu, kegiatan observasi dan praktik mengajar membantu mahasiswa memahami kondisi nyata dunia pendidikan sehingga mampu menghubungkan teori yang diperoleh selama perkuliahan dengan praktik di lapangan. Program magang juga menjadi sarana pembentukan sikap disiplin, tanggung jawab, serta etika profesi sebagai calon pendidik. Dengan demikian, implementasi program magang berperan penting dalam mempersiapkan mahasiswa menjadi guru yang profesional dan kompeten.
Kata Kunci: Program magang, kompetensi calon guru, pendidikan bahasa Inggris, sekolah dasar.
Pendahuluan: Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan sangat dipengaruhi oleh kualitas guru sebagai pelaksana utama proses pembelajaran. Oleh karena itu, lembaga pendidikan tinggi yang menyelenggarakan program pendidikan guru memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian sesuai dengan standar kompetensi guru.
Salah satu upaya yang harus dilakukan oleh perguruan tinggi untuk mencapai tujuan tersebut adalah melalui program magang. Program magang berfungsi sebagai sarana kontekstualisasi makna pendidikan, di mana mahasiswa dapat meninjau implementasi pembelajaran secara kritis dan beradaptasi dengan lingkungan sekolah (Saud, Zuriyati, & Anwar, 2025). Melalui kegiatan magang ini, mahasiswa tidak hanya memahami teori pembelajaran yang diperoleh selama perkuliahan, tetapi juga belajar mengimplementasikan berbagai konsep pendidikan secara langsung di dunia nyata.
Pelaksanaan magang ini memberikan pengalaman kepada mahasiswa dalam mengamati karakter peserta didik, memahami administrasi pendidikan, serta melaksanakan praktik mengajar di bawah bimbingan guru pamong. Pengalaman ini menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam membentuk kompetensi sebagai calon guru yang profesional.
SD Muhammadiyah Kota Ternate menjadi salah satu sekolah dasar yang menjadi mitra Universitas Muhammadiyah Maluku Utara dalam penyelenggaraan program magang ini. Selama pelaksanaan magang, mahasiswa terlibat dalam berbagai kegiatan seperti observasi proses pembelajaran, penyusunan perangkat belajar, pendampingan peserta didik, praktik mengajar, serta kegiatan sekolah lainnya. Pengalaman tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan mengajar, berkomunikasi, bekerja sama, serta menyelesaikan masalah yang ada di lingkungan pendidikan.
Selain meningkatkan keterampilan mengajar, program magang juga menjadi sarana penting untuk pembentukan karakter calon guru. Mahasiswa dituntut untuk memiliki sikap disiplin, tanggung jawab, kemampuan beradaptasi, serta etika profesi dalam menjalankan tugas di sekolah. Kompetensi tersebut sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan di dunia pendidikan yang terus berkembang.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan secara mendalam implementasi program magang sebagai upaya pengembangan kompetensi calon guru. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan evaluatif bagi perguruan tinggi, sekolah mitra, dan mahasiswa dalam meningkatkan kualitas pelaksanaan program magang pada masa yang akan datang.
Metode Penelitian:
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Pendekatan ini dipilih untuk mendeskripsikan secara komprehensif pelaksanaan program magang sebagai upaya pengembangan kompetensi calon guru. Fokus penelitian dititikberatkan pada pengalaman mahasiswa selama mengikuti program magang, mulai dari tahap observasi hingga praktik mengajar. Penelitian dilaksanakan di SD Muhammadiyah Kota Ternate, Kelurahan Toboko, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara. Kegiatan magang berlangsung selama satu bulan.
Data diperoleh melalui tiga teknik pengumpulan data, yaitu:
1. Observasi: Dilakukan untuk mengamati proses pembelajaran, pengelolaan kelas, interaksi antara guru dan peserta didik, serta lingkungan fisik dan sosial di sekolah.
2. Dokumentasi: Meliputi pengumpulan jadwal kegiatan, perangkat pembelajaran, modul ajar Kurikulum Merdeka, serta foto dokumentasi kegiatan selama magang.
3. Catatan Lapangan: Berisi rekaman tertulis mengenai pengalaman, hambatan, dan refleksi mahasiswa secara langsung selama melaksanakan kegiatan magang.
Analisis data dilakukan melalui tiga tahapan sistematis, yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Tahapan ini bertujuan memberikan gambaran utuh mengenai kontribusi program magang dalam meningkatkan kompetensi mahasiswa calon guru.
