Warta Republik | Sri Lanka - ASPEK Indonesia mengirimkan delegasi ke Konferensi UNI Apro Post & Logistics yang digelar pada 26–27 Agustus 2026 di Hotel Hilton Colombo, Sri Lanka. Forum bertema “Rising Together - Delivering the Future” itu menghadirkan sekitar 80 delegasi dari serikat pekerja sektor pos dan logistik di 11 negara Asia Pasifik untuk membahas tantangan transformasi teknologi, perubahan model bisnis, dan dinamika hubungan industrial di sektor tersebut.

Dua pimpinan ASPEK Indonesia hadir mewakili suara pekerja Tanah Air: Teguh Warich Prabowo, Wakil Presiden ASPEK Indonesia Bidang Pengkaderan, Pendidikan dan Pelatihan sekaligus Ketua Pos Logistik Pelabuhan dan Transportasi, dan Suwandi, Wakil Presiden Bidang Hubungan Antar Lembaga. Teguh berasal dari Serikat Pekerja Linfox Logistics Indonesia (SPLLI), sedangkan Suwandi mewakili Serikat Karyawan JICT (SEKAR JICT). 

Kehadiran mereka memperkuat representasi pekerja sektor logistik dan kepelabuhanan Indonesia dalam jaringan UNI Global Union dan UNI Apro.Dalam sambutannya, Deputy President UNI Global Post & Logistics Jens Saverstam menekankan perlunya memperkuat dialog antarserikat pekerja dan menyusun strategi bersama untuk menghadapi kompleksitas perubahan dunia kerja. Menurut Jens, perkembangan teknologi dan perubahan model bisnis membuat persoalan ketenagakerjaan menjadi semakin saling berkaitan antarnegara, sehingga solidaritas lintas batas menjadi kunci.

Cornelia Berger, Head UNI Global Post & Logistics, mengingatkan bahwa teknologi seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat posisi pekerja, bukan instrumen kontrol yang merugikan atau menggantikan peran manusia tanpa mempertimbangkan dampaknya. Berger menegaskan bahwa daya saing industri sebaiknya dibangun melalui inovasi, peningkatan kompetensi, dialog sosial, dan kolaborasi antara pekerja, pengusaha, serta pemangku kepentingan—bukan dengan menekan biaya tenaga kerja.

Menanggapi isu tersebut, Teguh Warich Prabowo menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas pekerja dan organisasi serikat sebagai respons terhadap transformasi teknologi. “Perubahan teknologi dan industri harus diikuti dengan peningkatan kapasitas pekerja. Serikat pekerja tidak boleh hanya merespons; harus mampu membaca perubahan dan mempersiapkan kader yang memiliki pengetahuan serta kemampuan menghadapi masa depan dunia kerja,” ujarnya. 

Teguh menekankan pendidikan dan pelatihan sebagai investasi strategis bagi keberlangsungan gerakan pekerja.Suwandi menambahkan bahwa tantangan yang dihadapi pekerja sektor logistik di Indonesia banyak memiliki kesamaan dengan negara lain, termasuk digitalisasi, perubahan model bisnis, dan tuntutan produktivitas. Ia menekankan bahwa solidaritas internasional bukan sekadar membangun hubungan antarserikat, melainkan alat untuk saling belajar, mendukung, dan memperjuangkan masa depan dunia kerja yang lebih adil.

Director UNI Apro Post & Logistics Akira Kurihara memaparkan perkembangan program organisasi, antara lain penguatan dialog sosial dengan perusahaan multinasional, peningkatan kapasitas serikat melalui pelatihan, serta strategi pengorganisasian dan kampanye. Kurihara juga menyampaikan dukungan solidaritas terhadap pekerja di negara-negara yang tengah menghadapi persoalan kondisi kerja, kekurangan tenaga kerja, pembayaran lembur, dan tekanan terhadap aktivitas serikat.

Bagi ASPEK Indonesia, partisipasi pada konferensi ini menjadi peluang memperluas jejaring, bertukar pengalaman, dan menyampaikan perspektif pekerja Indonesia dalam pembahasan masa depan sektor pos dan logistik. Delegasi menilai bahwa transformasi industri harus diimbangi dengan perlindungan pekerja, peningkatan kompetensi, kepastian kerja, keselamatan, dan kesejahteraan.

Semangat “Rising Together - Delivering the Future” yang diusung forum menegaskan pesan bahwa perubahan teknologi dan industri harus disertai keterlibatan aktif pekerja. Teknologi dan efisiensi tidak boleh menggeser peran dan hak pekerja; kebijakan dan strategi perlu dirancang agar produktivitas dan kesejahteraan berjalan beriringan.