Oleh: Bung Nuel
Halmahera Tengah, Wartarepublik.com – Hulu hingga Muara Kali Kobe, Air yang dulunya bening dan memberi kehidupan bagi warga Desa Lukulamo, kini berubah menjadi keruh kecokelatan layaknya lumpur yang terus mengalir tanpa henti. Seorang Pemuda Karang Taruna, duduk terpaku di tepian Kali Kobe—bukan untuk mengambil air atau mencari ikan, melainkan menatap pilu pada aliran yang sudah rusak parah. (13/7/26)
Ini bukan sekedar air keruh, ini adalah tanda kematian ekosistem yang disebabkan aktivitas industri yang tak bertanggung jawab.
Kenyataan yang tak bisa disembunyikan:
Kali Kobe yang menjadi urat nadi kehidupan desa kini berubah menjadi jalur pembawa limbah. Airnya keruh, berbau tak sedap, dan tak lagi layak dipakai untuk kebutuhan sehari-hari maupun pertanian.
Tak ada lagi ikan yang bisa ditangkap—biota sungai lenyap terbawa racun.
Mata pencaharian warga yang bergantung pada sungai perlahan musnah.
Tanah di sepanjang aliran sungai mulai terkontaminasi, mengancam lahan pertanian dan sumber air bersih warga yang tersisa.
Kerusakan ini merambat sampai ke muara, merusak ekosistem laut dan merampas harapan nelayan pesisir.
Kami tanya :
Di mana tanggung jawab PT IWIP? Di mana pengawasan pemerintah? Aturan perlindungan lingkungan seolah hanya tulisan mati, sementara rakyat harus menelan pahitnya kerusakan yang ditimbulkan.
Kami tegaskan:
Kali Kobe bukan milik perusahaan semata, ia adalah warisan kehidupan bagi masyarakat Desa Lukulamo dan generasi mendatang. Berhentilah merusak
Segera lakukan pemulihan sungai dan ganti rugi seluruh kerugian warga
Jangan biarkan sungai ini menjadi saksi bisu kelalaian yang abadi.
#DesaLukulamoMenjerit #HentikanPencemaran
#Dimana?
#TanggungJawabPerusahaanDanNegara
.png)