Hasil Penelitian:
1. Profil SD Muhammadiyah Kota Ternate
SD Muhammadiyah Kota Ternate merupakan sekolah dasar swasta yang berlokasi di Kelurahan Toboko, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate. Sekolah yang berdiri pada tahun 2006 ini memiliki visi mewujudkan warga sekolah yang berilmu, berprestasi, unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, serta beriman dan bertakwa. Dalam penyelenggaraan pendidikannya, sekolah didukung oleh tenaga pendidik profesional dan berfokus pada pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan karakter peserta didik.
Struktur organisasi sekolah didefinisikan dengan jelas, mencakup kepala sekolah, guru kelas, guru mata pelajaran, tenaga administrasi, pengelola perpustakaan, dan komite sekolah. Kondisi tata kelola ini sangat mendukung terciptanya lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didik sekaligus memfasilitasi mahasiswa yang melaksanakan program magang secara optimal.
2. Pelaksanaan Program Magang
Pelaksanaan program magang diawali dengan kegiatan observasi komprehensif terhadap lingkungan sekolah, proses pembelajaran, pola interaksi antara guru dan peserta didik, serta rutinitas aktivitas sekolah. Tahap observasi ini krusial agar mahasiswa dapat memetakan kondisi riil di lapangan sebelum melaksanakan praktik mengajar. Melalui kegiatan ini, mahasiswa mendapatkan kesempatan emas untuk menganalisis karakteristik peserta didik dan menelaah strategi pembelajaran yang diaplikasikan oleh guru kelas.
Pasca-observasi, mahasiswa bertugas menyusun perangkat pembelajaran berupa Modul Ajar Kurikulum Merdeka yang diselaraskan dengan materi ajar. Setelah rancangan tersebut dievaluasi dan disetujui oleh guru pamong, mahasiswa mulai mempraktikkan pengajaran secara langsung di kelas dengan pendampingan intensif.
Selama masa praktik, tanggung jawab mahasiswa tidak terbatas pada penyampaian materi. Mahasiswa dituntut untuk secara aktif mengelola dinamika kelas, menumbuhkan motivasi belajar, mengeksekusi evaluasi pembelajaran, serta menjalin komunikasi timbal balik yang positif dengan peserta didik. Rangkaian aktivitas ini menjadi pilar pengalaman fundamental dalam mempersiapkan transisi mahasiswa menuju profesi pendidik yang seutuhnya.
Pembahasan
A. Pengembangan Kompetensi Pedagogik
Program magang memberikan implikasi yang besar terhadap pematangan kompetensi pedagogik mahasiswa. Peningkatan kompetensi ini terefleksi dari kecakapan mahasiswa dalam memformulasikan desain pembelajaran, menganalisis profil peserta didik, menentukan metode pengajaran yang presisi, serta merumuskan asesmen hasil belajar.
Mahasiswa berlatih menyelaraskan strategi instruksional dengan tingkat kognitif peserta didik guna menciptakan iklim belajar yang partisipatif dan menyenangkan. Pengalaman mengajar langsung memberikan validasi praktis bahwa peserta didik memiliki keunikan karakteristik, sehingga guru harus adaptif dalam menerapkan pendekatan pembelajaran. Kegiatan menyusun perangkat ajar di sekolah magang sejalan dengan kebutuhan analisis interaksi instruksional yang tepat guna menyukseskan implementasi Kurikulum Merdeka di tingkat sekolah dasar (Firdausi, Perez, & Setiawan, 2023).
B. Pengembangan Kompetensi Profesional
Fase magang membuka ruang bagi mahasiswa untuk mentransformasikan pengetahuan teoretis dari bangku perkuliahan menjadi praksis pembelajaran di sekolah. Keterlibatan dalam menyusun modul ajar, merunut penyampaian materi secara terstruktur, serta menakar hasil evaluasi peserta didik secara bertahap meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa. Proses ini sekaligus mendalami pemahaman mahasiswa terhadap integritas dan tanggung jawab yang melekat pada profesi pendidik profesional.
C. Pengembangan Kompetensi Sosial
Selama berada di lapangan, mahasiswa dikondisikan untuk membangun relasi interpersonal yang harmonis dengan seluruh elemen sekolah. Kompetensi sosial ini terasah melalui intensitas komunikasi dengan kepala sekolah, guru pamong, staf kependidikan, serta para peserta didik dalam berbagai agenda sekolah. Kemampuan berdialog secara konstruktif dan menghargai keragaman individu menjadi kompetensi yang terus dimatangkan.
Bagi calon guru sekolah dasar, penyesuaian gaya komunikasi sangatlah penting. Penggunaan diksi yang mudah dicerna, intonasi yang tepat, dan pendekatan yang empatik terbukti ampuh dalam menciptakan atmosfer belajar yang inklusif dan nyaman.
D. Pengembangan Kompetensi Kepribadian
Pembentukan karakter adalah esensi dari kompetensi kepribadian yang dibangun selama program magang. Mahasiswa diekspektasikan untuk memproyeksikan sikap disiplin, akuntabel, jujur, penuh percaya diri, dan pantas menjadi figur teladan.
Indikator kedisiplinan tercermin dari kepatuhan pada tata tertib sekolah, ketepatan waktu hadir dan mengumpulkan tugas, serta keseriusan merancang perangkat ajar. Selain itu, kemampuan manajemen emosi dan kesabaran saat berhadapan dengan dinamika perilaku peserta didik menjadi ujian nyata bagi etika profesi. Pengalaman penguasaan diri ini menjadi aset esensial dalam menapaki karir sebagai guru.
E. Hambatan Selama Pelaksanaan Magang dan Solusinya.
Pelaksanaan magang tidak lepas dari berbagai kendala empiris. Minimnya jam terbang mengajar sering kali memicu rasa gugup (anxiety) pada fase awal mahasiswa memimpin kelas. Lebih lanjut, heterogenitas kemampuan dan karakter peserta didik memaksa mahasiswa untuk berpikir taktis agar seluruh siswa dapat terfasilitasi dalam proses belajar. Terbatasnya ketersediaan sarana atau media pembelajaran di beberapa sesi juga menuntut kreativitas mahasiswa untuk melakukan improvisasi instruksional menggunakan sumber daya yang ada.
Kendati demikian, tantangan tersebut dapat dimitigasi secara efektif berkat supervisi dari guru pamong, bimbingan dosen, kolaborasi dengan sesama mahasiswa magang, serta rutinitas refleksi pasca-mengajar. Mekanisme evaluasi berkala ini terbukti krusial dalam mendongkrak kualitas pengajaran pada pertemuan-pertemuan selanjutnya.
F. Implikasi Program Magang terhadap Kesiapan Guru Masa Depan.
Sintesis dari pelaksanaan magang ini menegaskan dampak positif yang signifikan terhadap kematangan mahasiswa sebagai calon guru. Konvergensi antara teori pedagogis dan praktik lapangan menjembatani celah pemahaman mahasiswa terkait kompleksitas profesi keguruan.
Program ini membuktikan fungsinya sebagai katalisator dalam mempertajam keterampilan merancang skenario pembelajaran, manajemen kelas, komunikasi edukatif, dan evaluasi berkelanjutan. Pada akhirnya, program magang adalah pilar strategis dalam mencetak lulusan program pendidikan guru yang memiliki proporsi kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian yang tangguh dan seimbang.
Kesimpulan
Program magang di SD Muhammadiyah Kota Ternate telah memfasilitasi pengalaman praktis yang bernilai tinggi bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Muhammadiyah Maluku Utara. Melalui tahapan observasi, perencanaan instruksional, praktik mengajar, hingga partisipasi aktif dalam manajemen sekolah, mahasiswa sukses memadukan dan mengembangkan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian secara holistik.
Kegiatan magang ini berhasil meniadakan batasan antara teori akademik dengan realitas lapangan. Berbagai kendala yang muncul selama proses magang justru bermutasi menjadi katalis pembelajaran yang mendorong kapasitas pemecahan masalah, adaptabilitas, dan daya juang mahasiswa.
Mengingat urgensinya, program magang harus terus diperkuat melalui kolaborasi sinergis antara instansi perguruan tinggi dan sekolah mitra, guna memastikan lahirnya generasi pendidik yang berkarakter, berdaya saing, dan siap menjawab dinamika pendidikan di masa depan.
Daftar Pustaka:
Firdausi, A. N., Perez, L. C. D., & Setiawan, T. (2023). Analisis interaksi instruksional dalam implementasi kurikulum merdeka di sekolah dasar. Paradigm: Journal of Language and Literary Studies, 6(1), 45-56.
Saud, J., Zuriyati, & Miftakhulkhairah Anwar. (2025). Contextualization of meaning: Critical discourse analysis of educational internship implementation. International Journal of Integrative Sciences, 4(7), 1709–1726.
.png)